Jayapura, Jubi – Gerakan Palajar Mahasiswa Intan Jaya se-Indonesia (GPMI-I) mendesak pemeritah kabupaten atau pemkab dan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Intan Jaya segera membentuk panitia khusus (Pansus) Kemanusiaan, untuk mengusut tuntas kasus Soanggama berdarah.
Kasus Soanggama berdarah adalah penembakan yang menewaskan 12 warga sipil di Kampung Soanggama, Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah pada 15 Oktober 2025.
Mahasiswa juga mendesak pemerintah daerah dan DPRK segera memfasilitasi Komnas HAM melakukan investigasi independen dan transparan terkait tragedi Soangama berdarah.
“[Kami] mendesak pemerintah segera menarik militer non-organik dari wilayah sipil di Kabupaten Intan Jaya demi menghentikan militerisasi ruang sipil dan menjamin rasa aman bagi masyarakat,” tulis GPMI-I dalam siaran pers tertulisnya, Sabtu (14/3/2026).
Selain itu, GPMI-I mendesak pemkab dan DPRK segera memfasilitasi mahasiswa serta perwakilan tokoh masyarakat Intan Jaya, berdialog langsung dengan Presiden Republik Indonesia atau Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) atau pihak-pihak terkait guna mencari solusi konflik kemanusiaan yang terjadi di Kabupaten Intan Jaya.
“Pernyataan sikap ini, sebagai bentuk tanggung jawab moral dan keberpihakan kami terhadap keadilan dan kemanusiaan bagi masyarakat Intan Jaya. Apabila tuntutan dan aspirasi ini tidak segera ditindaklanjuti, Gerakan Mahasiswa Intan Jaya Se-Indonesia akan melakukan konsolidasi nasional dan mobilisasi besar-besaran untuk melaksanakan aksi,” kata mahasiswa.
GPMI-I menyatakan sikap, karena Kabupaten Intan Jaya merupakan salah satu wilayah di Papua Tengah yang terus mengalami eskalasi konflik bersenjata sejak 2019 hingga kini, dan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sipil.
Konflik yang berkepanjangan ini juga disebut menimbulkan berbagai persoalan kemanusiaan, seperti pengungsian masyarakat, hilangnya mata pencaharian warga, trauma psikologis, serta terbatasnya akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan.
Mahasiswa menyatakan, situasi semakin memprihatinkan setelah terjadinya tragedi pembunuhan terhadap 12 warga sipil di Kampung Soangama, yang hingga kini belum diusut secara transparan dan tuntas.
Pendekatan keamanan selama ini pun dinilai belum mampu menyelesaikan akar persoalan konflik. Justru memperparah krisis kemanusiaan yang dialami masyarakat. (*)


















Discussion about this post