Jayapura, Jubi – Selain menimba ilmu dan berolahraga, para pelajar di Sekolah Guru Aitumeri, Miei, Teluk Wondama, juga mendapat pendidikan seni: belajar bernyanyi, menulis syair, hingga menciptakan lagu. Dari sinilah lahir sejumlah seniman dan musisi asal Teluk Wondama yang kemudian menorehkan sejarah di dunia musik, baik di Papua maupun tingkat nasional.
Mereka di antaranya Celcius Akwan – penulis lagu-lagu Kidung Jemaat; Andy Ayamiseba – manajer legendaris grup Black Brothers; serta musisi-musisi kenamaan seperti Stevie Mambor, Benny Betay, dan Sandy Betay. Mereka adalah generasi yang membawa warna musik Papua ke pentas nasional, bahkan internasional.
Andy Ayamiseba – Manajer Visioner Black Brothers

Andy Ayamiseba, yang lahir di Biak pada 21 April 1947 bersama saudara kembarnya Popie Ayamiseba, merupakan sosok penting di balik kesuksesan Black Brothers. Ayahnya, Dirk Jan Ayamiseba, saat itu bertugas sebagai Bestuur Ambtenaar (Kepala Distrik) di era pemerintahan Belanda dan menikah dengan Dolfina Ayomi Tan, perempuan berdarah Teluk Wondama keturunan Tionghoa.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Andy mengenyam pendidikan di Jayapura – dari SD, SMP hingga SMA Gabungan Dok V (1963–1967). Ia memilih terjun ke dunia bisnis dengan mendirikan PT Bintuni Baru (1967–1975), sebelum kemudian dipercaya menjadi manajer Black Brothers pada 1974, saat usianya 27 tahun.
Di bawah manajemennya, Black Brothers meraih kejayaan: tampil sepanggung dengan AKA Grup di Senayan, memukau publik Jakarta dengan suara emas Hengky Merantoni lewat lagu Soldier of Fortune milik Deep Purple, hingga melambungkan hits seperti “Hari Kiamat” dan “Lonceng Kematian.”
Pada 1977, Black Brothers tampil di GOR Cenderawasih dan di lapangan Gedung GKI Pengharapan Jayapura. Pertemuan Andy dengan Gubernur Irian Jaya, Brigjen H. Soetran, kala itu membuka jalan bagi grup ini untuk tampil di berbagai kota besar Indonesia sebelum akhirnya memutuskan meminta suaka politik ke Belanda pada awal 1980-an.
Andy Ayamiseba wafat pada 21 Februari 2020 di Canberra, Australia, setelah lama sakit di Port Vila, Vanuatu. Ia dikenang sebagai tokoh musik Papua yang melahirkan banyak talenta, termasuk Black Papas, The Coconuts Band, Black List, dan tentu saja Black Brothers yang melegenda di Indonesia dan Pasifik.
Eman Suabey – Pencipta Lagu-Lagu Daerah Wondama
Nama Eman Suabey juga menjadi ikon musik tradisi Wondama. Ia menciptakan lagu-lagu daerah yang populer di kalangan muda Papua, di antaranya “Sasidere Kubiri” dan “Uta Besia,” yang kerap mengiringi tari pergaulan Yosim Pancar.

Syair-syairnya memotret keindahan alam Teluk Wondama dan kehangatan budaya lokal. Lagu Sasidere Kubiri bahkan dipopulerkan ulang oleh Abouwhim pada 2006 dan kemudian direkam dalam format karaoke Wondama berjudul Sowera dan Sasar Wondama.
Stevie Mambor – Drummer Legendaris Black Brothers

Mendiang Stevie Mambor, lahir dan besar di Manokwari, adalah drummer sekaligus vokalis yang menjadi pilar ritme Black Brothers. Bersama Benny Betay, ia merantau ke Jayapura dan bergabung dengan grup-grup lokal seperti Band Bhayangkara dan Band Pemda Irian Jaya, hingga akhirnya direkrut Andy Ayamiseba untuk Black Brothers.
Keunggulannya terletak pada permainan bass drum yang solid dan gaya yang enerjik, menopang karakter musik pop, rock, reggae, hingga keroncong. Lagu-lagu keroncong seperti “Keroncong Gunung Cycloop,” “Keroncong Irian Jaya,” dan “Keroncong Kenangan” menjadi bukti kepiawaiannya.
Stevie juga menjadi mentor bagi banyak musisi muda, termasuk Bimbim Slank, yang mengaku terinspirasi oleh teknik permainannya. Pada 1980-an, bersama Black Brothers, Stevie pindah ke Belanda dan turut memperkenalkan musik reggae di Pasifik Selatan, memengaruhi band-band di Papua Nugini dan Vanuatu.
Stevie Mambor meninggal pada 18 April 2018 di Sydney, Australia, dan dimakamkan di Kampung Susweni, Manokwari Timur, 14 Mei 2018. Ia meninggalkan tiga anak dan seorang istri, serta warisan musik yang dikenang lintas generasi.
Benny Betay – Bassist yang Menyatu dengan Ritme

Benny Betay, lahir di Pulau Roon, Teluk Wondama, adalah bassist andalan Black Brothers yang dikenal berduet serasi dengan Stevie Mambor. Keduanya sama-sama meniti karier dari Manokwari ke Jayapura hingga hijrah ke Jakarta.
Benny memberi warna dalam setiap hentakan bass yang selaras dengan drum Stevie. Ia jarang menjadi vokalis utama, tetapi kerap mengisi backing vocal untuk lagu-lagu hits Black Brothers seperti “Huembello,” “Hari Kiamat,” serta lagu-lagu keroncong yang dibawakan Stevie.
Bersama formasi terbaik Black Brothers, Benny mencatat sejarah: hanya dalam dua tahun (1976–1978) grup ini merilis tujuh album, termasuk satu album rohani bertajuk Christmas Song.
Di era 1990-an, Benny menetap di Sydney, Australia, dan mendukung grup Black Sisters yang dibentuk oleh anak-anak almarhum gitaris Black Brothers, August Rumaropen. Ia pula yang mengantar jenazah Stevie Mambor kembali ke Manokwari pada 2018.
Sandy Betay – Suara Black Papas

Sandy Betay, adik Benny, adalah personel grup Black Papas yang memopulerkan lagu-lagu pop dan reggae Papua. Setelah berkarier di Jakarta, Palembang, hingga tampil bersama grup reggae Abresso dan Asian Root, Sandy kembali ke Papua dan terus berkarya melalui kanal YouTube.
Salah satu lagu yang melejit berkat suaranya adalah “Kasih Katakanlah,” ciptaan John Rahawarin, yang dianggap sebagai salah satu lagu pop Papua terbaik. Hingga kini, meski telah berusia lanjut, Sandy tetap konsisten menyanyikan lagu-lagu pop Papua dan berbahasa daerah, menjadi inspirasi bagi generasi muda musisi Papua.
Para seniman dan musisi ini bukan sekadar penghibur. Mereka adalah penjaga memori dan identitas budaya Papua yang menyeberangkan syair, melodi, dan kisah dari Teluk Wondama ke panggung dunia. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


















Discussion about this post