Jayapura, Jubi — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau WALHI Papua menyatakan kabut yang menyelimuti Kota Jayapura, Provinsi Papua sepekan terakhir adalah asap.
Ini disampaikan Direktur WALHI Papua, Maikel Primus Peuki, di kantornya, Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua, Rabu (13/10/2026).
Maikel Peuki mengatakan, dalam sepakan terakhir cuaca atau atmosfer di Tanah Papua secara khusus di Jayapura dan sekitarnya menunjukkan bahwa adanya kabut asap.
“Ini bukan kabut. Kabut di daerah panas hanya mungkin satu dua jam, tapi ini kan berhari-hari, berjam-jam, jadi situasi seperti ini juga terkena dampak dari perluasan asap,” kata Maikel Peuki.
Menurutnya, hasil investigasi WALHI Papua menunjukkan bahwa hampir delapan ribuan titik api di Tanah Papua bersumber dari wilayah-wilayah yang ada konsesi, ada perusahaan sawit, food estate, dan perusahaan kayu. Dari ribuan api ini membuat asap itu menyebar ke mana-mana.
“Jadi ini [kabut] asap yang meluas di Tanah Papua. Kita lihat sumber asap di Jayapura ini hampir sebagian besar asap dari Boven Digoel, Papua Selatan, itu asap menyebar sampai ke Jayapura,” ucapnya.
Katanya, wilayah kebakaran paling banyak dan paling tinggi ada di Provinsi Papua Selatan, dan asapnya itu menyebar ke wilayah Tanah Papua yang lain.
Namun pihaknya tidak menyangkal kemunculan kebakaran di daerah-daerah lain seperti di Biak, Sorong, Jayapura, dan lainnya. Dalam beberapa kasus kebakaran lahan, diduga ada oknum yang sengaja membakar.
“Kita melihat ini pengalihan isu yang dibuat oleh kelompok-kelompok tertentu untuk tidak melihat PSN itu sebagai akar masalah sehingga titik-titik api itu muncul sebelum di daerah-daerah lain. Entah itu dilakukan sengaja oleh pihak tertentu untuk membakar dan lain-lain,” ucapnya.
Ia mengatakan, Provinsi Papua Selatan menjadi titik awal kebakaran, dan tahun ini skalanya lebih besar ketika terjadi deforestasi di sana.
“Karena sebelumnya terjadi kebakaran tapi tidak separah ini,” kata Maikel Peuki.
Sebelumnya, Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura, Naufal Rieki menjelaskan berdasarkan hasil pemantauan BMKG pada 9–11 Oktober 2026, terdeteksi adanya titik panas (hotspot) di wilayah Kota Jayapura serta Kabupaten Jayapura dan sekitarnya, yakni di Distrik Gresi Selatan, Kabupaten Jayapura.
Sementara itu, berdasarkan penampakan citra satelit Himawari pada 9-11 Oktober 2026, sebaran kabut asap terpantau di sejumlah wilayah Papua, termasuk Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura.
“Ini disebabkan oleh adanya sebaran partikulat yang berada di udara akibat keberadaan massa partikulat hasil pembakaran bahan organik seperti kebakaran hutan dan lahan yang bersumber dari wilayah utara Papua Nugini oleh angin yang bertiup ke arah barat, barat laut menuju Kota/Kabupaten Jayapura,” ujar Naufal Rieki, Senin (12/10/2026).
Naufal mengatakan, selain itu dijumpai pula adanya karhutla yang terpantau pada 11 Oktober 2026 di lereng bukit wilayah Doyo Baru, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura.
Kombinasi kedua peristiwa ini disebut menyebabkan kondisi udara dalam periode tersebut menjadi kabur akibat terbentuknya akumulasi partikulat yang tipis di dekat permukaan.
Ia mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan hotspot pada 11 Oktober 2026 pukul 02.00 WP (Waktu Papua) – 12 Oktober 2026 pukul 02.00 WP, terpantau sebanyak 7.991 titik hotspot di seluruh wilayah Papua.
Secara umum kata Naufal Rieki, sebaran hotspot paling banyak terpantau di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, yaitu 4.910 titik, diikuti Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan dengan 1.132 titik, dan Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat 724 titik. (*)


















Discussion about this post