Jayapura, Jubi – Departemen Pelayanan Kasih dan Keadilan Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) Di Tanah Papua melatih para disabilitas di Jayapura, membuat kaki dan tangan palsu. Pelatihan akan dilaksanakan sepekan dan dibuka, Senin (20/7/2026).
Pelatihan berlangsung di kantor Sinode GKI Di Tanah Papua, Argapura, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Provinsi Papua. Ini menjadi langkah awal Sinode GKI membangun layanan rehabilitasi yang dapat diakses masyarakat di Tanah Papua.
Wakil Ketua I Badan Pekerja Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Hiskia Rollo,
mengatakan pelatihan itu tidak hanya diperuntukkan bagi warga GKI. Namun terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang agama.
“Pelayanan ini adalah pelayanan kasih yang tidak terbatas. Bukan hanya untuk warga GKI, tetapi juga bagi masyarakat dari gereja lain maupun saudara-saudara yang membutuhkan kaki palsu, tangan palsu, dan pelayanan kesehatan,” kata Pdt. Hiskia Rollo.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga merupakan rangkaian peringatan Hari Doa Syukur Disabilitas GKI di Tanah Papua, yang pertama kalinya akan diperingati pada 29 Juli 2026.
Pelatihan ini dirancang menggunakan konsep training of trainers (TOT). Peserta tidak hanya belajar membuat alat bantu, tetapi juga dipersiapkan menjadi tenaga terampil yang nantinya akan bekerja di bengkel pembuatan kaki dan tangan palsu milik GKI.
“Setelah pelatihan ini kami akan membentuk bengkel pembuatan kaki dan tangan palsu di bawah Departemen Pelayanan Kasih dan Keadilan Sinode GKI di Tanah Papua. Siapa pun yang membutuhkan datang dan kami akan melayani sesuai kemampuan kami,” ujarnya.
Katanya, untuk mendukung pelatihan tersebut, GKI menghadirkan instruktur dari Solo bernama Kuncoro, yang telah berpengalaman dalam pembuatan alat bantu bagi disabilitas.
Sekretaris Pelayanan Departemen Pelayanan Kasih dan Keadilan Sinode GKI Di Tanah Papua, Pdt. Leonora Balubun mengatakan, program tersebut merupakan upaya menghidupkan kembali pelayanan pembuatan kaki dan tangan palsu yang pernah dilakukan Sinode GKI bekerja sama dengan berbagai pihak beberapa tahun lalu seperti di Sorong ketika itu.
Menurutnya, keberadaan bengkel di Jayapura akan memudahkan disabilitas di Papua mendapatkan alat bantu tanpa harus pergi ke luar daerah, seperti Sorong atau kota lain.
“Kami ingin membangun bengkel pembuatan kaki dan tangan palsu di Jayapura sehingga masyarakat Papua, khususnya disabilitas yang membutuhkan alat bantu, bisa dilayani di sini. Ini akan mempersingkat waktu dan biaya yang selama ini harus dikeluarkan,” kata Pdt. Leonora Balubun.
Katanya, selain melayani kebutuhan masyarakat, pelatihan tersebut juga diharapkan membuka peluang kerja bagi disabilitas.
Peserta yang telah mengikuti pelatihan akan memiliki keterampilan untuk memproduksi alat bantu sekaligus terlibat dalam pelayanan kemanusiaan GKI.
Ia menegaskan bahwa pelayanan tersebut bersifat inklusif dan terbuka bagi siapa saja. Melalui program ini, Sinode GKI di Tanah Papua berharap semakin banyak disabilitas memperoleh akses terhadap alat bantu yang layak sehingga dapat kembali beraktivitas, bekerja, dan menjalani kehidupan secara lebih mandiri.
“Pelayanan ini bukan hanya untuk orang Kristen. Siapapun yang membutuhkan kaki atau tangan palsu dapat mendaftar dan memperoleh pelayanan,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Fisik Indonesia atau PPDFI Provinsi Papua, Roby Nyong mengatakan pelatihan tersebut merupakan langkah nyata gereja dalam membangun kapasitas disabilitas di Papua.
Meski diinisiasi Sinode GKI Di Tanah Papua, kegiatan itu terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama maupun golongan.
“Kami mengapresiasi karena ini merupakan kegiatan pertama di Tanah Papua yang dirintis langsung oleh gereja. Yang lebih penting lagi, pelatihan ini terbuka untuk semua, sehingga siapa pun dapat ikut belajar,” kata Robby Nyong.
Robby Nyong yang ikut dalam pelatihan tersebut menjelaskan, kebutuhan kaki palsu di Papua terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penyandang disabilitas.
Penyebab amputasi tidak hanya berasal dari kondisi bawaan sejak lahir, juga akibat kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, hingga penyakit seperti diabetes.
Menurutnya, selama ini, harga kaki palsu berkualitas dinilai masih sangat mahal. Pada periode 2021–2023, harga satu unit kaki palsu berkisar antara Rp17 juta hingga Rp21 juta, belum termasuk biaya pengiriman dan kebutuhan lainnya.
“Karena itu muncul pertanyaan, mengapa kita tidak membuatnya sendiri di Papua. Pelatihan ini menjadi jawaban agar masyarakat memiliki kemampuan memproduksi kaki palsu secara mandiri,” ucapnya.
Menurutnya, selama ini bantuan kaki palsu umumnya berasal dari luar Papua. Tim hanya datang untuk mengukur pengguna, kemudian proses pembuatannya dilakukan di luar daerah sebelum akhirnya diserahkan kepada penerima. Model tersebut belum mampu menciptakan kemandirian bagi disabilitas di Papua.
Namun katanya, melalui pelatihan yang digelar Sinode GKI Tanah Papua ini, disabilitas dilibatkan secara langsung dalam proses pembuatan prostesis sehingga mereka dapat memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi peluang kerja.
Ia mengatakan, telah berkomunikasi dengan Sinode GKI Tanah Papua untuk membangun kerja sama mendirikan bengkel rehabilitasi dan pembuatan kaki palsu yang akan dipusatkan di Kota Jayapura.
Keberadaan bengkel tersebut diharapkan menjadi pusat layanan prostesis pertama di Tanah Papua sekaligus membuka kesempatan bagi disabilitas untuk berkarya dan membantu sesama.
Ia berharap pemerintah, gereja, dan berbagai pihak dapat terus mendukung upaya pemberdayaan disabilitas melalui pelatihan, pendampingan, dan penyediaan fasilitas.
“Teman-teman disabilitas memiliki kemampuan dan kemauan. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan, dukungan, dan pelatihan. Jika diberikan ruang, mereka pasti mampu menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat,” ucapnya. (*)























Discussion about this post