Jayapura, Jubi – Menjadi peneliti atau ilmuwan dan menekuninya selama bertahun-tahun bukanlah pekerjaan yang mudah dan instan. Butuh perjuangan, dana pribadi, serta kemampuan untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kepentingan umat manusia, khususnya di tanah Papua.
Hal ini diungkapkan oleh dosen FMIPA Universitas Cenderawasih (Uncen) dan peneliti I Made Budi, MSc, saat menerima tim magang mahasiswa FISIP jurusan HI dan pelajar SMK Negeri VIII Kota Jayapura bersama Jubi.id di ruang kerja dan laboratorium pribadinya di Waena, Kota Jayapura, Jumat (26/7/2024).
“Saya mulai meneliti sari buah merah (Pandanus Conoideus) sejak masih berkuliah di program pascasarjana jurusan ilmu gizi di Institut Pertanian Bogor. Kebetulan waktu itu saya mengambil penelitian buah merah dengan judul ‘Eksplorasi Kandungan Gizi Buah Merah.’ Karena belum ada buku teks tentang buah merah, saya menjadi orang pertama yang menulis tesis tentang buah merah,” kata Budi, yang kini berusia 65 tahun dan telah memasuki masa pensiun.
Perjalanan Meneliti Buah Merah
Sarjana Biologi dari FMIPA Universitas Hasanuddin Makassar ini menambahkan bahwa sejak itu ia mulai menekuni penelitian tentang buah merah dan selalu mengikuti berbagai seminar ilmiah baik di Indonesia maupun di luar negeri.
“Sejak 2003 hingga sekarang, penelitian tentang buah merah telah berkembang pesat dan banyak diminati. Saya pernah diprotes sebagai penghancur buah merah sampai ada LSM yang marah dan saya dikenai undang-undang. Tetapi ternyata penelitian saya memberikan efek luar biasa bagi masyarakat, sehingga mereka mulai membudi dayakan buah merah,” ujarnya.
Budi menjelaskan bahwa ia terus menekuni teknologi pengolahan buah merah dengan hasil ciptaannya, yang memudahkan warga untuk memanfaatkannya. “Kita buatkan teknologi pengelolaan buah merah yang canggih. Walaupun kita tinggal di Papua yang katanya terbelakang di Indonesia Timur, kita bisa membuat teknologi yang efeknya besar sekali bagi ekonomi,” tambahnya.

Buah Merah: Makanan Khas Papua
Penelitian Budi mengenai buah merah dimulai di pegunungan tengah Papua, khususnya di Wamena. “Mereka yang mengonsumsi buah merah memiliki wajah yang cerah dan sehat. Ini sangat menarik untuk diteliti, terutama kandungan gizinya seperti omega,” katanya.
Selain I Made Budi, penelitian tentang buah merah juga dilakukan oleh dosen FMIPA Uncen, Lisye I. Zebua dan Eko B. Walujo. Penelitian mereka, yang diterbitkan dalam Jurnal Biologi Papua (April 2016) dengan judul “Pengetahuan Tradisional Masyarakat Papua dalam Mengenali, Mengklasifikasi, dan Memanfaatkan Pandan Buah Merah,” menjelaskan bahwa pengelolaan pandan buah merah sangat beragam. Setiap suku memiliki cara berbeda dalam memanen dan mengolahnya.
Suku-suku yang mendiami wilayah dataran rendah di Papua, seperti Suku Hatam di Pegunungan Arfak, Manokwari, dan Suku Mora di Kabupaten Yapen-Serui, memiliki perbedaan dalam mengelola pandan buah merah. Sedangkan suku-suku di dataran tinggi, seperti Suku Dani di Pegunungan Cyclops-Jayapura, di Distrik Kurulu dan Kelila, Jayawijaya, memiliki cara pengelolaan yang hampir sama, meskipun secara geografis mereka sudah terpisah.
Orang Yali di Kabupaten Yahukimo juga mengenal tanaman buah merah ini sejak dulu. “Buah merah ini dipanen pada musim tertentu saja. Bagi suku Yali, khasiat buah merah dipercaya dapat menambah darah dan menjadi obat saat tubuh sakit,” kata Novi Silak, mahasiswa FISIP jurusan HI, saat memberikan penjelasan di laboratorium I Made Budi.
Inovasi yang Memberi Dampak
I Made Budi percaya bahwa Papua adalah “surga kecil yang jatuh ke bumi” karena sumber daya alam yang melimpah. “Jika kita memilih dan menciptakan teknologi dengan baik, masyarakat akan menikmatinya,” ujarnya.
Selain buah merah, Budi juga mengembangkan teknologi pangan lainnya, seperti alat panggang ikan asar, mesin sagu, dan mesin kopi. Inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua melalui pemanfaatan sumber daya alam lokal.
“Walaupun kita tinggal di Papua, kita bisa membuat teknologi yang efeknya besar sekali bagi ekonomi,” tutup Budi, yang betah tinggal di tanah Papua. (*)
Novi Silak, Mahasiswa Magang Jurusan Hubungan Internasional (HI) FISIP Universitas Cenderawasih (Uncen) berkontribusi pada berita ini.





















Discussion about this post