Jayapura, Jubi – Sebanyak 14 musisi muda Indonesia peserta ajang Temu Seni Musik di Papua terkesan dengan koleksi benda-benda seni budaya Papua di Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura.
Mereka juga terkesan dengan penjelasan tentang sejarah Papua dan latar belakang di balik koleksi-koleksi di museum tersebut.
Setelah seminggu berada di Papua, mereka mengakhiri rangkaian program dengan mengunjungi Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih itu.
Peserta Temu Seni, Halida Bunga Fisandra mengatakan sangat luar biasa koleksi benda-benda seni budaya dari berbagai suku di Papua bisa dijumpai di museum itu.
Ini menunjukan kebudayaan Papua sangat khas dan memiliki makna masing-masing yang dapat dilihat dari koleksi yang ada, baik itu perangkat alas tidur, maupun tombak, perisai, ukiran, dan lainnya.
“Saya secara singkat dan secepatnya berusaha mencerna semuanya dan pengenalan ini mempunyai kesan yang mendalam terkait mitos dan kepercayaan leluhur-leluhur di Papua,” ujar Halida kepada wartawan di Kota Jayapura, Sabtu (16/7/2022).
Peserta Temu Seni lainnya, Wahyu Thoyyib Pambayun mempunyai kesan yang sama. Menurutnya melalui koleksi seni budaya tersebut menunjukan bangsa Papua yang telah hidup berabad-abad mampu berkreasi demikian indah yang belum tentu dapat dibuat oleh manusia sekarang.
Wahyu tertarik dan terpukau kepada Mbis, koleksi patung leluhur orang asmat yang punya standar estetika yang tinggi. Menurutnya musik tersebut memiliki tingkat virtuositas luar biasa, karena dibuat dari satu pohon bakau yang utuh dan diukir secara terbalik dan memiliki makna yang dalam.
“Suatu sumber inspirasi yang kuat, di mana suatu saat nanti sangat mungkin untuk mewujud jadi bagian dari sebuah karya,” kata musisi pengrawit yang juga dosen ISI Surakarta tersebut.
Peserta lainnya, musisi gamelan Bali, Sraya Murtikanti mengatakan ada beberapa koleksi yang membuat dirinya terkesan adalah patung leluhur orang Asmat, yakni Mbis dan Jipai yang merupakan pakaian ruh masyarakat Asmat yang memiliki filosofi yang mendalam.
“Ini adalah bentuk kekayaan budaya yang perlu sekali dilestarikan, menjadi pengalaman empirik yang bisa menjadi modal ilham untuk berkarya kelak,” ujarnya.
Kurator Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih, Enrico Yory Kondologit mengatakan untuk mengenal lebih dekat kebudayaan Papua secara visual memang yang terbaik adalah datang ke museum.
Ia berharap para peserta temu musisi ini, dengan menyaksikan sekitar 1.000-an koleksi dari total 2.500 koleksi yang berasal dari berbagai suku di Papua dan koleksi dari Papua Nugini, dapat menambah wawasan dan pemahaman tentang keragaman jenis benda kebudayaan material, berupa peralatan-peralatan musik, memasak, religi, kepercayaan, transportasi, dan peralatan menangkap ikan.
“Dengan kehadiran para musisi ini (di museum) dapat menambah wawasan mereka terutama pengetahuan dalam aspek seni,” kata Kondologit kepada wartawan di Kota Jayapura, Sabtu (16/7/2022).
Kondologit menjelaskan bahwa alat musik Papua tidak hanya tifa, triton, dan terompet Papua yang selama ini didengar, tetapi lebih dari itu, juga ada alat musik lainnya yang dibuat dapat menghasilkan musik.
Misalnya pakaian yang digunakan oleh masyarakat Waris berupa koteka dengan ikat pinggang yang menghasilkan suara. Kemudian orang Waghete yang membuat kalung dengan baling-baling di mana saat dikenakan oleh penari yang melompat menghasilkan suara-suara tertentu.
“Benda-benda materiil ini begitu berhubungan dengan religi, kepercayaan, dan lingkungan alam sekitar, ini dapat memberikan inspirasi untuk musik,” katanya.
Museum Lokal Budaya Universitas Cenderawasih didirikan pada 1970 dan diresmikan oleh Prof. Dr. Ida Bagus Mantra pada 1 Oktober 1973. Museum itu berdisi hasil pikiran, perjuangan, serta kerja keras dari berbagai pihak. Museum Loka Budaya banyak mendapat bantuan, terutama dari pengusaha raksasa dan seorang filantropis Amerika, John D. Rockefeler, Pemerintah Belanda, arkeolog, dan antropolog yang pernah melakukan penelitian di Papua, serta pemerintah melalui proyek-proyek Pelita.
Koleksi utama dari museum ini adalah benda-benda etnografi yang berasal dari 270-an suku di Papua. Koleksi berupa peralatan dapur, peralatan yang berhubungan dengan mata pencaharian hidup seperti peralatan bercocok tanam, berburu, dan menangkap ikan, busana dan perhiasan tubuh, peralatan perang, peralatan membayar harta (mas kawin, denda, dan lain-lain), benda-benda sacral, alat transportasi, dan alat-alat musik.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Direktorat Jenderal Kebudayaan menggelar Temu Seni yang berlangsung di Kota Jayapura pada 11 hingga 17 Juli2022. Sebanyak 14 seniman muda hadir di Kota Jayapura untuk turut serta dalam ajang silaturahmi, apresiasi, dan jejaring musik, sekaligus memperkenalkan Indonesia Bertutur 2022 di daerah cagar budaya di Indonesia.
Kegiatan Temu Seni merupakan salah satu rangkaian dari Festival Mega Event Indonesia Bertutur 2022 yang dihelat menjadi bagian dari perhelatan akbar Pertemuan Menteri-Menteri Kebudayaan G20 (G20 Culture Ministers’ Meeting) yang akan dilaksanakan di Kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah pada September 2022. (*)






















Discussion about this post