Sentani, Jubi –– Sejumlah pedagang di Pasar Pharaa Sentani, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua mengatakan siap menunggu kehadiran presiden Indonesia yang baru, Prabowo Subianto.
Pernyataan itu disampaikan para pedagang ketika Jubi meminta komentar terkait pelantikan pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2024-2029 di Gedung Nusantara, Jakarta, Minggu (20/10/2024).
Pedagang sayur mayur dan buah di Pasar Pharaa Sentani, Yuliana Ina Mehue berharap lima tahun ke depan Prabowo-Gibran tidak melupakan nasib orang Papua yang hingga saat ini masih membutuhkan bantuan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
“Bapak Prabowo jangan lupa kunjungi kami di Pasar Phara Sentani, pasar ini diresmikan oleh Bapak Jokowi, tetapi hingga saat ini belum ada jaringan listrik yang terpasang,” ujar Ina, sapaan akrabnya, saat ditemui di Pasar Pharaa Sentani, Senin (21/10/2024).
Ina berharap pasar-pasar dadakan serta toko, kios, dan ruko yang menjual bahan-bahan natura di luar pasar segera ditutup.

“Seluruh proses jual beli hasil bahan alam seperti sayur mayur, ubi-ubian, rempah-rempah, daging dan ikan, penjualannya harus terpusat di Pasar Pharaa Sentani, termasuk pedagang yang berjualan dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat,” katanya.
Menurutnya ada belasan kios dan toko yang juga dijadikan seperti pasar. Toko dan kios, tetapi menjual bahan natura seperti sayur mayur, bahan dan rempah-rempah dapur, ikan asin, dan ubi-ubian. Di wilayah Sentani Kota, tambahnya, ada 12 kios atau toko, di bagian Kemiri, Sosial, hingga Doyo Baru juga ada 6 kios dan toko yang menjual bahan natura layaknya pasar.
“Kalau ada tempat jual yang sama seperti apa yang kami jual di Pasar Pharaa otomatis kami akan menunggu pembeli setiap hari dan barang-barang jualan akan tidak laku,” katanya.
Pedagang lainnya, Maria Waren mengatakan, selain perhatian kepada peningkatan ekonomi masyarakat, fasilitas pasar yang telah dibangun oleh pemerintah daerah hendaknya dimaksimalkan untuk kebutuhan seluruh masyarakat.

“Pemerintah daerah juga yang mengizinkan adanya pasar-pasar yang tumbuh dan berkembang melalui ruko, toko, dan kios di daerah ini. Hal ini tentunya berdampak kepada pendapatan kami setiap hari. Kami juga sudah capek menyampaikan hal yang sama kepada pemerintah daerah yang hingga saat ini tidak mampu bekerja secara maksimal,” ujarnya.
Waren mengungkapkan pendapatnya setiap hari berkurang lantaran pembeli yang minim ke Pasar Pharaa. Hampir sebagian besar pembeli ke Pasar Pharaa hanya untuk membeli ikan dan daging, sementara hasil kebun seperti sayur mayur tinggal jadi pajangan saja di lantai pasar dari pagi sampai sore.
“Yang lalu pendapatan kita bisa ada sekitar Rp600 ribu hingga Rp800 ribu setiap hari, kini menjadi berkurang, kadang-kadang untuk ongkos taksi atau ojek pulang dari pasar kembali ke rumah tidak sampai,” katanya.
Kondisi seperti ini, lanjut Waren, sudah berlangsung sejak lama. Bahkan sebelum terjadinya musibah kebakaran di Pasar Pharaa. Menurutnya kondisi dan persoalan tersebut sudah berulang kali disampaikan pedagang kepada Pemkab Jayapura yang datang bersosialisasi di pasar. Juga melalui unit teknis dinas di pasar terbesar di Kabupaten Jayapura tersebut.

“Tapi sampai sekarang tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik. Jadi, kita sangat berharap sekali dalam lima tahun ke depan Bapak Prabowo bisa buat perubahan di pasar ini, karena pemerintah daerah di sini seperti sudah mati suri dan tidak punya perhatian lagi kepada kami sebagai pedagang,” katanya.
Menurut Waren, para pedagang selalu membayar retribusi, namun tidak ada penghargaan yang setimpal diberikan kepada pedagang.
Kepala Pasar Pharaa Sentani Keliopas Mehue mengakui soal fasilitas pendukung lainnya seperti listrik dan air bersih di Pasar Pharaa masih sangat minim.
Ia mengatakan puluhan kios dan lapak di dalam los Pasar Pharaa mengupayakan aliran listrik mereka masing-masing. Terkait retribusi, ia mengatakan hanya retribusi penggunaan los yang dibebankan kepada para pedagang pemilik kios dan lapak.
“Di dalam Los A sampai dengan Los E ada 30 kios dan 25 lapak kecil, sedangkan di luar dari los besar Pasar Pharaa ada 200 kios dan 50 lapak kecil,” katanya.

Menurut Mehue untuk fasilitas penunjang, seperti air bersih sudah tersedia, namun alirannya tidak lancar dan ada tarif retribusi yang dikenakan juga, termasuk penggunaan satu unit kamar mandi. Ia menyebutkan air bersih menggunakan sumur bor. Sebelumnya aliran airnya lancar untuk empat unit kamar mandi, namun kini sudah dalam kondisi rusak dan untuk kamar mandi hanya tinggal satu yang beroperasi.
“Aliran listrik hanya terpasang di Kantor Pasar di lantai dua Los B, sementara los lainnya belum terpasang,” katanya.
Terkait retribusi, Mehue menjelaskan retribusi yang berjalan di Pasar Pharaa ada berbagai jenis, seperti karcis parkir untuk kendaraan roda dua Rp2.000 dan roda empat Rp5.000. Karcis pedagang untuk tempat jualan di lantai sebesar Rp2.000. Air bersih untuk setiap penggunaan Rp2.000. Karcis bagi pemilik kios Rp5.000 per hari. Uang keamanan Rp100 ribu per bulan dan uang kebersihan Rp500. (*)























Discussion about this post