Jayapura, Jubi – Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BBMKG Wilayah V meminta kepada masyarakat Papua untuk mewaspadai hujan lebat, badai guntur, angin kencang, banjir, tanah longsor, serta gelombang tinggi di wilayah perairan di Papua.
Hal tersebut dikatakan Kepala BBMKG Wilayah V, Yustus Rumakiek, melalui siaran pers yang diterima Jubi di Jayapura, Papua, Kamis (27/3/2025).
Rumakiek mengatakan, BBMKG Wilayah V melakukan pemantauan intensif terhadap dinamika atmosfer terkini di wilayah Papua, menjelang Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri 1446 H.
Berdasarkan hasil monitoring pada periode Dasarian III Maret hingga dasarian I April 2025, katanya, terpantau adanya kombinasi aktif sejumlah fenomena atmosfer global, yang berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di Papua.
Fenomena atmosfer yang tengah aktif tersebut antara lain Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer seperti Kelvin Wave, Rossby Equator, dan Low Frequency, serta pengaruh berkelanjutan dari Monsun Asia, yang masih berlangsung dan menyebabkan peningkatan pembentukan awan hujan.
“Kondisi ini meningkatkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di berbagai wilayah Papua. Maka dari itu, masyarakat diminta untuk mewaspadai hujan lebat, badai guntur, angin kencang, banjir, tanah longsor, serta gelombang tinggi di wilayah perairan,” kata Rumakiek.
Sebagai respons terhadap potensi cuaca ekstrem ini, BBMKG Wilayah V menggelar rapat koordinasi bersama pemerintah dan stakeholder terkait, dari enam provinsi di Papua.
Rapat yang dilaksanakan pada Rabu (26/3/2025) ini bertujuan untuk meningkatkan koordinasi antarinstansi, dalam menghadapi kondisi cuaca menjelang Lebaran, mempersiapkan Posko Idul Fitri 2025, guna mendukung kelancaran arus mudik dan balik, serta mengoptimalkan diseminasi informasi cuaca, iklim, dan kegempaan kepada masyarakat.
“Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari instansi pemerintah provinsi, kabupaten/kota, TNI, Polri, BPBD, Basarnas, serta Dinas Perhubungan dari enam provinsi, yaitu Papua, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan, Papua Barat, dan Papua Barat Daya,” katanya.
Prospek cuaca cepekan periode 27 Maret hingga 2 April 2025, sebagai berikut:
Pada periode 27 – 29 Maret 2025, Papua secara umum diperkirakan cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang dan badai guntur, diprediksi terjadi di beberapa wilayah, antara lain, Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Keerom, Sarmi, Kepulauan Yapen, Waropen, dan Kabupaten Mamberamo Raya.
Sementara itu, pada periode 30 Maret – 2 April 2025, wilayah Papua umumnya berawan hingga hujan ringan, dengan potensi hujan lebat yang dapat disertai badai guntur dan angin kencang, diprediksi akan terjadi di wilayah Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, Keerom, Sarmi, Mamberamo Raya, Biak Numfor, Supiori, Kepulauan Yapen, dan Waropen.
“Hujan yang terjadi dapat berpotensi menimbulkan dampak berupa genangan air, banjir, longsor di daerah perbukitan dan lereng gunung, pohon tumbang akibat angin kencang, serta gangguan transportasi udara dan laut,” katanya.
Prospek tinggi gelombang laut di perairan sekitar Papua periode 27 Maret – 02 April 2025, lanjutnya, diperkirakan berada pada kategori rendah hingga sedang, berkisar antara 0,25 hingga 2,5 meter, para pengguna jasa transportasi laut, terutama kapal-kapal nelayan dan kapal tongkang, diimbau untuk tetap memperhatikan batas aman pelayaran.
“Bagi perahu nelayan, perlu berhati-hati apabila kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1.25 m dan kapal tongkang apabila kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1.5 m,” katanya.
Selain potensi cuaca ekstrem, BBMKG juga mengingatkan bahwa Papua merupakan wilayah rawan gempabumi. Wilayah Papua, kata Rumakiek, mempunyai banyak sumber gempa yang didominasi dengan gempa-gempa kerak dangkal (Shallow Crustal Earthquake). Gempa dengan sumber ini mempunyai dampak terasa bahkan sampai merusak.
“Peristiwa gempa merupakan ancaman abadi yang belum dapat diprediksi kejadiannya, sehingga upaya mitigasi serta peningkatan kesiapsiagaan terhadap bencana gempa menjadi hal yang Wajib,” katanya.
“Dengan koordinasi yang kuat dan pemahaman bersama atas risiko cuaca dan kegempaan, diharapkan perayaan Idul Fitri 2025 di wilayah Papua dapat berlangsung aman, lancar, dan nyaman bagi seluruh masyarakat,” katanya.
Namun, lanjutnya, mengingat historis kejadian cuaca ekstrem di Papua, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi hujan lebat dan dampaknya selama periode Lebaran.
“Papua memiliki banyak lereng curam serta daerah aliran sungai (DAS) yang rawan longsor dan banjir. Jika hujan terjadi dengan intensitas tinggi atau dalam durasi lama, risiko banjir dan tanah longsor akan meningkat, terutama di wilayah dengan topografi perbukitan dan daerah pemukiman di dekat sungai,” katanya.
“Masyarakat yang bermukim di lereng gunung atau perbukitan diimbau, untuk mewaspadai potensi longsor dan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman jika terjadi hujan deras terus-menerus, serta menghindari aktivitas di tepi sungai yang berisiko meluap akibat curah hujan tinggi,” lanjutnya.
Masyarakat dan stakeholder juga diimbau untuk terus memantau informasi cuaca, iklim, dan kegempaan dari BMKG melalui kanal resmi seperti Platform Digital Weather for Traffic (DWT) di https://signature.bmkg.go.id/dwt/, media sosial BMKG Papua di @infoBMKGPapua, serta layanan informasi 24 jam di nomor 0812 4806 480.
“Dengan kesiapsiagaan yang baik dan sinergi lintas sektor, diharapkan perayaan Idul Fitri 2025 dapat berlangsung dengan aman dan terhindar dari dampak cuaca ekstrem maupun bencana lainnya,” katanya. (*)




















Discussion about this post