Miei, Jubi — Sehari menjelang perayaan Satu Abad Peradaban Orang Papua pada 25 Oktober 2025, sebuah Alkitab tua milik Pdt. Rudolf Beyer—penginjil yang membawa Injil ke Kampung Syabes, Pulau Roon, pada 6 Mei 1867—ikut diarak menuju ruang pameran di Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Teluk Wondama, di Aitumeri, Miei.
Alkitab berusia sekitar 200 tahun itu dibawa menggunakan perahu motor dari Pulau Roon menuju Aitumeri, menempuh perjalanan laut sekitar dua jam. Sebelum tiba di lokasi perayaan, rombongan terlebih dahulu singgah di Kampung Rasiei.
Wakil Bupati Teluk Wondama, A.A. Marani, bersama ratusan warga turut berjalan kaki menuju panggung utama perayaan di Lapangan Aitumeri. Setibanya di lokasi, Alkitab tua itu diserahkan secara simbolis kepada Wakil Ketua I Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Rollo, di atas panggung perayaan Satu Abad Peradaban Papua.

Selanjutnya, Alkitab bersejarah itu akan dipamerkan kepada publik di ruang pameran yang menampilkan kisah para penginjil, termasuk tokoh-tokoh asal Teluk Wondama yang berperan dalam penyebaran Injil di Tanah Papua.
Alkitab peninggalan Pdt. Rudolf Beyer tersebut merupakan aset milik Jemaat GKI Rudolf Beyer di Kampung Syabes, Pulau Roon. Menurut Wakil Bupati Marani, keberadaan Alkitab ini merupakan anugerah berharga yang dapat menjadikan Pulau Roon sebagai tujuan wisata rohani di Teluk Wondama.
Namun, ia menegaskan kembali pesan para penginjil bahwa Alkitab bukan sekadar benda bersejarah, melainkan Firman Tuhan yang harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
“Bukan hanya mendengar, tetapi tampil sebagai pelaku Firman Tuhan dan menjadi anak-anak terang,” ujarnya.
Alkitab tua dari Pulau Roon itu bukan sekadar artefak yang dibawa melintasi laut menuju Aitumeri, melainkan simbol perjalanan panjang iman dan peradaban orang Papua. Dari lembaran-lembaran tuanya tersimpan kisah pengorbanan, perubahan, dan kebangkitan sebuah bangsa yang menerima terang Injil di tepian Teluk Wondama lebih dari satu setengah abad silam.
Kini, ketika perayaan satu abad peradaban orang Papua digelar di bukit Aitumeri, Alkitab itu berdiri sebagai saksi bisu bahwa iman yang ditanamkan di tanah ini telah bertumbuh. Ia menjadi pengingat bahwa panggilan untuk hidup sebagai anak-anak terang masih berlanjut—menyala di hati setiap generasi Papua yang menatap masa depan dengan harapan dan keyakinan pada kasih Tuhan. (*)




Discussion about this post