Nabire, Jubi – Pelaksana Tugas Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Nabire Yermias Degei menyampaikan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Nabire terus meningkat setiap tahun dalam tiga tahun terakhir.
Pada 2021 IPM Kabupaten Nabire 69,15 poin, meningkat pada 2022 menjadi 69,91 poin, dan meningkat lagi pada 2023 menjadi 70,83 poin. “Itu masuk kategori IPM tinggi,” katanya saat peluncuran buku ‘Kaleidoskop Pencapaian Pembangunan Kabupaten Nabire Tahun 2021 sampai 2023 pada Masa Kepemimpinan Mesak Magai dan Ismail Djamaluddin Dalam Angka dan Tabel di Aula Kantor Dinas Kominfo Kabupaten Nabire, Rabu (20/11/2024).
Meski meningkat dan sudah melebihi 70 poin, IPM Kabupaten Nabire masih di bawah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang pada 2021 sebesar 72,29 poin, 2022 sebesar 72,91 poin, dan 2023 sebesar 74,39 poin.
Degei menjelaskan pencapaian IPM sutu daerah dilihat dari beberapa komponen, yaitu angka harapan hidup, harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah, dan pengeluaran per kapita. Di Kabupaten Nabire beberapa komponen ini mengalami peningkatan setiap tahun.
Ia mencontohkan angka harapan hidup pada 2021 Nabire berada pada angka 68,15, pada 2022 pada angka 68,41, dan pada 2023 berada pada angka 68,73.
“Begitu juga dengan komponen IPM lainnya. Ya, pencapaian yang luar biasa dari pemerintah yang terus meningkatkan kualitas kerja yang berdampak bagi masyarakat,” katanya.

Di Provinsi Papua Tengah, kata Degei, hanya dua kabupaten yang sudah masuk ke poin kategori tinggi atau mencapai 70 poin, yaitu Mimika dan Nabire. Kabupaten Mimika sudah mencapai IPM 70,4 poin sejak sepuluh tahun lalu atau 2014. IPM Kabupaten Mimika pada 2023 adalah 75,91 poin.
Degei mengatakan, penilaian IPM di dalam buku yang dirilisnya berdasarkan standar UNDP (United Nations Development Programme).
“Ada rumus-rumus dan ini juga kami komparasi dengan data BPS, karena kami ambil data dari OPD, Bappeda, jadi sekalian saya klarifikasi bahwa jangan sampai orang beranggapan bahwa karena pemerintah jadi mereka memproduksi berita semau mereka,” katanya.
Sebenarnya, lanjut Degei, pihaknya tidak memakai indikator-indikator untuk menilai. “Nabire sudah menjadi ibu kota provinsi sehingga kami harus menyediakan data-data real di lapangan dan sebagai penyedia data untuk dapat digunakan di lapangan,” ujarnya.
Tujuan penerbitan buku kaleidoskop tersebut, kata Degei, untuk meningkatkan keterbukaan informasi, memperkuat akuntabilitas pemerintah, menjadi referensi dan alat evaluasi, serta mendorong partisipasi masyarakat.
“Kami harap dengan adanya buku ini kami transparansi dalam membangun kepercayaan masyarakat. Dengan data dan informasi yang kami sajikan, masyarakat memahami proses dan hasil pembangunan yang telah dicapai,” katanya.
Kemudian, kata Degei, dapat memfasilitasi keterlibatan masyarakat dengan memberikan masukan yang konstruktif dan berperan aktif dalam proses pembangunan daerah. Selain itu masyarakat, pembuat kebijakan, akademisi, dan pihak-pihak terkait lainnya dapat memanfaatkan informasi yang tersaji untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang lebih efektif dan berkelanjutan.
“Buku ini diharapkan tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga sebagai alat evaluasi dan perencanaan yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan pembangunan di Kabupaten Nabire,” ujarnya.
Ia berharap agar dukungan dan kerja sama yang terjalin terus berlanjut dalam menghadapi tantangan pembangunan.
“Mari kita tingkatkan sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan semua pihak untuk dapat menghadapi berbagai tantangan dan meraih visi kita untuk menjadikan Kabupaten Nabire sebagai daerah yang lebih maju, sejahtera, dan berdaya saing secara berkelanjutan,” katanya.
Warga Nabire, Frans Gobay mengapresiasi capaian Pemkab Nabire dalam tiga tahun terakhir.
“Terlepas dari angka-angka di atas, kami bisa melihat pembangunan jalan, rehabilitasi jalan-jalan di lorong-lorong di Nabire, kemudian pembangunan pasar mama-mama, dan lainnya, berjalan baik. Ini satu kemajuan yang luar biasa, beda dengan bupati-bupati sebelumnya,” ujarnya.
Menurut Gobay kinerja Pemkab Nabire seperti ini harus dipertahankan atau dikembangkan lebih jauh.
“Kami sebagai masyarakat biasa berharap agar ke depan siapapun yang akan memimpin pemerintahan di Kabupaten Nabire bisa sediakan Wifi gratis di Kabupaten Nabire, supaya masyarakat bisa mengakses Wifi gratis untuk mendukung kemajuan pembangunan di Nabire sebagai ibukota Papua Tengah,” katanya.
Pencapaian lima misi
Terkait peluncuran buku, Pelaksana Tugas Bupati Kabupaten Nabire Ismail Djamaluddin menjelaskan tentang evaluasi pencapaian lima misi periode 2022-2023, di mana ia bersama Mesak Magai berupaya mewujudnyatakan visi dan misi yang diusung.
Ia membeberkan pencapaian kelima misi. Misi pertama, menciptakan harmonisasi kehidupan sosial, stabilitas keamanan dan kenyamanan. Hasil evaluasi, jelasnya, menunjukkan bahwa capaian kinerja pemerintah daerah pada target yang tertuang dalam RPJMD Kabupaten Nabire 2021-2026.

