Nabire, Jubi – Juru Bicara TPNPB-OPM atau Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka, Sebby Sambom menilai, penetapan Malas Gwijangge dalam DPO (Daftar Pencarian Orang) dalam kasus pembunuhan Mr Glen Malcolm Conning, pilot helikopter PT Intan Angkasa Air Service, di Bandara Distrik Alama, Kabupaten Mimika, belum tentu bisa dibuktikan di hadapan hukum.
“Itu mereka [TNI-Polri] hanya berpura-pura menetapkan status DPO kepada anggota kami,” katanya kepada Jubi.id melalui pesan WhatsApp, Selasa (20/8/2024).
Sambom menuduh aparat TNI-Polri menutupi aib dengan cara memberikan status DPO kepada anggota TPNPB-OPM sebagai membunuh pilot helikopter asal Selandia Baru tersebut.
“Pembunuhan pilot New Zealand Glen itu terjadi karena gagalnya koordinasi dan komunikasi antara sutradara, pembuat skenario, dan eksekutor di lapangan, akibatnya eksekusi tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan sehingga sutradara hanya mengungkapkan skenarionya tanpa mengetahui fakta di lapangan. Itulah keajaiban Tuhan untuk mengungkapkan rencana jahat sang sutradara,” katanya.
Sambom juga menduga militer dan polisi Indonesia bekerja sama dengan tenaga kesehatan (nakes) yang menjadi penumpang helikopter.

“Kami dengar hari ini, negara [Indonesia] memberikan penghargaan kepada nakes yang selamat dari Alama. Dengan penyerahan hadiah maka ini adalah misi khusus yang telah berhasil disukseskan oleh nakes sehingga pada tanggal 17 Agustus 2024 diberikan penghargaan,” ujarnya.
Secara logika, kata Sambom, pilot bisa dianggap dijebak oleh nakes, karena nakes yang memakai heli.
“Nakes di Alama dan nakes yang akan ke Alama dari Timika harusnya dituntut karena membahayakan pilot dan tidak memberikan informasi bahaya di Alama, justru pilot dipaksa mendarat,” katanya.
Para nakes, lanjut Sambom, tidak berupaya menyelamatan pilot dan tidak ada perlawanan kepada para pelaku. “Justru nakes membiarkan pilot terbunuh dan mereka dijemput ke Timika. Oleh karena itu, pertanyaannya negara memberikan penghargaan dalam hal apa,” ujarnya.
Informasi yang dihimpun Jubi.id, keempat nakes yang menumpang dengan helikopter yang dibawa Mr. Glen berhasil dievakusi TNI-Polri dari Alama ke Timika sehari setelah kejadian dalam kondisi selamat. Keempat nakes yang bertugas di Puskesmas Alama itu adalah Kolariak Gwijangge (kepala tata usaha), Hasmaya AMd Keb (bidan), Naomi Kambu (gizi), dan Demianus Pakage (perawat).

Keempatnya kemudian diundang Penjabat Gubernur Papua Tengah Ribka Haluk untuk menghadiri upacara HUT RI ke-79 di Nabire dan diberi pengahargaan oleh Pemprov Papua Tengah sebagai bentuk apresiasi, kepedulian, dan perhatian kepada nakes yang bekerja di daerah pelosok dengan risiko berat. Sebelum mengikuti upacara keempatnya juga mengikuti trauma healing pasca kejadian.
TPNPB berkali-kali bantah terlibat
TPNPB melalui juru bicaranya, Sebby Sambom beberapa kali membantah bahwa pasukan TPNPB-OPM terlibat dalam pembunuhan pilot Mr Glen.
Melalui pidato rekaman video yang diterima Jubi.id sebagai lampiran siaran pers yang dikirimkan Sebby Sambom pada Jumat (16/8/2024), tiga pimpinan Komando Daerah Pertahanan (Kodap) TPNPB-OPM juga menyatakan bantahan terlibat dalam pembunuhan pilot Mr Glen di bandara Distrik Alama pada 5 Agustus 2024 tersebut.
Ketiga pimpinan Kodap TPNPB adalah Panglima Kodap III Ndugama Ndarakma Egianus Kogoya, perwakilan Kodap XVIII Puncak Ilaga, dan perwakilan Kodap XXVII Sinak.
“Kami… menyatakan dengan tegas TPNPB tidak pernah melakukan pembunuhan Pilot Glenn Malcolm Conning asal New Zealand. Pembunuhan itu bukan kami dari TPNPB,” kata Egianus Kogoya.
Kogoya menuding pelaku pembunuh Pilot Glenn adalah TNI/Polri, karena sebelumnya pihaknya telah menyampaikan kepada media hendak membebaskan pilot asal New Zealand (Selandia Baru) Philips Mark Martin, beberapa hari kemudian TNI-Polri membawa pilot asal New Zealand Mr Glenn Malcolm Conning ke Alama.
“Kami sudah melacak, ternyata bukan pasukan dari Komandan Operasi dari Sinak, Lekagak Telenggen, komandan Operasi dari Ilaga, atau komandan operasi Nduga Darakma di bawah pimpin saya, Egianus Kogeya,” ujarnya.
Kogoya mengaku pihaknya telah mengutus timnya untuk mengecek langsung ke Distrik Alama, Kabupaten Mimika.
“Kami sudah cek di lapangan, tetapi pelakunya TNI/Polri, jadi tentara Indonesia yang tembak, bukan kami TPNPB OPM,” ujarnya.

Polisi keluarkan DPO berdasarkan olah TKP
Seperti diberitakan Jubi.id sebelumnya, Kepala Satuan Tugas Humas Ops Damai Cartenz-2024 Kombes Polisi Dr Bayu Suseno dalam keterangan pers yang diterima Jubi, Jumat (16/8/2024) mengatakan, olah TKP (Tempat Kejadian Perkara), pengumpulan barang bukti, alat bukti, dan pemeriksaan seluruh saksi terkait kasus pembunuhan pilot Mr Glen Malcolm Conning di Bandara Distrik Alama, Kabupaten Mimika telah selesai dilakukan.
“Berdasarkan hasil penyelidikan, maka identitas pelaku sudah dapat kami ketahui, yaitu Perintah Kola Lokbere alias Malas Lokbere alias Malas Gwijangge, Jeri Wandikbo, Irisim Gwijangge, Jaka Gwijangge, dan Analuk Amisim. KKB [Kelompok Kriminal Bersenjata] ini terdiri dari lima orang dan diduga mereka berasal dari KKB pimpinan Perek Jelas Kogoya yang bermarkas di Yuguru, Kabupaten Nduga,” katanya.
Satgas Humas Ops Damai Cartenz-2024 bersama siaran pers juga melampirkan foto lama pasukan TPNPB-OPM bersama pilot Pilot Susi Air Philip Mark Mehrtens asal Selandia Baru yang disandera sejak 7 Februari 2023. Pria di samping kanan Pilot Mehrtens dilingkari garis kuning dengan tulisan ‘Malas Gwijangge’.
Kombes Bayu mengatakan DPO (Daftar Pencarian Orang) terhadap terduga pelaku tersebut telah diterbitkan dan selanjutnya akan dilakukan upaya penyidikan dan penegakan hukum. Surat Daftar Pencarian Orang yang dikirimkan beserta siaran pers memperlihatkan DPO atas nama Perintah Kola Lokbere alias Malas Lokbere alias Malas Gwijangge ditandatangani Kapolres Puncak Jaya I Komang Budartha SIK pada 14 Agustus 2024. (*)





















Discussion about this post