Jayapura, Jubi – Menjelang perayaan 100 tahun peradaban di Tanah Papua yang jatuh pada 25 Oktober 2025, Jubi menyoroti sejumlah tokoh asal Teluk Wondama, Papua Barat, yang menorehkan jejak penting dalam pembangunan Papua dan Indonesia.
Sejak Injil masuk ke Tanah Papua pada 5 Februari 1855 di Pulau Mansinam, lalu pada 4 Mei 1866 para zendeling membawa kabar sukacita ke Kampung Rasiei, Teluk Wondama mulai menapaki perubahan besar. Pendidikan yang semula berpusat di Pulau Mansinam dipindahkan ke Bukit Aitumeri, Miei, pada 25 Oktober 1925. Di bawah kepemimpinan Direktur Sekolah Guru Miei yang pertama, Dr. Pdt. I.S. Kijne, pendidikan modern lahir: membawa orang Papua beralih dari tradisi lisan menuju budaya baca, tulis, dan berhitung.
“Alasan kami menulis kembali kisah para tokoh ini adalah agar generasi muda di Teluk Wondama tahu bahwa ada putra-putri daerah yang berjasa besar bagi Papua dan Indonesia,” kata Kepala Dinas Kearsipan dan Dokumentasi Kabupaten Teluk Wondama, Eka Woisiri, SPd., MSi., kepada Jubi di Wasior, belum lama ini.
Menurut Eka, pijakan awal pendidikan di Miei menjadi tonggak lahirnya banyak tokoh Wondama yang berkiprah di tingkat nasional. Berikut empat sosok istimewa dari Teluk Wondama.
Brigjen Pol Ajoeb Sawaki – Wakapolda Irian Jaya Pertama dari Papua
Nama Brigjen (Pol) Ajoeb Sawaki tercatat sebagai putra Papua pertama yang menjadi Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Irian Jaya pada akhir 1990-an, di era menjelang reformasi. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Wasior, kemudian melanjutkan ke Manokwari, dan ke SMA Gabungan Jurusan Paspal di Jayapura.
Ajoeb masuk Akademi Kepolisian pada 1965 bersama rekannya sesama anak Papua, Anthon Mote, dan lulus pada 1969 dengan pangkat Letnan Dua Polisi (kini setara Inspektur Polisi Dua/Ipda). Kariernya menanjak, antara lain bertugas di Polda Kalimantan Barat, Polda Kalimantan Tengah, hingga ke Mabes Polri. Pangkat terakhir yang ia sandang adalah Brigadir Jenderal Polisi.
Jurnalis senior Suara Pembaruan, Wolas Krenak, mengenang jasa Ajoeb yang menjamin keamanan wartawan saat meliput kasus monopoli tata niaga jeruk di Pontianak oleh Tommy Soeharto pada era Orde Baru. “Beliau mempertaruhkan jabatannya demi keselamatan kami,” ujar Wolas.
Ajoeb juga dikenal berperan dalam penyelesaian konflik di Manokwari pada akhir 1990-an. Ia wafat di Wasior dan dimakamkan di Depok, Jakarta.
Dr. Daan Ajamiseba – Doktor Pertama dari Papua

Pada 1970-an, belum ada orang Papua yang meraih gelar akademik doktor (S3), hingga muncul sosok Dr. Daniel C. Ajamiseba atau Daan Ajamiseba. Ia meraih gelar doktor bidang Antropologi Linguistik dari University of Michigan, Amerika Serikat, pada 1978.
Daan menamatkan SMA Gabungan di Jayapura, kuliah di IKIP Malang, kemudian melanjutkan studi S2 dan S3 di AS. Ia dikenal sebagai antropolog Papua yang meneliti bahasa-bahasa Austronesia dan Non-Austronesia di Papua, menemukan sekitar 220 bahasa daerah.
Setelah kembali ke Universitas Cenderawasih (Uncen), ia mendirikan Jurusan Antropologi dan memperkenalkan konsep Pendidikan Dasar Dwi Bahasa di Papua. Salah satu mahasiswinya adalah Prof. Dr. Johana Yembise, mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI.
Daan pernah mengajar di National University of Singapore (1988–1998) sebelum akhirnya menetap di AS. Gagasannya tentang pendekatan budaya dan bahasa menjadi warisan penting bagi pendidikan Papua.
Drs. Theo Waimuri – Dubes Pertama Orang Papua

Nama Theo Waimuri mungkin tidak banyak dikenal publik Papua, namun ia adalah orang Papua pertama yang menjadi Duta Besar RI. Theo merintis karier di Kementerian Luar Negeri RI dan ditunjuk sebagai Dubes RI pertama untuk Namibia pada 2000–2003. Ia juga merangkap sebagai perwakilan Indonesia untuk Republik Angola.
Lahir di Dawai, Yapen Timur, pada 8 Mei 1946, Theo mengawali karier sebagai ASN di Biro Kesejahteraan Rakyat Provinsi Irian Jaya sebelum pindah ke Jakarta dan menempuh pendidikan di Universitas 17 Agustus 1945. Ia juga pernah menjadi Ketua Pers Mahasiswa Papua di Jakarta (1964–1973) dan aktif di GMKI.
Drs. Celcius Akwan – Pencipta Lagu Kidung Jemaat Gembala Baik Bersuling Nan Merdu

Celcius Akwan dikenal sebagai komponis gerejawi yang menciptakan lagu “Gembala Baik Bersuling Nan Merdu” yang kini populer di buku Kidung Jemaat (KJ). Lagu ini ditulisnya pada 1984 di kamar kos di Kayu Putih, Jakarta Timur, saat ia menjadi anggota Tim Inti Nyanyian Gereja (TING) Yayasan Musik Gereja (Yamuger).
Akwan lahir di Sentani pada 9 Januari 1946 dan menempuh pendidikan dasar di Jongens Vervolgschool (JVVS) Miei, Teluk Wondama. Ia kemudian meraih gelar Sarjana Sastra Inggris di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga.
Selain Gembala Baik Bersuling Nan Merdu, ia juga menciptakan lagu “Tuhan Datang Segera” dan beberapa lagu gereja lainnya untuk buku Gita Bakti GPIB. Akwan juga menulis buku cerita rakyat berjudul Ditawan Naga (BPK Gunung Mulia, 1991) yang mengangkat mitologi naga dalam budaya masyarakat Roon–Wondama–Biak.
Celcius Akwan meninggal dunia di Jakarta pada 24 Oktober 2024. Karya-karyanya tetap hidup dan menjadi bagian dari khazanah musik gereja di Indonesia.
Tokoh-tokoh di atas hanyalah sebagian kecil dari putra-putri Teluk Wondama yang berprestasi. Masih banyak nama lain seperti pesepak bola legendaris Johanes Auri, Dirk Ajamiseba—Ketua DPRGR Irian Barat sekaligus ayah Andy Ajamiseba, manajer band Black Brother—yang turut mengharumkan nama Papua.
Seperti pepatah, “tak ada gading yang tak retak,” tulisan ini tentu belum sempurna, namun diharapkan dapat menginspirasi generasi muda Wondama untuk mengenal sejarah dan teladan para pendahulunya. (*)




Discussion about this post