Jayapura, Jubi- Saat masih kecil di Abau Provinsi Tengah Papua Nugini (PNG) seorang bocah bernama Kinstan Kamuri mengembangkan hasratnya berburu di tengah perkebunan Kakao, sisa peninggalan penjajah Australia.
Kala itu, pembukaan kebun Kakao merupakan bantuan negara negara Ekonomi Eropa kepada Komisi Forum Pasifik Selatan yang dibentuk 1947 di Canberra Australia. Wilayah priotas pembangunan perkebunan coklat zaman penjajahan Belanda di Hollandia dibuka di Nimboran Genyem, Nederland Nieuw Guinea.
Sedangkan di negara tetangga PNG dibuka perkebunan Kakao di Abau, Provinsi Tengah PNG sekarang. Perkebunan Kakao yang tak terurus itu menarik minat Kingstan Kamuri. Dia menekuninya, hingga membawa Kakao Abau terkenal sampai ke luar PNG.
Berkat kecintaan ayahnya pada alam terbuka, Kamuri mengembangkan hasrat untuk berburu, menjelajahi alam dan sisa-sisa perkebunan pertanian yang dulunya luas di Abau.
“Saya tumbuh besar sambil melihat sebagian besar reruntuhan dan sisa-sisa era pertanian yang telah hilang dalam sejarah negara kami. Pohon kakao pertama yang saya lihat berada di dekat Merani ketika saya berusia sekitar 10 tahun. Sebagai seorang anak, hobi favorit saya adalah berkebun. Setiap kali kami bepergian ke suatu tempat, saya akan membawa pulang anggrek, atau pohon atau tanaman liar sebagai oleh-oleh dan mencoba menanamnya di kebun kami di rumah,” kata Kamuri sebagaimana dilansir jubi.id dari dt-global.com, Minggu (16/2/2025).
Namun di masa dewasanya, Kamuri belajar menghargai kedamaian dan ketenangan yang ditawarkan kehidupan di perdesaan. Hal ini akhirnya membawanya pada minat besar di bidang pertanian kakao.
Setelah kembali dari studi di Australia pada 2009, Kamuri memulai pekerjaan penuh waktu di sektor kesehatan PNG. Tiga tahun kemudian, setelah memperoleh cukup pengalaman , ia memulai perusahaan impor dan distribusi grosir farmasi miliknya sendiri yang memasok obat-obatan ke toko obat daerah milik pemerintah dan rumah sakit swasta di seluruh negeri.
Ia juga meninggalkan pekerjaan mapan dan nyaman di Port Moresby ibukota PNG.
Kingstan telah menanam Kakao sejak tahun 2016 di perkebunan Kakao keluarganya, Manabo Cocoalands Development Limited di Distrik Abau, Provinsi Tengah yang dibiarkan tumbuh liar sejak tahun 1947 hingga 1950-an. Wilayah ini sejak penjajahan Australia telah dikembangkan menjadi perkebunan Kakao.
Pada pengembangan Manabo Cocoalands 2019 di Distrik Abau, Provinsi Tengah, mereka menyerahkan hasil panen pertama sebanyak 110 karung biji Kakao kepada Queen Emma Chocolate. Saat itu, pertanian keluarga Kingstan memiliki 80.000 pohon kakao dan 25 karyawan.
“Keluarga kami memiliki tanah di Abau yang tidak terpakai. Setelah beberapa kali bepergian di akhir pekan dengan teman-teman dan keluarga, saya menyadari betapa damainya hidup di luar sana, jauh dari hiruk pikuk kota. Hal itu juga menghidupkan kembali hasrat saya untuk berkebun dan impian masa kecil saya untuk suatu hari mencoba menghidupkan kembali beberapa perkebunan tua yang saya dengar cerita-cerita inspiratifnya,” katanya.
Bangkit bersama reruntuhan
Perjalanan tersebut akhirnya membawa Kamuri memulai perkebunan Kakao komersial dan bisnis ekspornya sendiri – Manabo Cocoalands Development Limited. Ketika pertama kali memulai, ada banyak skeptisisme tentang usahanya. Secara historis di Abau, Kakao selalu dianggap sebagai tanaman yang gagal oleh banyak penduduk setempat di wilayah Cloudy Bay yang lebih luas.

