Sorong, Jubi – Lembaga Bantuan Hukum-Karya Kita Anak Budak (LBH Kaki Abu) menyatakan siap memberikan pendampingan hukum kepada keluarga tiga anak yang ikut menjadi korban hilangnya Kapal Motor (KM) Aspak 03 di perairan antara Pulau Seram, Maluku Tengah dan Misol, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya pada Sabtu (14/12/2024).
Leonardo Ijie, advokat LBH Kaki Abu kepada Jubi, Jumat (20/12/2024) mengatakan keluarga korban mendatangi LBH Kaki Abu dan meminta bantuan hukum, terutama terkait nasib anak-anak mereka yang masih belum jelas keberadaannya.
Ijie menyebutkan dalam dokumen yang diserahkan keluarga korban kepada LBH Kaki Abu ditemukan fakta bahwa beberapa korban merupakan anak di bawah umur, kelahiran 2007 dan 2008. Mempekerjakan anak di bawah umur, kata Ijie, merupakan pelanggaran hukum. Apalagi jika hal tersebut mengakibatkan kematian.
“Ini persoalan serius, kami akan menuntut pertanggungjawaban perusahaan atas kejadian ini. Kami juga mendesak DPRP untuk memanggil perusahaan guna menjelaskan alasan mempekerjakan anak di bawah umur, serta tindakan keselamatan yang mereka terapkan,” katanya.
LBH Kaki Abu, kata Ijie, juga telah menerima laporan bahwa keluarga korban yang berupaya meminta kejelasan kepada perusahaan pemilik KM Aspak 03 justru menghadapi intimidasi.
“Beberapa dari mereka mengaku diancam dengan senjata api oleh aparat keamanan yang berjaga di perusahaan. Perusahaan seharusnya menerima keluarga korban secara persuasif, bukan dengan ancaman. Perlakuan seperti itu tidak manusiawi, apalagi terhadap keluarga yang sedang berduka,” katanya.
Ijie menyebutkan, LBH Kaki Abu akan segera menyurati DPR Provinsi Papua Barat Daya untuk memanggil perusahaan dan pihak terkait guna memberikan pertanggungjawaban. Selain itu, LBH Kaki Abu juga mendesak lembaga-lembaga terkait, seperti Dinas Tenaga Kerja Provinsi Papua Barat Daya untuk turut mengambil langkah menyelesaikan masalah.
“Kami akan terus mendampingi keluarga korban sampai ada kejelasan dan tanggung jawab dari pihak perusahaan. Ini bukan hanya soal hukum, tapi soal kemanusiaan,” ujarnya.
Leonardo Ijie juga menyoroti sikap kepolisian dan perusahaan yang dianggap tidak peduli terhadap nasib keluarga korban.
“Hingga hari ini tidak ada tanggapan yang jelas dari pihak perusahaan maupun aparat keamanan. Bahkan keluarga korban harus datang dengan bantuan tim SAR untuk menemui kami,” katanya.
Kasus ini, lanjutnya, menambah daftar panjang persoalan keselamatan pekerja di laut, terutama bagi anak di bawah umur yang seharusnya mendapatkan perlindungan hukum lebih ketat.
Berdasarkan data yang diterima LBH Kaki Abu, ketiga anak yang masih dalam pencarian itu adalah Danyela Kilala (17 tahun), Junior Suga Suga (17 tahun), dan Frengky Marting (16 tahun). Ketiganya warga Distrik Sorong Barat, Kelurahan Rufei, Kota Sorong.
“LBH Kaki Abu memastikan akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas,” ujar Ijie.
Tokoh adat, Tua Raja Imeko Nicolas Fatari turut menyuarakan desakan kepada pemilik kapal untuk bertanggung jawab penuh atas keselamatan awak kapal.
“Jangan hanya mencari keuntungan, keselamatan awak kapal harus menjadi prioritas,” katanya.
Hingga Jumat (20/12/2024) sore Tim SAR masih melakukan pencarian korban. Sedangkan keluarga korban masih menanti kejelasan nasib keluarga mereka. KM Aspak 03, kapal penangkap ikan, diinformasikan membawa 17 awak kapal. Dua orang dinyatakan selamat, Feliks Sawori dan Obeth Yensenem. Sedangkan 15 lainnya masih belum ditemukan.
Ke-15 awak yang masih dicari itu adalah (1) Ekman Kanighi (nakhoda kapal), (2) Anis Nuride, (3) Aepner Nuride, (4) Bob Warere, (5) Deki Kapisa, (6) Diki Saidora, (7) Dodi Djabu, (8) Hendrian Yustus, (9) Jekson Mananggel, (10) Maikel Rumambi, (11) Philips Aope, (12) Riko Rumabar, (13) Risno Sangaji, (14) Sepi Bowairi, dan (15) Yosias Awom.
Kepala Kantor SAR Sorong Monce Brury, dikutip dari Antara, Rabu (18/12/2024) menyebutkan pencarian terhadap 15 orang Anak Bah Kapal (ABK) KM Aspak 3 yang tenggelam di perairan antara Pulau Seram Maluku Tengah dan Misol Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya itu diperlebar ke perairan Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Tim SAR Sorong juga mendapat bantuan dari armada KPLP Tual yang melakukan pencarian di perairan Seram.
“Sampai saat ini hasil pencarian masih nihil. Bangkai kapal itu juga sampai saat ini belum ditemukan apakah tenggelam atau hanyut,” ujarnya.
Ia mengatakan pencarian hari pertama hanya menemukan serpihan, coolbox, dan life jacket di tengah laut. (*)






















Discussion about this post