Sentani, Jubi – Kegiatan Ko-Kreasi Lestari menjadi contoh nyata gerakan lintas komunitas yang memperkuat peran anak muda dalam konservasi lingkungan dan keadilan iklim di Tanah Papua.
Ko-Kreasi Lestari merupakan program yang dibuat lima organisasi muda Papua, yaitu Forum Indonesia Muda (FIM) Regional Jayapura, Kaum Muda Foker Tanah Papua, Papua Trada Sampah, PAM GKI Klasis Sentani, dan Guardian Holo Sentani.
Program Ko-Kreasi Lestari dimulai dengan audiensi dan lokakarya pada 29 Agustus 2025. Kegiatan yang diikuti 30 peserta dari 14 komunitas itu menghadirkan tiga pemateri yang membahas deforestasi, pengelolaan sampah, dan perubahan iklim.
Para peserta kemudian melanjutkan kegiatan dengan enam aksi konservasi di berbagai wilayah di Jayapura.
Aksi pertama pada 6 September 2025 dengan penanaman 30 pohon sagu oleh Sanggar Seni Robongholo. Kemudian dilanjutkan esoknya, 7 September 2025 penanaman 200 pohon bakau oleh Dompet Duafa Volunteer dan Rumah Bakau.
Aksi ketiga digelar 13 September 2025 oleh Earth Hour dengan pengumpulan 210 kilogram sampah di Bukit Tungkuwiri. Aksi keempat pada 20 September 2025 penanaman 200 pohon di Cagar Alam Cycloop.
Aksi kelima pada 27 September 2025 kegiatan Cigi Sampah yang dikoordinir Papua Trada Sampah yang berhasil mengumpulkan 550 kilogram sampah di Holtekamp.
Aksi keenam sekaligus penutup pada 11 Oktober 2025 berupa kegiatan penanaman 200 pohon di area Cagar Alam Cycloop Sentani. Dari keenam kegiatan itu, telah dilakukan penanaman 630 pohon dan mengumpulkan 760 kilogram sampah.
Rangkaian acara Ko-Kreasi Lestari dilanjutkan dengan Workshop Penyusunan Deklarasi Anak Muda Peduli Iklim (API) Papua pada
Workshop membahas tema besar, seperti pencemaran iklim, keadilan iklim dan lintas generasi, transisi energi rendah karbon, keterlibatan pemuda, serta hak adat dan alam Papua.

Workshop diadakan di Rumah Obhe Suku Kalem, Obhe Melam Holokhabam, BTN Sosial Sentani, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, pada Sabtu (18/10/2025).
Koordinator Ko-Kreasi Lestari Farah Arifa mengatakan kegiatan Ko-Kreasi Lestari dirancang agar anak muda dari berbagai komunitas dapat berkolaborasi secara langsung. Kemudian Ko-Kreasi Lestari diintegrasikan API Papua sebagai forum bagi anak muda untuk bersama-sama mencegah risiko perubahan iklim.
“Dari penanaman pohon hingga aksi Cigi Sampah, kami membuktikan bahwa pemuda Papua bisa bergerak nyata,” ujar perwakilan dari FIM Regional Papua itu.
Peserta workshop, Iqbal Kaplele, menyampaikan harapannya agar deklarasi tersebut mampu membuka mata pemerintah terhadap urgensi krisis iklim di Papua. Sebab, katanya, banyak regulasi lingkungan yang belum diimplementasikan
“Gerakan ini penting karena menyatukan suara anak muda, komunitas akar rumput, dan pemuda adat untuk mendorong keadilan iklim. Deklarasi ini juga sejalan dengan yang akan kami bawa ke COP30 di Belém, Brazil,” katanya aktivis pemuda adat itu.
Puncak kegiatan bertajuk ‘Berbagi Api Inspirasi Ko-Kreasi Lestari‘ akan digelar pada 28 Oktober 2025. Pendanaan kegiatan didukungan UNICEF dan Yayasan Sehati Sebangsa Indonesia Rp40 juta.
Staf Perlindungan Anak UNICEF Diana Anggraeni menekankan pentingnya dukungan bagi anak muda Papua dalam isu pembangunan berkelanjutan.
UNICEF, katanya, berkomitmen memberikan dukungan melalui kolaborasi, data, dan fasilitasi agar anak muda bisa bertemu langsung dengan pemerintah.
“Kolaborasi lintas komunitas seperti ini membuktikan bahwa anak muda Papua memiliki peran penting dalam membangun masa depan yang berkelanjutan dan inklusif,” ujarnya. (*)























Discussion about this post