Jayapura, Jubi — Kabut asap pekat masih menyelimuti Kota Fakfak, ibu kota Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat hingga, Jumat (16/10/2026). Ini merupakan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di tengah musim kemarau berkepanjangan.
Fakfak menjadi daerah dengan wilayah karhutla terluas di Papua Barat dengan area terbakar mencapai sekitar 2.300 hektare dan menyelimuti hingga 17 distrik.
“Iya, kitorang (kami) masih tertutup kabut asap dan sudah mulai turun hujan sedikit-sedikit tetapi udara lembap dan dingin,” kata mantan Wakil Bupati Fakfak Ir. Abraham Sopaheluwakan saat dihubungi Jubi melalui aplikasi pesan singkat, Jumat siang (16/10/2026).
Menurut alumni Fakultas Pertanian Unipa Manokwari itu, akibat tertutup kabut asap, Pulau Panjang di laut Fakfak tak terlihat.
“Hujan sudah turun walau rintik-rintik dan sedikit tetapi cukup sudah membantu,” ucapnya.
Kabut asap mulai menyelimuti Kabupaten Fakfak pada 13 Oktober 2026, pukul 13.00 WP (Waktu Papua). Kabut itu semakin tebal dalam tujuh hari terakhir.
Stasiun Pemantauan Atmosfer Global Sorong pada 10 Oktober 2026 memprakirakan kualitas udara di Kabupaten Fakfak masuk kategori sangat tidak sehat.
Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak membentuk tim krisis di tingkat kabupaten dan distrik untuk memantau kondisi kesehatan masyarakat akibat kabut asap.
Sebelumnya, melalui akun instagramnya Pemerintah Kabupaten Fakfak menjelaskan bawah Bupati Fakfak Samaun Dahlan meninjau langsung lokasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Aregas, Distrik Kokas pada 4 Oktober 2026.
Bupati Fakfak mengapresiasi kerja keras, dedikasi, dan kolaborasi seluruh petugas serta pihak terkait yang terus berupaya menangani dan mengendalikan karhutla.
Ia menegaskan pentingnya sinergi dan kewaspadaan bersama dalam menghadapi karhutla, sekaligus mengajak seluruh masyarakat untuk turut menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Dinas Kesehatan Fakfak telah membentuk Tim Krisis di tingkat kabupaten dan distrik untuk memantau kesehatan warga.
Pihak kepolisian dan kelurahan setempat juga gencar membagikan ribuan masker medis gratis secara berkala kepada pelajar dan masyarakat.
Kebakaran dilaporkan melanda beberapa wilayah, termasuk Distrik Karas (wilayah Malakuli), Distrik Tomage (SP VII), Distrik Bomberay, serta kawasan Aregas di Distrik Kokas.
Dilaporkan pula di Distrik Karas, api bahkan menghanguskan pohon-pohon pala dan tanaman perkebunan milik komoditas warga. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) Kementerian Kehutanan, periode 1 – 6 Oktober 2026 tercatat 199 titik panas di Papua Barat. Kabupaten Fakfak memiliki 76 titik panas. (*)






















Discussion about this post