Jayapura, Jubi – Inisiator Sekolah Adat se-Tanah Papua, Frans Wilson Diadiaway mengatakan sekolah adat yang mengajarkan pengetahuan tradisional, nilai-nilai kearifan lokal dan kekhasan budaya masayarakat adat akan dibuka di Kampung Yogonima, Distrik Itlay-Hisage, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan. Sekolah yang mengajarkan berbagai pengetahuan dan keterampilan adat itu diharapkan menjadi rintisan pendidikan nonformal di Papua Pegunungan.
Hal itu dinyatakan Diadiaway melalui aplikasi layanan pesan pada Selasa (18/3/2025). “Pendidikan adat atau sekolah adat menjadi indikator utama dalam mempertahankan eksistensi masyarakat adat sebagai warisan leluhur dan nenek moyang di Indonesia, termasuk di Provinsi Papua Pegunungan. Oleh karena itu kami rencana dalam waktu dekat akan membuka sekolah adat di kampung Yogonima,” katanya.
Menurut Diadiaway, sistem pendidikan nasional mengakui tiga jalur pendidikan, yakni pendidikan formal, informal, dan nonformal. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) saat ini memiliki perhatian khusus untuk mengangkat, mengembangkan, melindungi, dan mempertahankan kebudayaan masyarakat adat Indonesia melalui pendidikan nonformal.
“Namun, di tingkat daerah, termasuk di Tanah Papua, [pendidikan nonformal] kurang mendapatkan perhatian serius. [Padahal pendidikan nonformal bisa menjadi sarana] untuk membangun kesadaran masyarakat adat melalui pendidikan adatnya sendiri,” kata Diadiaway.
Menurut Diadiaway, pendidikan informal dan nonformal telah berkembang selama bertahun-tahun di sejumlah kota besar di Jawa dan Bali, misalnya di Yogyakarta. Namun wilayah Indonesia timur, jalur pendidikan nonformal dan informal kurang mendapat perhatian serius dari semua pihak terkait.
“Gerakan Pendidikan Adat dan Sekolah Adat telah dimulai di berbagai belahan dunia untuk membangun dan mempertahankan identitas masyarakat adat di dunia. Di Papua sendiri, gerakan sekolah adat atau sekolah alam telah dimulai oleh masyarakat adat di Kampung Yoboi, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Gerakan itu [harus] terus dibangun dimana-mana, guna membuat masyarakat adat tetap menjaga etika dan jati diri dalam hidup bermasyarakat dan menggereja di Tanah Papua,” ujarnya.
Ketua Penggerak Sekolah Adat Hugula di Yogonima, Yeremias Hisage mengatakan penggerak sekolah adat dan para pengajarnya akan berasal dari masyarakat adat yang memiliki pengetahuan, seperti cara mengangkat ratapan, nyanyian, atau lagu-lagu tradisional. Sekolah itu juga akan mengajarkan keterampilan menganyam noken dan gelang, beternak madu, bertani, serta keterampilan berburu dan meramu lainnya.
“Siswanya atau peserta didik berasal dari anak-anak usia dini di kampung halaman atau dari kabupaten kota lain. Materinya disesuikan dengan kurikulum pendidikan nasional. Misalnya, bahasa, cara anyam noken, panah, busana tradisional, berkebun, dan lainnya bisa dijadikan sebagai bahan belajar,” katanya.
Hisage mengatakan setelah membangun komunikasi, koordinasi kerja, serta mempertimbangkan segala aspek, pihaknya memutuskan membuka Sekolah Adat Hugula di Kampung Yogonima, Distrik Itlay-Hisage.”Setelah membuka Sekolah Adat Hugula di Yogonima, [kami akan] mengembangkan [sekolah serupa] di 18 aliansi adat Wilayah Lembah Agung Hugulama, kemudian kembangkan sekolah serupa setiap suku yang ada di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Papua Pegunungan,” ujarnya.(*)





















Discussion about this post