Jayapura, Jubi – Festival Cokelat Bougainville kembali hadir dengan Buin sebagai tuan rumah Festival Cokelat Bougainville tahunan ke-10 yang akan berlangsung pada 23 hingga 25 September 2026.
Kota Buin adalah sebuah kota pedalaman dan ibu kota administratif Distrik Bougainville Selatan di dalam Wilayah Otonom Bougainville , Papua Nugini (PNG).
Australia dan Selandia Baru sekali lagi dengan senang hati mendukung festival ini yang menyatukan petani kakao, pelaku bisnis, pakar industri, dan masyarakat untuk merayakan kakao Bougainville yang terkenal di dunia, sebagaimana dilansir Jubi dari laman tvwan.com.pg, Rabu (23/9/2026).
Kakao tetap menjadi salah satu komoditas pertanian terpenting di Bougainville dan sumber pendapatan utama bagi banyak rumah tangga.
Sejak dimulai sejak 2016, Festival Cokelat Bougainville telah berkembang menjadi acara besar bagi industri kakao di wilayah tersebut, menampilkan kualitas kakao Bougainville sekaligus mengakui para petani, pelaku bisnis, dan masyarakat di balik kesuksesannya.
Festival ini juga mempromosikan usaha kakao lokal dan produk cokelat, membantu meningkatkan profil kakao Bougainville di pasar nasional dan internasional.
Dirayakan dengan tema, “Kakao Bougainville, Kebanggaan Kita, Masa Depan Kita: Mempromosikan Keunggulan Kakao, Pertanian Berkelanjutan, dan Praktik Pariwisata untuk Pertumbuhan Ekonomi Inklusif,” program tiga hari ini akan menampilkan seminar industri, pameran perdagangan dan produk, pencicipan cokelat, pertunjukan budaya, dan kompetisi pembuatan kue.
Perusahaan-perusahaan lokal memainkan peran kunci dalam mensponsori festival ini, termasuk Anggota Parlemen untuk Bougainville Selatan, Timothy Masiu, yang juga turut berkontribusi.
Perayaan akan berlangsung dari pukul 9 pagi hingga 5 sore setiap hari selama tiga hari, dan petani, pelaku bisnis, masyarakat, dan pengunjung dipersilakan untuk hadir.
Festival Cokelat Bougainville adalah inisiatif Pemerintah Otonom Bougainville, yang dipimpin oleh Departemen Industri Primer dan didukung oleh Otoritas Seni, Budaya, dan Pariwisata Bougainville dalam kemitraan dengan Pemerintah Australia dan Selandia Baru.
Daerah Otonom Bougainville telah menjadi wilayah penghasil kakao terbesar di Papua Nugini pada 2025, dengan pendapatan hingga saat ini mencapai K540 juta (1 Kina = Rp 4500,-).
Wilayah ini memimpin semua provinsi dalam pendapatan kakao, dengan total pendapatan kakao negara diperkirakan mencapai rekor K1,5 miliar.
Peningkatan besar ini terutama disebabkan oleh harga kakao dunia yang melonjak dari USD $4.200 menjadi lebih dari USD $10.000 per ton.
Kenaikan harga ini disebabkan oleh masalah di Ghana dan Pantai Gading, di mana kekeringan dan penyakit telah memengaruhi pasokan kakao.
Papua Nugini telah memproduksi sekitar 42.000 ton kakao dan memanfaatkan kelangkaan global. Permintaan akan kakao berkualitas tinggi dari PNG juga meningkat.
Provinsi lain yang memperoleh pendapatan besar dari kakao termasuk East Sepik dengan K310 juta dan East New Britain dengan K210 juta.
Ledakan produksi kakao ini merupakan kabar baik bagi para petani dan sangat membantu perekonomian negara.
Sementara itu, Dewan Kakao PNG telah meluncurkan Rencana Korporat 2026–2028 di Kokopo, Provinsi East New Britain, yang menguraikan peta jalan strategis untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan produktivitas, dan membangun industri kakao yang tangguh.
Sekretaris Departemen Perencanaan dan Pemantauan Nasional, Koney Samuel, mengatakan bahwa rencana ini hadir pada saat yang kritis bagi sektor kakao negara dan memberikan arahan yang jelas untuk pertumbuhan berkelanjutan yang selaras dengan agenda pembangunan nasional Pemerintah.
“Kakao tetap menjadi salah satu komoditas pertanian terpenting di Papua Nugini, yang menopang lebih dari 100.000 petani kecil dan sekitar 151.000 rumah tangga di 14 provinsi penghasil kakao,” kata Samuel.
Ia mencatat bahwa Papua Nugini diakui secara internasional sebagai penghasil kakao dengan cita rasa istimewa, memasok sekitar satu persen dari pasar global, yang menempatkan negara tersebut pada posisi kompetitif di pasar ekspor premium.
Rencana Korporasi menguraikan prioritas utama termasuk perluasan produksi, peningkatan standar kualitas, promosi pengolahan hilir dan penambahan nilai, serta penguatan akses pasar.
Menteri Pertanian, PNG, John Boito mengatakan bahwa rencana ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mendorong pembangunan nasional melalui pertanian.
Mengutip laman internet, www.tridge.com pada 2024, Papua Nugini menempati peringkat ke-14 secara global untuk produksi biji kakao, menyumbang 0,86% dari total produksi global.
Total produksi biji kakao Papua Nugini pada tahun 2024 adalah 45.000 metrik ton. Produksi biji kakao Papua Nugini telah meningkat sebesar 10,02% selama 5 tahun terakhir, naik dari 40.900 metrik ton pada tahun 2020 menjadi 45.000 metrik ton pada tahun 2024.
Sebelumnya pada 2021, Papua Nugini menempati peringkat ke-12 dalam ekspor biji kakao global. Papua Nugini menyumbang sekitar 0,9% dari total nilai ekspor biji kakao global, dengan nilai ekspor sebesar 83.265.343 USD.
Negara-negara pengimpor biji kakao terbesar dari Papua Nugini meliputi negara-negara di dunia, Malaysia, Indonesia, Belgia, dan Amerika Serikat.
Sedangkan berdasarkan data The International Cocoa Organization (ICCO) pada 2025, produksi kakao Indonesia mencapai 200.000 ton per tahun.
Jumlah itu turun dari produksi pada 2005–2006 yang mencapai sekitar 590.000 ton di tahun 2005 atau 2006.
Indonesia merupakan produsen biji kakao terbesar ketujuh di dunia, dan merupakan satu-satunya negara penghasil kakao yang terletak di benua Asia. (*)






















Discussion about this post