Jayapura, Jubi – Berbagai produk berbahan dasar pangan lokal dihadirkan dalam pameran yang digelar Universitas Ottow Geissler Papua, di Kotaraja, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Rabu (17/12/2025).
Produk berbahan pangan lokal itu di antaranya, olehan buah alpukat dan nanas, sarang semut, betatas (ubi jalar), sagu, buah merah, pisang, ikan, dan sebagainya.
Dekan Fakultas Pertanian, Kehutanan dan Kelautan Universitas Ottow Geissler Papua, Efraim Mangaluk, S.S., M. Hum mengatakan, pihaknya berkolaborasi dengan The Samdhana Institute untuk menggelar pameran yang menghadirkan sekitar 20 stan UMKM, dan merupakan aksi nyata dari seminar, Selasa (16/12/2025).
“Kami merasa bahwa hasil seminar itu tidak begitu berdampak kalau hanya sekedar diseminarkan tetapi harus ada satu aksi yang nyata yaitu dengan memperkenalkan atau mengkampanyekan pangan lokal Papua melalui pameran pangan lokal ini,” kata Efraim Mangaluk di lokasi pameran.
Menurutnya, Universitas Ottow Geissler Papua sebagai lembaga pendidikan mempunyai tanggung jawab mengedukasi masyarakat terkait pangan lokal.
“Kami memberikan dorongan dan semangat kepada generasi muda di Tanah Papua khususnya mahasiswa agar mereka mengerti dan memahami betapa pentingnya mempertahankan identitas kebudayaan mereka yaitu salah satunya adalah dengan menjaga kekuatan pangan mereka,” ucapnya.
Katanya, dalam pameran itu, juga menghadirkan produk UMKM binaan kampus dari Kampung Yongsu Desoyo, Distrik Raveni Rara, Kabupaten Jayapura, Papua yang membawa abon ikan cakalang, keripik pisang, dan sebagainya.
Ketua kelompok UMKM dari Kampung Yongsu Desoyo, Loisa Serondanya (62 tahun) mengatakan, selama ini masyarakat sudah berniat berusaha namun terhalangi akses pemasarannya.
Lewat binaan kampus dan pameran ini, Serondonya berharap masyarakat bisa memperkenalkan produk dari kampungnya dan mampu bersaing.
“Kami tertarik sekali dengan adanya pameran ini. Kami sudah ada hati untuk kami berusaha begitu. Kami diundang [pihak kampus] jadi, kami membuat kripik berbagai rasa dan abon ikan [dalam pameran itu],” kata Serondanya.
Staf UMKM, Foni (52 tahun) mengatakan pihaknya membawa sagu dalam kemasan juga olahan sagu gulung atau yang disebut sinole.
Ia menjelaskan sinole ini berbahan dasar sagu, kelapa, dan gula merah. Cara pembuatannya, sagu dan kelapa dicampur dan dibakar menggunakan teflon, setelah itu diberikan gula merah, lalu digulung.
“Dulu kalau di kampung-kampung itu, kami hanya pakai sagu dan kelapa karena itu yang ada di tempat kami. Hanya saja sekarang ditambahkan gula merah,” ucap Foni. (*)





















Discussion about this post