Wamena, Jubi – Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, dan Unit Penyelenggara Bandar Udara atau UPBU Kelas I Wamena Kementerian Perhubungan terus membenahi Bandar Udara atau Bandara Wamena. Kini landasan pacu atau runway bandar udara terbesar di Provinsi Papua Pegunungan itu tengah diperpanjang.
Proyek memperpanjang landasan pacu Bandar Udara (Bandara) Wamena itu berlangsung sejak Juni 2024, dimulai mengerjakan perpanjangan Runway 33 sepanjang 160 meter. Perpanjangan Runway 33 itu kini telah selesai, sehingga landasan pacu Bandara Wamena kini memiliki panjang 2.435 meter.
Pada Jumat (27/9/2024), UPBU Kelas I Wamena bersama Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya mencanangkan pengerjaan perpanjangan Runway 15, tepatnya di arah lapangan Sinapuk, Wamena.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPBU Kelas I Wamena, Rofi Nurdaya mengatakan proyek itu mengerjakan perpanjangan Runway 15 sepanjang 150 meter, dengan lebar 48 meter. Jika proyek itu selesai, maka landasan pacu Bandara Wamena akan bertambah menjadi 2.585 meter.
Saat ini, jenis pesawat terbesar yang bisa mendarat di Bandara Wamena adalah pesawat Boeing 737-300. Jika perpanjangan landasan pacu selesai, Bandara Wamena dapat didarati pesawat berukuran lebih besar, misalnya Airbus A320 maupun Boeing 737-800/900.
“Hal itu sudah dikaji Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua Pegunungan beberapa kali, berkoordinasi dengan UPBU Kelas I Wamena dan Direktora Jenderal Perhubungan Udara. Ke depan, dengan perkembangan Provinsi Papua Pegunungan, Wamena [menjadi] pintu gerbang udara [provinsi itu],” ujarnya.
Rofi menyatakan Kementerian Perhubungan memiliki keterbatasan anggaran untuk meningkatkan fasilitas Bandara Wamena. “Kami bersyukur Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dapat berkolaborasi untuk membangun fasilitas yang ada di Bandar Udara Kelas I Wamena,” ujarnya.
Rofi mengakui tenggat waktu proyek perpanjangan landasan pacu Bandara Wamena singkat, karena proyek itu harus selesai pada Desember 2024. Pembangunan perpanjangan landasan pacu itu pun dikerjakan siang-malam, agar proyek itu selesai tepat waktu.
“Memang kalau waktu normal pasti tidak akan terkejar, namun yang terpenting [pengerjaan perpanjangan landasan pacu secara cepat itu] tidak mengurangi kualitas teknis konstruksi runway itu, sehingga betul-betul dapat menunjang bobot pesawat,” katanya.
Ia menjelaskan kondisi Bandara Wamena memang berada di lokasi yang secara geografis memiliki ruang manuver udara yang sempit. Ruang manuver yang terbatas itu dapat diadaptasi dengan membangun landasan pacu yang lebih panjang.
Rofi menyatakan Kementerian Perhubungan akan terus menunjang pembenahan Bandara Wamena sesuai dengan rencana induk yang telah ada. Kementerian Perhubungan juga tengah membuat kajian keberadaan bukit pasir putih yang menghalangi proses pendaratan pesawat.
“Kami berharap dukungan dari masyarakat pemangku adat hak ulayat [untuk] dapat mendukung program pemerintah, karena [fasilitas Bandara Wamena] akan digunakan bersama oleh seluruh masyarakat di Papua Pegunungan,” katanya.
Penjabat Gubernur Papua Pegunungan, Velix Vernando Wanggai menyatakan anggaran perpanjangan landasan pacu Bandara Wamena itu bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Papua Pegunungan 2024. Proyek itu dibiayai dengan anggaran berkisar Rp17 – 20 miliar.
“Sudah tentu [proyek itu] melalui proses perencanaan yang cukup matang. [Sekarang proyek itu] tinggal proses eksekusi di lapangan. Kami berharap dalam tiga bulan mendatang ada langkah percepatan [pembangunan landasan pacu]. Pihak ketiga dapat melakukan mobilisasi, [menjalankan] mekanisme manajemen proyek yang cepat, mengingat [proyek itu] di tengah kota, perlu diatur pola kerjanya,” kata Wanggai.

Pemerintah menargetkan pengerjaan perpanjangan Runway 15 akan selesai pada akhir Desember 2024. Tambahan landasan pacu itu akan disempurnakan pada awal Januari 2025.
Wanggai menyebut pengerjaan proyek itu merupakan kolaborasi antara Kementerian Perhubungan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya. Menurutnya, proyek itu juga melibatkan sejumlah simpul masyarakat terdampak perpanjangan runway bandara.
“Pembangunan itu sesuai dengan master plan yang sudah disusun oleh Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya sebelum hadirnya Provinsi Papua Pegunungan. Hari ini, [kami] hanya melengkapi peta jalan yang telah didesain oleh pemerintah pusat maupun Pemerintah Kabupaten Jayawijaya,” kata Wanggai.
Kabupaten Jayawijaya sebagai Ibu Kota Provinsi Papua Pegunungan siap memainkan peranan sebagai jantung sekaligus simpul sistem logistik dan konektivitas di Papua Pegunungan. Nantinya, Bandara Wamena akan melengkapi peran bandara di Tanah Papua yang memiliki akses penerbangan nasional, seperti Bandara They Hiyo Eluay Sentani dan Bandara Moses Kilangan Timika.
Penjabat Bupati Jayawijaya, Thony M Mayor mengatakan Kabupaten Jayawijaya mengalami dampak positif atas pembentukan Provinsi Papua Pegunungan. Keberadaan Kabupaten Jayawijaya sebagai ibu kota provinsi baru itu mempercepat pembangunan infrastruktur di sana.
Ia mengajak seluruh masyarakat di Jayawijaya mendukung seluruh pembangunan di daerah itu. Mayor menyatakan Jayawijaya yang terletak di ketinggian rata-rata 1.600 meter di atas permukaan laut harus terus berkemban dan maju seperti daerah lainnya.
“Atas nama masyarakat Jayawijaya, [kami] bersyukur dan berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan juga Kementerian Perhubungan. Sebagai ibukota provinsi, kami butuh pembangunan, karena akses itu harus kami buka dan lancar, sehingga bisa menunjang aktivitas,” kata Thony Mayor.
Jika nantinya Bandara Wamena mampu didarati pesawat yang lebih besar, aksesibilitas Provinsi Papua Pegunungan akan meningkat, karena waktu perjalanan dari luar Tanah Papua menjadi lebih efektif.
“[Jika Bandara Wamena dapat didarati pesawat yang lebih besar, penumpang tujuan ke Wamena] tidak [perlu] lagi singgah di Jayapura. [Perjalanan ke Wamena] jadi efisien [dari segi] waktu. Nantinya juga dapat meningkatkan [kunjungan ke sejumlah] objek wisata, karena akan semakin banyak wisatawan yang datang. Dengan begitu, perekonomian masyarakat juga terbantu,” katanya. (*)























Discussion about this post