Jayapura, Jubi – Program Chevening Scholarship atau beasiswa Chevening pascasarjana (S2) selama ini lebih banyak diambil peluangnya oleh mahasiswa dari Pulau Jawa, sementara mahasiswa di Papua nyaris tidak ada yang mendapatkannya. Karena itu, Papua dijadikan prioritas agar peluang mendapatkan beasiswa Chevening dimanfaatkan.
Hal itu disampaikan Network and Alumni Officer British Embassy Jakarta Chevening Scholarship Raras Tulandaru di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Politik atau FISIP Universitas Cenderawasih, Kamis (16/5/2024), usai kegiatan sosialisasi Program Chevening Beasiswa mahasiswa pasca sarjana oleh perwakilan Kedutaan Besar Inggris.
Raras Tulandaru mengatakan kepada Jubi tujuan kedatangannya mewakili Kedubes Inggris di Jakarta untuk menginformasikan mengenai Program Chevening Beasiswa S2 ke Inggris. Menurut Tulandaru masa kuliah S2 di Inggris hanya satu tahun dan para mahasiswa yang lolos akan menerima pendanaan penuh oleh pemerintah Inggris, termasuk biaya kesehatan dan biaya tambahan seperti studi banding selama menempuh kuliah pasca sarjananya di Inggris.
“Beasiswa ini terbuka untuk umum bagi masyarakat Indonesia namun, bisa dilihat bahwa upaya kami datang langsung ke Papua karena setahun terakhir ini kami berfokus ke Indonesia Bagian Timur, karena kami lihat pendaftar sebenarnya masih kurang dan kami sadar bahwa mungkin masalahnya adalah karena akses informasi yang kami berikan belum sampai pada orang yang tepat,” katanya ketika diwawancarai Jubi, Kamis (16/5/2024).
Raras Tulandaru berharap setelah sosialisi di Papua, masyarakat yang mengetahui informasi tersebut dapat mempersiapkan generasinya yang ingin melanjutkan pendidikan S2.
Dia menambahkan ada dua tahapan yang akan dilalui untuk melakukan pendaftaran Chevening secara daring. Namun langkah yang terpenting adalah para pendaftar terlebih dahulu mencari tahu jurusan apa dan kampus mana di Inggris yang ingin dituju.
“Pendaftaran akan dibuka pada bulan Agustus 2024 dan tahapannya ada dua, yang pertama adalah esai atau administrasi yang harus dilakukan dan ada empat syarat pendaftaran yang harus diisi. Tahapan kedua adalah interview yang akan dilaksanakan pada bulan Maret 2025. Interview itu sebenarnya hanya memvalidasi apa yang telah diisi oleh para pendaftar, jadi kami hanya ingin mengenal orang yang menulis dalam pendaftaran,” ujarnya.
Wakil Dekan I (satu) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik atau FISIP Universitas Cenderawasih Bidang Akademik Dr Melyana R Pugu mengatakan Program Chevening Beasiswa Mahasiswa Pascasarjana atau S2, harapannya dapat memberi dampak positif terhadap kemajuan Sumber Daya Manusia atau SDM di Tanah Papua.
Melyana R Pugu mengatakan dengan mendaftar dan lolos program beasiswa mahasiswa pascasarjana, lalu bersekolah di Inggris, maka para mahasiswa akan memasuki orientasi yang baru dalam segi personality, budaya, dan pengetahuan. yang cukup untuk menjadi bekal bagi peningkatan kapasitas SDM di Papua. Dia menilai dengan begitu para mahasiswa akan pulang dan memberikan kontribusinya terhadap pembangunan di Papua.
“Mahasiswa kita di Papua kalau mendapatkan program beasiswa Chevening ini dan bersekolah di sana tentunya berdampak positif terhadap peningkatan SDM orang Papua dan juga membuka jaringan. Jadi teman-teman yang bersekolah itu pasti bertemu dengan orang lain, belajar budaya orang lain, dan itu menjadi salah satu modal ketika mereka kembali, mereka mengimplementasikan apa yang mereka dapatkan di sana,” katanya.
Wakil Dekan I (satu) FISIP Uncen itu menyatakan program chevening bukan hanya hadir bagi mahasiswa yang baru menamatkan sarjana S1 atau fresh graduate, tetapi juga dapat diikuti oleh mereka yang telah lama menamatkan pendidikan s1 atau telah bekerja.
“Ini adalah peluang yang baik bagi generasi anak-anak Papua, bukan hanya bagi mahasiswa tapi juga bagi staf dan masyarakat umum, jadi sebenarnya bagi saya ini hal yang penting karena bisa menjadi salah satu rujukan beasiswa bagi mahasiswa Papua yang akan melanjutkan ke jenjang S2,” ujarnya.(*)






















Discussion about this post