Jayapura, Jubi – Departemen Keadilan dan Perdamaian (DKP) Sinode Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua, sebagai bagian dari panggilan gereja untuk menyuarakan keadilan, perdamaian, perlindungan martabat manusia, dan pembelaan terhadap masyarakat yang mengalami penderitaan, menyampaikan seruan kemanusiaan kepada Pemerintah Republik Indonesia, aparat keamanan, lembaga negara, serta komunitas kemanusiaan nasional dan internasional.
“DKP KINGMI menerima informasi mengenai dugaan peningkatan operasi militer di wilayah Korowai, khususnya Kampung Danowage, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, serta wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Yahukimo,” kata Pendeta Deserius Adii , M.Th , Ketua DKP Sinode Kingmi di Jayapura, Jumat (16/10/2026).
Menurut Pendeta Deserius Adii, informasi peningkatan operasi militer ini dilaporkan berlangsung sejak 12–14 Oktober 2026. Operasi ini telah menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat sipil. Disebutkan pula bahwa sebagian warga meninggalkan kampung dan mengungsi ke hutan maupun wilayah sekitarnya, sementara keterbatasan komunikasi menyulitkan pemantauan keadaan mereka.
DKP KINGMI menegaskan bahwa informasi tersebut masih memerlukan verifikasi independen. Namun, dugaan adanya warga sipil yang terjebak, kehilangan akses terhadap makanan, atau terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya merupakan persoalan kemanusiaan serius yang membutuhkan perhatian segera.
“Sebagai lembaga pelayanan gereja yang memiliki panggilan untuk menegakkan keadilan, memperjuangkan perdamaian, dan membela martabat manusia, DKP KINGMI memandang bahwa keselamatan warga sipil harus menjadi prioritas semua pihak. Oleh karena itu, seruan ini disampaikan berdasarkan landasan teologis, hak asasi manusia, hukum nasional, dan hukum humaniter internasional,” lanjut Pendeta Deserius Adii.
Menurutnya, UUD 1945 Pasal 28H ayat (1) menjamin hak setiap orang untuk hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta mendapatkan pelayanan kesehatan. Dalam situasi pengungsian, pemenuhan kebutuhan dasar dan akses pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dari perlindungan kehidupan dan martabat manusia.
Pendeta Deserius Adii mengatakan DKP KINGMI siruasi ini telah mendesak DKP KINGMI menyerukan agar Komite Internasional Palang Merah (ICRC), lembaga kemanusiaan nasional, dan organisasi internasional terkait menjajaki langkah-langkah kemanusiaan sesuai mandat, prinsip netralitas, independensi, dan persetujuan akses yang diperlukan.
“Kami meminta perhatian terhadap kebutuhan mendesak warga yang dilaporkan mengungsi dari Danowage, Mosom II, dan wilayah sekitarnya, terutama mereka yang berada di hutan atau lokasi terpencil yang sulit dijangkau melalui komunikasi biasa,” kata Pendeta Deserius Adii.
Sumber Jubi di Korowai pada akhir bulan Juli 2026 mengatakan, untuk sementara warga yang mengungsi dan telah terkonfirmasi terdiri dari 26 ibu-ibu dan satu anak. Mereka berada di salah satu lokasi di dalam hutan.
Akan tetapi menurut sumber itu, jumlah pengungsi bisa saja lebih banyak lagi, sebab masih banyak tempat yang dijadikan lokasi pengungsian belum bisa terkonfirmasi karena berada di hutan yang luas. Selai itu ada sungai yang sulit dilewati, dan tidak ada jaringan internet atau telepon untuk berkomunikasi.
“Ibu-ibu dan anak-anak mengungsi sejak 22 Juli 2026, sekitar pukul 11.00 [Waktu Papua] akibat 3 helikopter TNI menurunkan pasukan TNI di pinggir kali, area pemukiman warga sipil di Korowai Yahukimo, Papua Pegunungan,” kata sumber berinisial OB itu melalui pesan tertulisnya kepada Jubi, Kamis.
Menurut sumber itu, hingga kini ibu-ibu dan anak-anak terpencar masuk ke hutan mengamankan diri mengindari operasi yang dilakukan TNI, sebab mereka mengeluarkan tembak secara serampangan dari darat maupun udara mengunakan helikopter.
“Parah pengungsi tersebar di mana-mana dan tidak dapat memastikan (dipastikan) jumlah secara keseluruhan. Keadaan pengungsi kini masih di hutan tanpa makanan, minum dan tidak ada tempat untuk tidur. Trauma [karena] operasi yang dilakukan oleh TNI,” ucapnya. (*)






















Discussion about this post