Jayapura, Jubi – Sekelompok pemilik lahan di area tambang Panguna di Bougainville, mengeluarkan peringatan publik kepada perusahaan-perusahaan yang mencoba mengembangkan kembali tambang tersebut untuk menghentikan aktivitas dan pergi.
Pemilik lahan telah menyampaikan kepada Bougainville Copper Limited (BCL) dan perusahaan India Lloyds Metals and Energy Ltd melalui pemberitahuan publik, untuk menghentikan apa yang disebut kelompok tersebut sebagai ‘masuk dan aktivitas tanpa izin’ di Panguna, Daerah Otonomi Bougainville, Papua Nugini (PNG), seperti dikutip jubi.id dari laman internet, RNZ Pasifik, Kamis (30/4/2026).
BCL, yang terdaftar di ASX, adalah pemegang lisensi eksplorasi jangka panjang untuk Panguna, sementara Lloyds adalah perusahaan yang baru-baru ini dinominasikan oleh Pemerintah Otonom Bougainville (ABG) sebagai mitra untuk mengembangkan kembali tambang tersebut.
Tambang Panguna memiliki salah satu cadangan tembaga terbesar di dunia, tetapi belum beroperasi sejak ketegangan memaksa penutupannya 37 tahun lalu pada tahap awal perang saudara Bougainville.
Autononomy Bougainville Governement (ABG) berkeinginan mengembangkan kembali tambang tersebut guna membantu Bougainville menjadi mandiri secara ekonomi, seiring dengan upaya negara itu untuk merdeka dari Papua Nugini yang parlemen nasionalnya tahun ini diperkirakan akan memutuskan apakah akan meratifikasi hasil referendum Bougainville tahun 2019.
Pengembangan kembali tambang ke fase produksi diperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun, tetapi upaya untuk mencapai hal ini semakin meningkat.
Dengan persetujuan ABG, dan dalam kemitraan dengan BCL, Lloyds Metals belum lama ini memindahkan mesin dan peralatan ke area tambang Panguna untuk melakukan studi kelayakan dan eksplorasi.
Namun, ketika sebuah acara lokal diadakan di daerah tersebut pada pekan ini, untuk membahas rencana penambangan dengan melibatkan ABG, kedua perusahaan serta pemilik lahan dan masyarakat, sekelompok pemilik lahan memutuskan bahwa aktivitas penambangan berjalan terlalu cepat.
Para pemilik lahan yang melakukan protes telah memberi perusahaan-perusahaan tersebut waktu 24 jam untuk memindahkan semua personel dan peralatan dari tambang.
“Kegagalan untuk mematuhi akan mengakibatkan kami mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi tanah, sumber daya, dan wilayah adat kami sesuai dengan hak kepemilikan adat kami dan kerangka hukum serta peraturan yang relevan di Wilayah Otonom Bougainville dan Papua Nugini,” begitu isi pemberitahuan tersebut.
Salah satu perwakilan pemilik lahan Panguna yang mencantumkan namanya dalam pemberitahuan tersebut adalah kepala suku Moses Pipiro.
Ia mengatakan bahwa masyarakat setempat merasa tidak nyaman dengan perusahaan-perusahaan yang sudah beroperasi di tambang Panguna.
“Mereka sudah mengirimkan mesin-mesin mereka ke sana, truk dan ekskavator, semua barang-barang itu,” kata Moses Piparo.
Moses Piparo mengatakan, yang menjadi permasalahan adala pemerintah tidak berkonsultasi dan melakukan sosialisasi kepada para pemilik sumber daya di Panguna.
“Yang kedua adalah kita tidak tahu jenis kesepakatan apa yang telah dibuat antara pemerintah kita dan Lloyds Metals and Energy Ltd,” ucapnya.
Namun, seorang pemimpin Pemerintah Tingkat Lokal membantah klaim ini, dengan mengatakan bahwa ABG telah mengadakan konsultasi dengan masyarakat mengenai rencana tambang tembaga tersebut.
Ketua Daerah Pemilihan Ioro, Francis Nasia mengatakan bahwa ia terlibat dalam memfasilitasi konsultasi tersebut.
“Hampir semua orang mendapatkan informasi tentang bagaimana ABG bermaksud menandatangani MOU dan bagaimana ABG bermaksud menghubungkan Lloyds dengan BCL. Semuanya sudah jelas,” kata Francis Nasia.
“Beberapa orang yang menandatangani pemberitahuan penghentian kerja dan sebagainya, mereka telah menghadiri pertemuan, tetapi mereka belum menyampaikan pendapat mereka. Mereka telah diberi waktu untuk berbicara.”
Nasia mengatakan bahwa mayoritas penduduk setempat mendukung upaya pemerintah dalam menjajaki kemungkinan pengembangan kembali tambang tersebut.RNZ Pacific telah meminta komentar dari ABG, BCL, dan Lloyds Metals.(*)

























Discussion about this post