Nabire, Jubi – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR Papua Tengah dari Kelompok Khusus alias jalur pengangkatan, Jhon NR Gobai mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi atau Pemprov Papua Tengah dan Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Paniai, Dogiyai dan Deiyai mengenai listrik tidak bergantung terus pada Bahan Bakar Minyak (BBM) saja, tapi dipikirkan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) untuk Mewujudkan Provinsi Mandiri Energi.
Jhon Gobai menjelaskan untuk ketiga kabupaten tersebut berada di tepi danau dan sungai. Ia mengusulkan agar dibangun PLTA.
“Kalau ada sumber energi air untuk listrik, kenapa kita tidak berpikir membangun PLTA, tapi masih tergantung dengan BBM dan PLTD. Di beberapa kabupaten di Papua Tengah terdapat sejumlah danau, sungai dan air terjun yang bagus yang dapat dijadikan sumber energi untuk menghasilkan tenaga listrik jika dibangun PLTA,” kata Gobap di Nabire, Papua Tengah, Jumat (22/8/2025).
Jhon menyebutkan potensi Danau Paniai, Danau Tigi dan Danau Tage, sungai Mapia, Kilo 100, Sungai di KM 171 di Jalan Nabire-Ilaga, Kali Bumi, Danau Paniai, air terjun Bihewa dan sebagainya.Tentu saja terlebih dahulu dilakukan survei.
Menurutnya bencana itu akan ada terus, sehingga harus ada alternatif lain yang mesti dipikirkan. Listrik tidak harus bergantung pada BBM yang sangat bergantung dengak akses jalan darat.
“Untuk akses utama jalan darat dari Nabire ke Kabupaten Paniai, Dogiyai, Deiyai, Puncak, Intan Jaya, Puncak Papua itu satu. Jika jalan itu yang longsor atau jembatan roboh otomatis BBM tidak bisa di kirim maka tentu PLTD tidak bisa menyala. Bila menggunakan pesawat, berapa dana yang harus kami siapkan? Bila menggunakan PLTD, berapa dana tiap tahun kita dianggarkan dari APBD untuk pengadaan BBM?” ujarnya Gobai.
Anggota DPR dari mekanisme pengangkatan itu mengusulkan juga membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bergerak di sektor ketenagalistrikan sesuai dengan UU No 23 Tahun 2014. BUMD itu dalam bentuk Perusahaan Perseroan Daerah (Perseroda) agar beberapa kabupaten ini dengan badan usaha seperti PLN atau Badan Usaha Milik Swasta (BUMS).
“BUMD tentu dibentuk dengan Peraturan Daerah atau Perda tentang Penyertaan Modal agar modal yang disetor baik berupa dana dan peralatan dapat dihitung sebagai persentase saham. Sehingga hasil penjualannya dapat dibagi antara PLN dengan beberapa Pemkab yang dapat dijadikan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD) beberapa Kabupaten,” katanya.
Gobai menegaskan, untuk itu Pemerintah perlu memikirkan pembangunan PLTA. Pemerintah bila ingin membangun bicaralah baik dengan masyarakat pemilik tanah. Ia juga berpesan kepada masyarakat bahwa listrik atau penerangan adalah kebutuhan bersama sehingga bila pemerintah bangun PLTA jangan dihambat tapi perlu didukung.
Frater TOPER yang sedang menjalani Masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Petrus Mauwa-Dogiyai, Siorus Degei menjelaskan akibat longsor yang hebat di kilo 139 Jalan Trans Nabire-Paniai yang menghubungkan tujuu kabupaten itu transportasi lumpuh total. Longsor tersebut menutup badan jalan hingga kisaran empat kilometer lebih . Jalan tertimbun material sehingga tidak bisa dilalui pengendara motor dan mobil.
“Akses jalan yang menghubungkan terutama tiga kabupaten terputus, akibatnya mobilisasi di Kabupaten Dogiyai, Deiyai, dan Paniai mogok untuk beberapa hari. Dampaknya juga kabupaten lainnya juga. Ini krisis paling mendasar itu adalah kekurangan daya listrik, melemahnya daya jaringan internet, dan krisis bahan bakar pokok solar, bensin, dan minyak tanah,” ujarnya.
Frater Siorus mengatakan dalam beberapa hari terakhir ini, dari pagi sampai malam listrik dipadamkan. Listrik menyala hanya pada malam hari.
“Karena itu, kami usulkan bangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) untuk setiap kabupaten, bukan dipusatkan di satu kabupaten. Dan Jangan hanya mengandalkan BBM sebagai Pembangkit Listrik tapi pemerintah harus pikir yang lain lagi supaya hak masyarakat memperoleh listrik 24 jam itu tidak terganggu,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa jalan Trans, terutama di titik-titik yang rawan longsor, seperti kalo139, 141, 171, dan lain-lain. Karena itu perlu juga dipikirkan alternatif jalan Trans lain selain jalan yang ada, misalnya Jalan Trans Nabire-Mapia-Dogiyai lewat Topi, Dipa, Menou dan sekitarnya tembus Distrik Mapia Tengah dan Mapia Barat.(*)























Discussion about this post