Jayapura, Jubi – Pengacara harian Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia atau YLBHI, Emanuel Gobay, SH, MH mengatakan idealisme Papua akan berubah ketika perut kita dipegang oleh orang lain, akan tetapi idealisme akan terus bertumbuh ketika kita memenuhi perut sendiri.
Hal itu dikatakan Emanuel Gobay selaku pembicara pada seminar dengan topik “Bagaimana peran mahasiswa melihat matinya demokrasi dan darurat militer di Papua” yang digelar solidaritas mahasiswa Papua bertempat di asrama mahasiswa Pegunungan Bintang Jln. Buper Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua pada Sabtu (13/9/2025).
Pernyataan itu kata Emanuel Gobay berdasar pengalaman praktik kolonialisme di tempat lain, dengan mengilustrasikan perut itu berkaitan dengan persoalan makan-minum jadi ketika makan dan minum seseorang itu dikendalikan oleh orang lain, maka secara politik dia akan tunduk pada yang memberikan makan.
“Nah, maksudnya itu dan kalau kita lihat hari ini dengan metode yang dilakukan oleh pemerintah yang memanjakan masyarakat dengan raskin maupun juga dengan dana 1 miliar dipotong 300 juta kurang lebih 700 juta yang masuk ke kampung,” katanya.
Kondisi ini kata mantan direktur LBH Papua itu rupanya bukan untuk memandirikan atau menjadi modal usaha bagi orang di kampung tetapi justru kemudian menjadi alat yang menjadi dominasi kepala kampung itu sendiri. Kepala kampung itu sendiri kemudian menjadi mati ide.
“Kalau contoh mau jadikan dia mandiri secara ekonomi dalam wilayah lahan kebun, ya berarti kan dikasih alat, dikasih bibit, terus dikasih pupuk, juga dikasih modal sama dibangun rantai pasarnya, Kalau itu kan tujuannya untuk mau memandirikan secara ekonomi,” ujarnya.
Namun justru pemerintah hanya kasih uang tanpa ada pengawasan, tanpa ada kelengkapan atau arahan-arahan lainnya, itu secara langsung hanya untuk mau mengendalikan kepala kampung itu secara politik. Karena uang itu menjadi pemasok ekonomi bagi dia, sementara rakyat lainnya mati.

“Dalam konteks itulah yang tadi saya bilang, kalau rakyat hanya kemudian mengharapkan dari itu [pemberian pihak luar] berarti ya otomatis rakyat akan dikendalikan. Jadi kalau situasi itu terus kemudian terjadi yang disayangkan adalah masyarakat itu sendiri,” kata Emanuel Gobay.
Akan berdampak negatif ketika rakyat yang dulunya berkebun itu akhirnya sudah tidak lagi berkebun dikarenakan dimanja uang bersama beras yang dikasih oleh pemerintah.
Dampak buruknya misalnya ketika terjadi jembatan putus atau seumpama terjadi kekacauan dan warung-warung semuanya ditutup, tidak ada uang yang beredar, otomatis kan mereka akan mati kelaparan. Dengan pertimbangan itu, Emanuel Gobay berpesan serta berharap bagi masyarakat yang masih menggarap kebun tetap berkebun supaya perutnya yang sendiri penuhi.
“Secara idealisme kita akan melihat secara baik dan benar mana yang salah dan mana yang benar. Kemudian yang salah kita bilang salah, yang benar kita bilang benar,” ujarnya. (*)
























Discussion about this post