Jelang peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional, Lembaga Bantuan Hukum atau LBH Kaki Abu Sorong menggelar pameran dan diskusi dengan tema Pameran, “Diskusi & Hiburan Membumikan Hak Asasi Manusia di Tanah Papua” yang digelar di Kota Sorong, Papua Barat Daya sejak 7 hingga 10 Desember 2025. Acara ini adalah upaya merawat ingatan kolektif dan mengingatkan negara Indonesia bahwa keadilan bagi korban pelanggaran HAM yang masih jauh dari kenyataan.
Hal itu disampaikan Direktur LBH Kaki Abu Sorong Raya, Leonardo Ijeh di Kota Sorong, Senin (7/12/2025). Peringatan Hari HAM Internasional berlangsung setiap tahun sejak Majelis Umum PBB mengadopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada 1948.
“Pameran HAM yang kita lakukan ini untuk memperingati hari HAM Internasional yang diperingati seluruh dunia, tepatnya puncak di tanggal 10 Desember,” ujarnya
Pameran ini menampilkan sejumlah foto dan dokumentasi kekerasan di tanah Papua, di antaranya rangkaian foto terkait serangan bom molotov terhadap Kantor Jubi di Jayapura, juga dokumentasi kekerasan yang terjadi di berbagai wilayah Tanah Papua, seperti foto foto rumah warga yang dibakar saat operasi militer, potret pengungsian, hingga nama-nama korban yang jatuh di daerah konflik tanpa sensor.
Leonardo menegaskan bahwa seluruh dokumentasi yang dipamerkan bukan sekadar foto dan arsip, tetapi bukti nyata luka panjang yang telah terjadi di tanah Papua sehingga pameran tersebut juga sebagai ruang untuk merawat ingatan publik.
“Foto-foto ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menunjukkan bahwa kekerasan itu nyata, terjadi, dan korbannya adalah rakyat Papua dan Ini harus dilihat supaya negara tidak terus meminggirkan suara korban,” ujarnya
Pameran ini menampilkan banyak dokumentasi dokumentasi berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi di atas tanah Papua dan Ini hasil riset dari berbagai elemen dan organisasi yang selama bertahun tahun bekerja di seluruh tanah Papua jelasnya.
Leonardo juga mengungkapkan bahwa pameran ini juga menjadi ruang untuk menyuarakan kasus kasus yang selama ini ditenggelamkan oleh negara.
“Selain dokumentasi, ada juga beberapa diskusi yang kita gelar di area pameran, salah satunya ‘melawan lupa biak berdarah karena sampai hari ini, korban belum mendapat tempat dalam keadilan,” katanya.
“Di akhir kegiatannya nanti kami menghadirkan direktur media Jubi Papua akan hadir untuk berbagi cerita soal kejadian kebakaran dua unit mobil di kantor media Jubi Papua,” katanya.
Diskusi itu sudah dimulai sejak 7 Desember. “Itu topik pertama yang kita buka dalam pameran ini dan bari ini Pada tanggal 8 Desember,
Diskusi akan dibuka dengan tema Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai menjadi ancaman baru terhadap ruang hidup masyarakat adat Papua.
lalu pada 9 Desember diskusi akan membicarakan pengungsian akibat konflik bersenjata.
“Ribuan pengungsi sampai hari ini belum terurus. Kita mau ingatkan publik, bahwa pengungsi Palestina bisa diurus pemerintah Indonesia, kenapa pengungsi Papua di cueki? Kenapa tidak dilihat sama sekali?” katanya.
Puncak kegiatan pada 10 Desember akan diisi dengan diskusi mengenai kasus penyerangan kantor Jubi menggunakan bom molotov.
“Kami akan hadirkan Direksi Jubi untuk membicarakan satu tahun perjalanan kasus bom molotov Jubi yang sampai hari ini belum ada satu pun pelaku yang ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Leonardo.
Ia menekankan bahwa pameran ini terbuka, dan siapa pun boleh hadir dan menyampaikan persoalannya. “Tidak menutup kemungkinan ada diskusi spontan dari teman-teman yang ingin kasusnya diangkat. Kami sangat terbuka,” katanya.
LBH Kaki Abu juga menyiapkan ruang siaran live streaming agar seluruh diskusi dapat disaksikan publik luas, bukan hanya masyarakat Kota Sorong, tetapi seluruh masyarakat di luar Kota Sorong. (*).





















Discussion about this post