“Mengingat sejarah pohon Kakao di daerah tersebut, banyak penduduk setempat yang mengatakan kepada saya bahwa proyek tersebut akan gagal. Saya mendirikan perkebunan tersebut pada 2015 ketika Industri Kakao dan Kelapa PNG (PNG-CCI) saat itu telah mendirikan kebun tunas kakao di Stasiun Manabo di sebelah kami,” kata Kamuri.
“Saya diundang oleh Tn. James Sarufa yang saat itu sedang mengurus program untuk mengunjungi kebun Kakao. Setelah melihat pohon-pohon tumbuh subur di kebun Kakao milik James, hal ini memperkuat ide saya untuk pergi dan menanam Kakao dalam skala komersial penuh.”tambahnya.
Maju cepat ke tahun 2019, perusahaan tersebut mempekerjakan lebih dari 25 penduduk lokal dari daerah pedalaman antara Provinsi Central dan Milne Bay untuk merawat lebih dari 80.000 pohon Kakao di perkebunan keluarga. Saat itu, Kamuri telah menemukan pembeli yang siap yang berlokasi lima jam perjalanan darat – Queen Emma Chocolate.
Perusahaan ini terutama memasok biji Kakao berkualitas premium ke pabrik Queen Emma Chocolate yang memproduksi berbagai produk kakao dan coklat untuk pasar domestik dan ekspor. Meskipun ada pandemi dan tantangan sehari-hari, hubungan Kamuri dengan Queen Emma Chocolate membuahkan hasil.
“Queen Emma adalah produsen coklat lokal pertama kami yang berusaha memposisikan Kakao PNG di pasar coklat dan penganan global yang mapan, sambil mempromosikan biji Kakao petani lokal kami dan menawarkan harga kompetitif terbaik untuk mendorong produksi lokal dan konsistensi dalam kualitas,” tambah Kamuri.
Kakao Abau mendapat perhatian global
Program Akses Pasar Pertanian dan Hortikultura Pasifik (PHAMA Plus) yang didukung Australia dan Selandia Baru telah bermitra dengan Queen Emma Chocolate untuk menciptakan dan mengembangkan pasar ekspor, bagi produk Kakao dan membantu membuat perubahan bagi rumah tangga petani Kakao di perdesaan PNG.
Ini termasuk kegiatan seperti partisipasi di acara internasional, pemasangan peralatan pemrosesan cokelat mini untuk meningkatkan kualitas biji kakao dan produknya.
PHAMA Plus juga mendukung Ratu Emma untuk mengirimkan sampel Kakao ke pembuat cokelat di Selandia Baru sebagai bagian dari upaya untuk memperkuat hubungan pasar yang menciptakan eksposur bagi kakao PNG dan petani seperti Kamuri.
Pada awal 2023, Queen Emma Chocolate mengirimkan pertama kalinya mentega dan bubuk kakao halus kepada pembeli Kakao, sekaligus ahli coklat asal Selandia Baru, Oonagh Browne. Pengiriman tersebut juga mencakup 750 kg biji kakao dari perkebunan Kamuri melalui lisensi ekspor lot mikro miliknya.
Dengan dukungan dari PHAMA Plus, Oonagh, melalui perusahaannya ‘The Cocoa Ambassador’, telah bekerja dengan komunitas petani kakao PNG sebagai duta merek Queen Emma Chocolate, mempromosikan Kakao PNG berkualitas tinggi di Selandia Baru dan sekitarnya.
“Kami memiliki beberapa rencana kerja sama dengan The Cocoa Ambassador. Ini merupakan awal yang baik untuk penetapan harga dan yang terpenting, eksposur yang baik untuk biji kakao kami,” kata Kamuri.
“Paparan tersebut juga telah menciptakan permintaan untuk agrowisata. Kami telah menerima banyak permintaan dari pengunjung Selandia Baru dan Australia untuk datang dan mengunjungi perkebunan dan daerah sekitarnya. Kami telah menerima beberapa pengunjung tahun lalu,” katanya.
Kakao organik, jalan ke depan
Sebagai bagian dari upaya memastikan lingkungan, iklim, dan ketahanan dalam pertanian kakao, PHAMA Plus juga mendukung Kamuri memperoleh sertifikasi organik bagi perkebunan keluarganya. Sehingga memberikan keunggulan kompetitif bagi kakao Abau dan Cokelat Queen Emma di pasar kakao global.

Sertifikasi organik berarti biji kakao Abau diproduksi tanpa bahan kimia berbahaya, seperti pupuk anorganik, pestisida, dan herbisida. Ini merupakan pendekatan yang aman bagi lingkungan dan berkelanjutan untuk menghasilkan biji kakao berkualitas tinggi dengan jejak karbon rendah. Setelah proses ini selesai, Manabo Cocoalands Development Limited akan menjadi perkebunan kakao bersertifikat organik pertama di PNG.
“Kami tengah mencari dan membangun pasar untuk kakao Abau dan ingin meningkatkan volume melalui partisipasi masyarakat dari petani lokal kami. Produk premium yang diproduksi di bawah Ratu Emma dari biji kakao kami akan tersedia di pasar global,” tambah Kamuri.
“Masyarakat Abau, khususnya Cloudy Bay, harus bangga karena biji Kakao mereka kini diakui sebagai salah satu yang terbaik di pasar khusus dunia dan telah sampai ke beberapa produsen cokelat terbaik di Eropa dan Selandia Baru. Yang lebih penting lagi, biji Kakao mereka telah sampai ke Queen Emma Chocolate, cokelat buatan dalam negeri kita.”
Ia juga memperoleh penghargaan Perak di Pacific Cacao & Chocolate Show Pacific Cup pertama yang merayakan 130 tahun sejarah Kakao di kawasan Pasifik
Ia juga memperoleh penghargaan Perak di Pacific Cacao & Chocolate Show Pacific Cup pertama yang merayakan 130 tahun sejarah Kakao di kawasan Pasifik. Selama mengikuti kegiatan waktu itu, Pacific Cacao & Chocolate Show dihadiri beberapa petani dari Pasifik yang menyediakan biji Kakao dan Raglan Chocolate, pembuat kerajinan coklat yang mengubah biji kakao menjadi coklat cantik berstandar internasional. Produk ini masuk n ke dalam piala Pasifik. Para juri menghabiskan waktu di Raglan Chocolate selama minggu pertunjukan dan pada acara tersebut, masyarakat diundang untuk melakukan blind tasting. Pemenang diumumkan pada malam hari di Pacific Cacao & Chocolate Show VIP Awards. Hasilnya Kamuri mendapat penghargaan medali perak, demikian dikutip dari pasifikatv.co.nz
Kini di antara pepohonan di perkebunan yang dulunya tua dan tak terpakai, Kingstan Kamuri berdiri tegak. Anak laki-laki yang dulu bermain di reruntuhan itu kini menjadi pria yang menemukan petualangan untuk menghidupkan kembali reruntuhan itu. Kakao di perkebunan tua kembali menghidupkan dan menggerakan ekonomi di Distrik Abau, Provinsi Tengah Papua Nugini.(*)






















Discussion about this post