Jayapura, Jubi – Presiden petahana Pemerintah Otonom Bougainville (ABG), Ishmael Toroama, kembali terpilih untuk masa jabatan kedua setelah meraih lebih dari 90.000 suara dalam Pemilihan Umum Bougainville 2025.
Dalam pernyataannya, ABG menyebut Toroama melewati ambang mayoritas absolut 69.629 suara setelah pemeriksaan kualitas suara rampung. Deklarasi ini menegaskan mandatnya untuk memimpin Bougainville lima tahun ke depan, di tengah masa transisi politik menuju referendum kemerdekaan. Demikian dikutip Jubi.id dari laman RNZ Pasifik, Senin (29/9/2025).
Ketua Komisi Pemilihan Bougainville, Desmond Tsianai, mengatakan kepada RNZ Pacific pada Jumat (26/9/2025) bahwa Toroama “jauh unggul di ketiga wilayah Bougainville.”
Lebih dari 239.000 pemilih terdaftar di wilayah otonom Papua Nugini itu menyalurkan suara mereka, dengan isu kemerdekaan tetap menjadi topik utama.
Menjelang pemungutan suara, Toroama mengaku tidak merasa tertekan menghadapi pemilihan ini. Sesuai konstitusi Bougainville, presiden ABG hanya dapat menjabat maksimal dua periode.
Anak Penginjil Dua Kali Jadi Presiden Bougainville
Lima tahun lalu, Toroama terpilih menggantikan tokoh kemerdekaan Bougainville, John Momis, sebagai presiden periode 2020–2025. Ia menikah dengan Betty dan dikaruniai tiga anak: Dorren, Esau, dan Victor, serta telah memiliki lima cucu.
Toroama mengenang masa kecilnya di Dataran Tinggi Selatan, tempat ayahnya melayani sebagai penginjil.
“Saya dari Desa Roreinang di Central Bougainville. Saya lahir dari orangtua misionaris. Ayah saya bertugas di Distrik Kagua-Erave di Dataran Tinggi Selatan,” ujarnya.
Ia menyelesaikan pendidikan hingga SMP setelah keluarganya kembali ke Bougainville pada 1976, sebelum memutuskan bekerja.
“Saat bekerja, perang Bougainville meletus dan saya memaksakan diri untuk melihat apa yang terjadi di Panguna,” kenangnya.
Perang Bougainville dimulai akhir 1988 ketika Bougainville Revolutionary Army (BRA) mengganggu operasi tambang Panguna. Konflik berlangsung selama 10 tahun hingga gencatan senjata ditandatangani pada April 1998.
Toroama, yang kala itu menjadi salah satu militan Panguna (1988–1990), kemudian terlibat dalam proses perdamaian:
“Pada 1994 saya dipilih mengikuti Konferensi Perdamaian Arawa, 1995 hadir di pembicaraan damai di Cairns, dan pada 1997 dibuat deklarasi untuk memastikan Bougainville berdiskusi dengan Pemerintah PNG tentang penyelesaian masalah politik,” katanya.
Ia juga aktif menghadiri konferensi internasional, memimpin program perdamaian dan pembuangan senjata bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta menjadi salah satu penandatangan Perjanjian Damai Bougainville.

























Discussion about this post