“Misi Pertama selama dua tahun (2022-2023) secara umum sangat tinggi, yaitu 2022 mencapai 120,87 dan 2023 mencapai 144.08,” katanya.
Menurutnya ada empat indikator pada misi pertama. “Tiga dari empat indikator selama dua tahun sangat tinggi dan indikator ‘etnis/suku agama/ormas dan LSM yang mengalami pendidikan politik dan wawasan kebangsaarn’ masih tergolong rendah sehingga memerlukan perhatian pada tahun-tahun mendatang,” ujarnya.
Misi kedua adalah meningkatkan kualitas SDM yang unggul, sehat, berdaya saing, dan berkarakter. Sesuai target yang tertuang pada RPJMD persentase tinggi pada 2022 mencapai 80,36 dan 2023 mencapai 93,45.
“Terdapat beberapa capain dari indikator belum terdata sehingga sangat memengaruhi dalam menentukan capaian kinerja pada misi ini,” katanya.
Hal ini, tambahnya, terlihat dari beberapa sasaran masih menampilkan kinerja yang rendah. Namun pada beberapa indikator terdapat nilai yang sangat tinggi sehingga capaian kinerja terhadap misi kedua tinggi.
Sedangkan misi ketiga adalah meningkatkan kedaulatan ekonomi kerakyatan yang berbasis potensi dan kearifan lokal. Sesuai target dalam RPJMD, pencapaian kinerja persentase sedang.
“Yaitu pada 2022 mencapai 71,37 dan 2023 mencapai 75,05. Walaupun persentase sedang, dibandingkan dengan kondisi awal atau 2020 dan 2021, maka pada 2022 dan 2023 telah berkembang dengan baik,” ujarnya.
Misi keempat adalah meningkatkan pembangunan infrastruktur yang merata berdasarkan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Menurutnya capaian kinerja tinggi, yaitu pada 2022 mencapai 86,38 dan pada tahun 2023 mencapai 88,23.
“Terdapat beberapa indikator kinerja dengan nilai rendah dan beberapa beberapa sasaran sangat tinggi sehingga apabila dilihat dari keseluruhan capaian kinerja pemerintah daerah pada misi empat, yaitu tinggi,” kata Ismail Djamaluddin.
Kemudian misi kelima reformasi birokrasi. Sesuai target RPJMD, capaian misi ini sangat tinggi, yaitu pada 2022 mencapai 103,52 dan pada 2023 mencapai 107,65.
“Hal ini dikarenakan perangkat daerah yang berkaitan langsung dengan capaian kinerja pada misi kelima menjalankan sistem perangkat daerah dengan baik. Ini dapat terlihat dari capaian kinerja pada hampir semua sasaran mendapatkan nilai yang sangat tinggi,” ujarnya.
Ismail Djamaludin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak dan golongan yang mendukung masa kepemimpinannya. Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap seluruh OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Periode 2022-2024 yang telah bekerja keras dan berdedikasi tinggi dalam melaksanakan berbagai program dan kebijakan strategis, baik di bidang infrastruktur, kesehatan, pendidikan, ekonomi, maupun sosial, yang telah memberikan dampak positif yang signifikan bagi kemajuan Kabupaten Nabire.
“Kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Kabupaten Nabire yang telah mendukung setiap inisiatif dan program pembangunan. Dukungan Anda dalam berbagai bentuk, baik melalui partisipasi aktif dalam kegiatan pembangunan, saran dan masukan yang konstruktif, maupun kerja sama dalam menjaga ketertiban dan keamanan, merupakan pilar penting dalam keberhasilan pembangunan daerah. Kami menyadari bahwa tanpa dukungan Anda, banyak pencapaian yang telah kita raih tidak akan mungkin terwujud,” katanya.
Ismail mengatakan, dengan terbitnya buku tersebut, pihaknya berharap agar seluruh masyarakat, pembuat kebijakan, akademisi, dan pihak-pihak terkait lainnya dapat memanfaatkan informasi yang tersaji untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang lebih efektif dan berkelanjutan.
“Buku ini diharapkan tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga sebagai alat evaluasi dan perencanaan yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan pembangunan di Kabupaten Nabire,” ujarnya. (*)





















Discussion about this post