Enarotali, Jubi – Kampung Awabutu, Distrik Paniai Timur, Paniai, Papua dikabarkan telah berganti nama menjadi kampung Pancasila pada Rabu (7/9/2022).
Perubahan nama kampung Awabutu menjadi kampung Pancasila akhirnya mendapatkan kritikan. Asosiasi Masyarakat Adat (AMA) Paniai, Frans Yogi mengatakan, perubahan nama itu ternyata tanpa sepengetahuan dari masyarakat yang secara turun-temurun sudah menempati daerah tersebut sebagai pemilik mutlak atas tanah, pohon, air dan sebagainya.
Menurut Frans Yogi, dengan perubahan nama Awabutu menjadi Pancasila, ternyata tindakan inisiatif dari Dandim Deiyai 1703, Danramil Paniai Timur dan Pemerintah Daerah yang tidak melibatkan masyarakat dalam menyatakan pendapat untuk menerima atau menolak.
“Oleh sebab itulah masyarakat kampung Awabutu akan tetap menolak dan mempertahankan keasliannya sebagai kampung Awabutu. Karena tidak menjamin kami sebagai masyarakat pemilik hak ulayat di kampung Awabutu. Justru akan menimbulkan masalah dalam perubahan,” kata Frans Yogi kepada Jubi, Kamis (8/9/2022).
Pihaknya meminta dengan tegas kepada Pemerintah Daerah dan Dandim 1703/Deiyai segera mencabut pemberian nama kampung Pancasila, itu.
“Jika tidak mendengarkan masyarakat adat Awabutu, maka kami akan turun aksi agar segera mengembalikan keasliannya menjadi kampung Awabutu,” ujarnya.
Sementara, Kepala Distrik Paniai Timur, Alfred Yogi yang dikonfirmasi Jubi menegaskan, pihaknya sama sekali tidak mengubah nama kampung, melainkan pemberian nama Pancasila ini dilakukan sebagai salah satu kampung percontohan yang dijadikan sebagai dasar negara Indonesia.
“Tidak ubah nama kampung, sama sekali tidak. Kami tidak ubah nama kampung Awabutu menjadi kampung Pancasila, tidak. Hanya sebagai kampung percontohan yang dipedomani sebagai dasar negara Indonesia,” katanya.
Alfred mengatakan, ketika digelar pertemuan di kantor kampung Awabutu, seluruh elemen masyarakat hadir dan menyepakati. Namun terjadi persoalan di belakang hari, karena ada oknum tertentu yang memprovokasi warga yang tak tahu apa-apa.
“Terjadi perdebatan di sosial media seperti grup-grup WA dan facebook itulah yang menjadi biang masalah. Tadi kami selesaikan persoalan ini juga, padahal kemarin semua sudah sepakat bersama,” katanya.
Ia mengajak kepada semua kalangan terutama pemuda dan intelektual agar memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat agar dimengerti dengan baik.
“Daerah menjadi baik atau tidak ada di tangan kita, para sarjana atau intelektual hanya mudah terpancing lalu memberikan informasi yang tidak baik kepada masyarakat. Jangan begitu,” ujarnya. (*)





















