Nabire, Jubi – Seorang guru SD yang sedang hamil bersama tiga anaknya tewas tertimbun longsor di Kampung Bukapa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Pengah pada Minggu (4/8/2024) sekitar pukul 23.00 WIT. Demikian disampaikan Kepala Distrik Kamuu Frans Dogomo kepada Jubi.id via telepon, Senin (5/8/2024)
Guru bernama Dortea Iyai SPd (28 tahun) itu mengajar di SD Negeri Inpres Pona di Muniopa, Distrik Kamuu. Ia tewas bersama janin dalam kandungan dan tiga anaknya bernama Dekris Ode Anou (9 tahun), Enjelia Anou (6), Benny Anou (3 tahun). “Seorang di antara anaknya masih belum ditemukan dan sedang dicari,” katanya.

Frans Dogomo menceritakan, hujan lebat yang mengguyur wilayah tiga kampung, yaitu Kampung Bukapa, Kampung Putapa, dan Kampung Yepo di Distrik Kamuu menyebabkan terjadi banjir dan longsor di beberapa lokasi. Lonsor terjadi di dua kampung, yaitu Bukapa dan Yepo.
“Untuk Kampung Yepo hanya rumah yang dihuni satu keluarga yang tertimbun longsor, tapi tidak ada korban jiwa,” ujarnya.
Selain longsor, sejumlah rumah juga terendam banjir di ketiga kampung. Di Kampung Putapa lebih 100 rumah terendam banjir. Dogomo mengatakan banjir saat ini tidak seperti biasa, karena rumah-rumah yang tidak biasa terkena banjir, juga terkena banjir.
“Apalagi rumah-rumah yang sering terdampak banjir akibat hujan lebat,” katanya.
Bencana longsor, kata Dogomo, juga baru pertama kali terjadi di Distrik Kamuu.
Selain rumah penduduk, sejumlah sekolah juga terendam banjir. Sekolah yang terendam banjir adalah SD Inpres Muniopa, SD Inpres Yepo, SD Inpres Pona di Muniopo, serta TK dan SD Yayasan Kasih Bapak di Kampung Yepo. Korban lainnya adalah ternak penduduk.
Kepala Distrik Kamuu Frans Dogomo mengatakan sudah melaporkan peristiwa bencana alam tersebut kepada Penjabat Bupati Dogiyai. Penjabat Bupati Dogiyai Marthen Ukago, katanya, sudah mengumpulkan semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis untuk segera menangani korban jiwa dan bencana di distrinya.
Penjabat Bupati, tambahnya, kemudian memerintahkan Asisten II, kepala BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), Dinas Sosial, Kasat Pol Pamong Praja, beberapa masyarakat untuk memastikan kejadian tersebut.

“Dan Penjabat Bupati baru saja merespon, mereka datang ke kampung yang terkena bencana sekitar pukul 5 pagi, mereka sampaikan kejadian dan proses pencarian korban pakai tenaga manual, terus apa adanya, mereka menyampaikan keluhan mereka, kemudian Penjabat Bupati penuhi kebutuhan mereka, seperti peti mayat untuk korban musibah,” katanya.
Penjabat Bupati, lanjut Dogomo, juga berjanji memenuhi kebutuhan pokok atau sembako dan peralatan untuk mencari korban.
“Penjabat Bupati membantu genset, alkon, senter, baterai, dan terpal untuk dipakai warga yang sementara mencari satu korban yang hilang. Respon cepat dari pemerintah secara serius,” ujarya.
Menurut Dogomo, sejauh ini Pemprov Papua Tengah belum memberikan bantuan
Dogomo mengatakan akibat longsor dan banjir sejumlah warga terpaksa mengungsi ke rumah keluarga terdekat. Sedangkan OPD teknis dari Pemkab Dogiyai sedang melakukan pendataan korban, jumlah pengungsi, dan kerugian material.
Sejauh ini, katanya, belum ada posko sentral untuk pengungsian. Namun keluarga yang terkena longsor dibantu alat kelengkapannya di lokasi pengungsian sementara.
Pihak gereja, masyarakat, dan OPD, kata Dogomo sudah melihat ke lapangan. Saat ke lapangan pada Senin siang ukuran air banjir selutut. Namun pada sore hari air naik hingga sedada orang dewasa.
“Tadinya warga harus menggunakan kendaraan roda dua, tetapi sampai malam ini warga menggunakan speed boat untuk masuk ke perkampungan. Akses transportasi darat tidak bisa tembus, semoga malam ini tidak hujan agar air tidak naik,” ujarnya.

