Thailand, Jubi — Tim riset dari Papua menyelesaikan rangkaian wawancara dengan tokoh agama, aktor kemanusiaan, dan aktivis masyarakat sipil selama sepekan di Patani, provinsi di wilayah Thailand Selatan.
Dari hasil wawancara tersebut, sejumlah tokoh Patani mengungkapkan keinginan mereka untuk merdeka dari Kerajaan Thailand secara damai dan bermartabat.
Anggota tim riset Papua, Pastor Heryberto Lobya, OSA Sorong menyebutkan pernyataan itu muncul dalam diskusi tertutup dengan tokoh-tokoh agama Islam dan aktivis Melayu Patani, yang selama ini terlibat dalam advokasi kemanusiaan dan perdamaian di wilayah tersebut.
“Beberapa tokoh menyampaikan aspirasi kemerdekaan secara damai, dengan menekankan pendekatan bermartabat manusia dan tanpa kekerasan,” kata Pastor Heryberto di Thailand, Senin (26/1/2026).
Menurutnya, Patani, bersama wilayah Yala dan Narathiwat, dikenal sebagai kawasan dengan mayoritas etnis Melayu Muslim. Memiliki identitas budaya, bahasa, dan agama yang berbeda dari mayoritas penduduk Thailand.
Wilayah ini memiliki sejarah panjang sebagai Kesultanan Patani sebelum ditaklukkan Siam pada 1785, dan sejak itu menghadapi kebijakan integrasi serta asimilasi budaya dari pemerintah Kerajaan Thailand.
Secara sosial budaya, masyarakat Patani menggunakan bahasa Melayu Patani (Yawi) dalam kehidupan sehari-hari dan mempertahankan tradisi Islam yang kuat. Ekonomi lokal bertumpu pada pertanian, perikanan, serta industri kerajinan seperti batik, pakaian Muslim, dan produksi ikan asin.
Dalam sejarah perjuangan, tokoh seperti Tuan Guru Haji Sulong dikenal sebagai figur penting dalam memperjuangkan hak pendidikan dan identitas Melayu Muslim di Thailand Selatan.
Hingga kini, masyarakat Patani terus mempertahankan tradisi lokal sebagai penanda identitas mereka di tengah negara Thailand yang mayoritas beragama Buddha.
Sementara itu, tim riset dari Patani dijadwalkan mengunjungi Papua pada akhir Januari 2026, untuk melakukan wawancara dengan tokoh agama dan aktivis kemanusiaan di Jayapura, Sorong, dan Merauke.
Pertukaran tim ini merupakan bagian dari program riset lintas wilayah yang bertujuan memperkuat dokumentasi konflik dan solidaritas kemanusiaan antara masyarakat Papua dan Patani. (*)
























Discussion about this post