Sentani, Jubi – Universitas Cenderawasih dan Direksi PT Yombe Namblong Nggua menandatangani Implementation Agreement di Kampung Berap, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, pada Jumat (10/7/2026). Dalam kerja sama itu, pihak Universitas Cenderawasih akan mendampingi penyusunan Prosedur Operasi Standar pengelolaan keuangan PT Yombe Namblong Nggua, sebuah perseroan yang didirikan oleh 44 marga masyarakat adat Namblong.
Kerja sama itu melibatkan Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih serta Unit Penunjang Akademik Pengembangan Karir dan Kewirausahaan Universitas Cenderawasih. Implementation Agreement itu merupakan tindak lanjut pelatihan pengembangan kewirausahaan dan literasi keuangan bagi Badan Usaha Milik Masyarakat Adat atau BUMMA Namblong yang digelar di Kampung Berap pada pada 9 – 10 Juli 2026.
Kepala Unit Penunjang Akademik Pengembangan Karir dan Kewirausahaan Universitas Cenderawasih, Kurniawan Patma mengatakan Implementation Agreement itu bentuk komitmen bersama para pihak untuk mengimplementasikan hasil pelatihan. Implementasi itu akan dilakukan dengan menyusun Prosedur Operasi Standar pengelolaan keuangan PT Yombe Namblong Nggua.
Selain itu, kerja sama implementasi itu juga akan mengembangkan prototipe laporan keuangan berbasis masyarakat adat. Penerapan NOKEN Model Canvas Framework juga akan dijadikan strategi penguatan tata kelola dan pengembangan usaha BUMMA secara berkelanjutan.
Kurniawan mengatakan penandatanganan implementation agreement diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat kapasitas kelembagaan dan meningkatkan literasi keuangan. Kerja sama itu ingin membentuk model bisnis masyarakat adat yang profesional, mandiri, dan berkelanjutan.
“Jadi hasil dari pelatihan ini, apa yang kemudian akan diimplementasikan [dituangkan dalam] Implementation Agreement,” ujarnya.
Direktur Operasional PT Yombe Namblong Nggua, Yusuf Kasmando mengatakan kerja sama itu sangat penting untuk menata manajemen perusahaan dan berbagai unit usahanya. PT Yombe Namblong Nggua yang didirikan 44 marga atau iram di Namblong itu memiliki unit usaha pertanian, kehutanan, peternakan, ekowisata, dan perikanan.
Kasmando berharap kolaborasi dan kerja sama dengan Universitas Cenderawasih ini terus berkelanjutan. Kasmando mengatakan kerjasama penting guna mengembangkan usaha dan mengelola keuangan PT Yombe Namblong Nggua sebagai BUMMA Namblong.
“Terima kasih untuk kegiatan ini. Ini merupakan kegiatan perdana, kami BUMMA membutuhkan [pelatihan] pengelolaan keuangan. Hal yang luar biasa memberikan motivasi ke depan kami lebih bagus lagi untuk menata manajemen di perusahaan kami, baik di induk atau manajemen unit usaha yang ada di PT Yombe Namblong Nggua,” kata Kasmando kepada Jubi, pada Kamis (9/7/2026).
Peserta pelatihan, Ribka Waibro menuturkan pelatihan ini sangat bermanfaat. Waibro mengatakan pelatihan pengelolaan keuangan sangat penting dalam pengembangan usaha PT Yombe Namblong Nggua.
“Terima kasih buat [Universitas Cenderawasih], supaya ke depan kami bisa kerja sesuai dengan apa yang kami terima [dari pelatihan], ke depan tidak kewalahan dalam pengelolaan keuangan, terutama dalam pengembangan vanili. Ilmu ini sangat mahal,” ujarnya.
Waibro yang juga Koordinator Komoditas Vanili di Unit Usaha Pertanian PT Yombe Namblong Nggua itu berencana membagi pembelajaran bagi petani vanili. Waibro mengatakan masyarakat adat harus mandiri dan sejahtera dari hasil pengelolaan potensi lokal.
“Masyarakat adat Namblong harus sejahtera dalam kehidupan mereka. Itu yang selalu mama idamkan. Orang Namblong tanam vanili supaya bisa menutupi kekurangan dalam keluarga,” katanya.
Kelas akuntansi masyarakat adat
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih, Dr Otniel Safkaur mengucapkan apresiasi dan terima kasih kepada masyarakat adat Namblong, khususnya direksi dan pengurus PT Yombe Namblong Nggua. Safkaur mengatakan situasi Papua membuat kampus harus berdampak secara langsung bagi masyarakat adat di kampung guna melindungi hutan dan tanah adat.
“Kalau hutan dibabat orang yang punya uang besar, kita [masyarakat adat] ikut binasa. Saya harap masyarakat di sini konsisten, tetap jaga alam dan hutan dengan baik,” kata Safkur, pada Jumat (10/7/2026).
Safkaur mengatakan pihaknya akan membuka kelas akuntansi bagi masyarakat adat Namblong, khususnya direksi dan pengurus PT Yombe Namblong Nggua. Safkaur mengatakan kelas akuntansi masyarakat adat ini akan dibiayai melalui program beasiswa PT Yombe Namblong Nggua.
“Kami sudah buat proposal, dan sudah diterima. Tahap awal menyiapkan dokumen proses belajar. Kami diminta untuk tahun depan [buka kelas] kuliah di sini. Kami ajukan 15 orang, kalau anggaran sudah ada. Masyarakat di Namblong yang akan kuliah akan dibiayai Pak Roki [dari Yayasan Monoken Membumi Membumma] dan tim. Semoga apa yang direncanakan dapat terwujud,” ujarnya.
Safkaur berharap dengan kolaborasi dan kerja sama itu dapat memperkaya pengetahuan masyarakat adat dalam mengelola potensi ekonomi lokal melalui BUMMA. Safkur mengatakan masyarakat adat di Papua harus dibantu dan diajari pengetahuan manajemen dalam mengelola sumber daya.
“Ini satu pendekatan yang luar biasa. Kombinasi antara praktik dan teori membuat Bapak/Ibu semakin kaya dengan pengetahuan. Kita saling baku bantu. Aset hutan yang dikelola bisa memberikan manfaat bagi masyarakat adat. Masyarakat bisa hidup [dari mengelola hutan adat]. Kita tahu selama ini yang hidup [dari hasil hutan justru investor] bermodal besar,” ujarnya. (*)




Discussion about this post