Antisipasi ke depan
Dogomo mengatakan, banjir seperti itu jarang terjadi, bahkan ada beberapa lokasi yang tak pernah mengalaminya. Ia mengaku sudah beberapa kali menyampaikan kepada dinas terkait, badan wilayah sungai, dan Bappeda Provinsi Papua Tengah untuk mengubah jalur air yang lama. Ia mengatakan bahan pernah mengusulkannya dengan mengajukan proposal.
“Kalau bisa ubah jalur kali besar agar kampung-kampung tidak terdampak banjir,” katanya.
Pemerintah, kata Dogomo, haru serius menghadapi ancaman banjir tersebut, karena sumber pendapatan dan penghidupan masyarakat satu-satunya adalah berkebun dan kebun mereka tergenang.
“Kalau pemerintah lakukan pembiaran, balai wilayah sungai tidak merespon dengan baik, kampung-kampung itu akan terdampak banjir terus,” ujarnya.
Pastor Paroki St Petrus Benyamin Magai Pr Mauwa mengunjungi umat Stasi Sta Veronika Muniopa yan terkena nencana banjir pada Senin, 5 Agustus 2024.
“Saya melakukan kunjungan ke lapangan untuk melihat langsung situasi umat di Kampung Muniopa dan sekitarnya yang terkena bencana banjir bandang dan longsor,” katanya.
Magai mengatakan wilayah yang terdampak banjir merupakan salah satu stasi pelayanan Gereja Katolik St Petrus Mauwa, yakni Stasi Sta. Veronika Muniopa yang terdiri dari tiga kombas.
“Banjir dan genangan air telah merendam seluruh kapel Gereja dan sekitar 80 persen rumah umat. Kerugian material sangat besar dengan tanaman dan beberapa ternak babi yang terbawa arus banjir,” ujarnya.
Dalam insiden tersebut, katanya, ada lima orang dilaporkan meninggal dunia akibat longsor, setelah hujan deras selama beberapa hari di wilayah Dogiyai, khususnya di Muniopa.
“Banjir ini telah merendam seluruh wilayah, termasuk jalan raya, sehingga mobilitas warga sangat terhambat,” katanya.

Menurut Magai jalanan yang biasanya dilalui kendaraan roda dua dan empat, serta pejalan kaki, kini sulit dilewati, memaksa warga untuk mencari jalan pintas yang lebih jauh jika ingin menuju atau kembali dari Kota Dogiyai.
“Pastor Benny menyampaikan harapannya agar pengalaman ini menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang. Ia menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah dan masyarakat di wilayah terdampak untuk mencegah terjadinya bencana serupa di masa mendatang,” ujarnya.
Magai mengatakan, sebagai seorang pastor paroki, kunjungan tersebut bentuk kepedulian dan dukungan rohani bagi umatnya yang sedang menghadapi cobaan berat.
“Kehadirannya di tengah-tengah umat yang terdampak dapat memberikan kekuatan dan semangat dalam menghadapi situasi sulit ini. Saya juga berdoa agar umat dan seluruh masyarakat yang terkena dampak banjir dapat melewati bencana ini dengan tabah dan penuh harapan,” katanya. (*)























Discussion about this post