Jayapura, Jubi – Perjuangan atlet putri Woodball Papua dalam Kejuaran Nasional (Kejurnas) 2026, terhenti pada babak perempat final Kejuaraan Nasional Woodball (Kejurnas) Woodball yang berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta pada 6-10 Juli 2026.
Kejurnas ini menjadi ajang seleksi bagi atlet-atlet terbaik Indonesia menuju World Cup Woodball 2026 di Perlis, Malaysia. Tim Woodball Papua hanya mengirimkan dua atlet putri untuk ikut bertanding dalam kerjurnas itu.
“Tunggal putri dan ganda putri Woodball Papua akhirnya berhenti di babak perempat final setelah gagal dari ganda putri Lampung,” kata Ketua Woodball Provinsi Papua, Daniel Womsiwor dalam pesan aplikasinya yang diterima Jubi, Sabtu (11/7/2026) malam.
Menurutnya, hingga kini kompetisi Domestik Woodball Indonesia masih didominasi provinsi dari Pulau Jawa terutama Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung. Sementara Papua, Kepulauan Riau hingga Aceh, datang dari wilayah yang jauh dengan jumlah atlet yang sedikti.
“Meski jumlah atletnya sedikit. Aka tetapi tetap tampil di Kejurnas dengan penuh semangat meski kali ini belum meraih hasil maksimal,” ucapnya.
Womsiwor mengatakan, Woodbal Papua tidak tampil lagi di beberapa Event Nasional 2025, sudah hampir dua tahun setelah PON Aceh dan Sumatera Utara 2024.
“Itu menjadi masalah bagi Papua yang tidak hadir di even Nasional dann itu terbukti dengan tim langganan juara belum bisa ditaklukkan provinsi lain di luar Pulau Jawa,” ujar Womsiwor.
Ia mengakui biaya mandiri belum bisa mendukung tim untuk meraih prestasi yang diharapkan. Sebab biaya mandiri hanya untuk tiket dan akomodasi.
Sedangkan kebutuhan lainnya disesuaikan karena agenda Kejurnas harus diikuti untuk mempertahankan posisi Papua pada peringkat 10 Besar Nasional.
Kejuaraan yang digelar dengan dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini mencatat sejarah sebagai penyelenggaraan Kejurnas Woodball dengan jumlah peserta terbanyak. Ada 223 atlet dari 16 provinsi akan bersaing di 14 nomor kategori prestasi.
Selain itu, Kejurnas juga mempertandingkan kategori pembinaan yang meliputi Kelompok Umur (KU) 12, KU-15, dan KU-18 sebagai bagian dari upaya regenerasi atlet nasional.
Ketua Umum Indonesia Woodball Association (IWbA), Aang Sunadji mengatakan tingginya antusiasme peserta menunjukkan perkembangan cabang olahraga woodball yang semakin pesat di berbagai daerah.
Menurutnya, kebijakan membebaskan biaya partisipasi menjadi salah satu langkah IWbA untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi atlet-atlet potensial dari seluruh Indonesia.
Aang menjelaskan, kebijakan tersebut diambil agar daerah tidak terbebani biaya sehingga dapat mengirimkan atlet terbaiknya, termasuk tim junior.
“Kami ingin memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh atlet untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya,” kata Aang sebagaimana dikutip Jubi dari Kantor Berita Antara.
Provinsi Jawa Timur keluar sebagai Juara Umum Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Woodball 2026 setelah mengumpulkan 10 medali emas, 8 perak, dan 5 perunggu.
Woodball adalah olahraga presisi yang mirip dengan golf, tetapi bola, tongkat pemukul (mallet), dan gawang targetnya (gate) seluruhnya terbuat dari kayu.
Permainan yang berasal dari Taiwan ini bertujuan untuk memasukkan bola ke dalam gawang dengan jumlah pukulan sesedikit mungkin.
Olahraga ini mulai diperkenalkan di Papua oleh Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Cenderawasih (Uncen) sejak PON 2021 di Provinsi Papua. (*)























Discussion about this post