Jayapura, Jubi – Penggunaan musik yang dihasilkan Artificial Intelligence atau AI oleh media milik pemerintah Vanuatu menjadi perhatian di Parlemen. Parlemen khawatir musisi lokal akan kehilangan dukungan dan pendapatan dari karya original mereka.
Apalagi zaman sekarang AI atau kecerdasan buatan adalah teknologi yang memungkinkan komputer atau mesin untuk berpikir, belajar, dan meniru kemampuan intelektual manusia.
AI dirancang untuk memecahkan masalah, mengenali pola, dan mengambil keputusan secara mandiri dengan menganalisis data dalam jumlah besar termasuk mengarasemen musik.
Isu tersebut diangkat oleh Anggota Parlemen (MP), Jackson Lessa selama Sesi Tanya Jawab Lisan pada hari ketiga sidang biasa Parlemen Vanuatu pada Selasa (26/5/2026) di Port Villa Vanuatu, sebagaimana dilansir jubi.id dari laman internet,www.dailypost.vu, Rabu (27/5/2026)
Lessa mengatakan bahwa meskipun orang bebas menciptakan musik mereka sendiri menggunakan Kecerdasan Buatan (AI), masalah muncul ketika lagu-lagu asli dari artis lokal disalin, diubah, dan direproduksi menjadi versi yang dihasilkan AI tanpa izin.
Ia juga menyampaikan kekhawatiran mengenai media milik negara, termasuk VBTC, yang berpotensi memutar lagu-lagu yang dihasilkan oleh AI alih-alih mendukung musisi lokal yang bergantung pada musik sebagai sumber penghasilan.
Selama dua tahun terakhir, Vanuatu telah menyaksikan peningkatan lagu-lagu yang dihasilkan oleh AI yang beredar secara daring dan di platform media sosial.
Banyak dari lagu-lagu tersebut adalah lagu cinta yang dibuat menggunakan alat AI, sementara tren yang lebih baru melibatkan reproduksi lagu asli menjadi versi AI dengan suara dan bunyi yang berbeda.
Kekhawatiran kini semakin meningkat di dalam industri musik lokal bahwa praktik-praktik tersebut dapat merugikan para artis yang memiliki hak cipta atas lagu-lagu asli dan bergantung pada musik untuk penghasilan mereka.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Perdana Menteri (PM) Jotham Napat mengatakan bahwa Vanuatu sudah memiliki undang-undang yang mengatur hak kekayaan intelektual dan mendorong para musisi untuk mendaftarkan lagu-lagu mereka secara resmi.
Namun, ia mengakui bahwa AI masih merupakan “wilayah abu-abu” dan di luar kendali penuh pemerintah.
“Kami masih menelitinya, dan mudah-mudahan kami akan memperketat peraturan perundangannya,” katanya.
Perdana Menteri juga mengakui bahwa banyak orang sekarang menggunakan alat AI untuk menggubah lagu dan menampilkan diri sebagai komposer, dan mendesak masyarakat untuk mendukung musisi lokal daripada bergantung pada musik yang dihasilkan AI. (*)




Discussion about this post