Sentani, Jubi – Delapan tahun setelah diresmikan, Pasar Pharaa Sentani masih menjadi denyut ekonomi terbesar di Kabupaten Jayapura. Namun, di balik keramaian transaksi setiap hari, tersimpan persoalan klasik: fasilitas rusak, data pedagang tak tertata rapi, keamanan rapuh, dan mama-mama Papua yang berjualan di pelataran harus bertahan hidup dengan kondisi serba terbatas.
Sejak 5 Juni 2025, jabatan Kepala Pasar Pharaa resmi diemban oleh Yohanes Kallem. Ia mewarisi pasar dengan segudang masalah yang harus segera dibenahi—dari pengelompokan pedagang hingga ketersediaan fasilitas dasar.

Menata Ulang Pasar
Kalem menyebut langkah awal yang dilakukan adalah penataan pedagang ke los-los resmi. Kebakaran yang melanda Los B dan Los C membuat sebagian pedagang harus direlokasi ke area parkir depan atas perintah Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jayapura.
“Dalam waktu dekat kami akan kelompokkan pedagang sesuai los. Dua los terbakar, pedagangnya sementara ditempatkan di parkiran depan,” ujar Kalem di Sentani.

Dari pendataan terakhir pada Juli 2025, tercatat 498 pedagang terdata. Mereka tersebar di berbagai los dan lorong, termasuk 89 pedagang ikan, 51 pedagang Los A, 82 di parkiran depan, 25 di Los D, dan puluhan lainnya di lorong dan kios swadaya. Namun, jumlah itu belum mencakup pedagang pelataran yang diperkirakan lebih dari 100 orang, mayoritas adalah Orang Asli Papua (OAP).
Ironisnya, dari total pedagang berkios, hanya 47 orang adalah OAP, sementara 451 lainnya non-OAP. Fakta ini menegaskan jurang keterbatasan akses bagi mama-mama Papua untuk memiliki kios permanen di pasar milik mereka sendiri.
Fasilitas yang Setengah Mati
Pasar Pharaa memiliki lima los utama, namun hanya toilet di Los A yang berfungsi. Toilet Los B dan C hancur akibat kebakaran, sedangkan Los D dan E tidak beroperasi karena ketiadaan pasokan air.
“Kami baru perbaiki air di Los A. Ke depan, kami akan usahakan pengadaan sumur bor untuk mengoperasikan Los D dan E,” kata Kalem.
Namun bagi para pedagang, perbaikan toilet hanya salah satu dari sekian kebutuhan mendesak. Penerangan dan kebersihan pasar tak kalah krusial. Pasar ini sejak awal hampir tidak pernah memiliki lampu yang berfungsi. Pedagang yang ingin tetap berjualan di malam hari harus membayar Rp25 ribu per lampu per bulan kepada pemilik kios yang menyambungkan listrik dari sumber pribadi.
Jika pasokan solar untuk truk sampah terhambat, gunungan sampah pun menumpuk dan bau busuk menyelimuti pasar. “Kalau solar tidak ada, sampah menumpuk. Itu masalah utama. Kalau BBM lancar, pasar aman,” jelas Kalem.
Keamanan yang Rapuh
Sejak 2019, Pasar Pharaa tidak lagi memiliki petugas keamanan resmi. Kondisi ini membuat pedagang harus bergiliran menjaga keamanan, terutama di malam hari.
“Dulu ada security, tapi sejak 2019 tidak ada lagi. Sekarang pedagang jaga sendiri,” ujar Kalem.
Situasi ini membuka ruang bagi kerawanan sosial. Orang mabuk sering berkeliaran di pasar, mengganggu mama-mama OAP yang berjualan di pelataran. Pencurian barang dagangan pun kerap terjadi.
Salah satu pedagang, Sudirman 42 Tahun, asal Makassar juga mengeluh kondisi pasar yang sejak lama dinilai memprihatinkan. Fasilitas minim, got sering tersumbat, area pasar tergenang banjir ketika hujan, dan penerangan yang buruk membuat suasana pasar gelap gulita pada malam hari.

“Keamanan juga sering bikin was-was, tapi karena kita sama-sama warga lama dan baru, jadi masih saling menjaga,” tutur Sudirman.
Keluhan lain yang disuarakan para pedagang adalah beban retribusi yang dinilai semakin menekan. Saat ini retribusi harian naik menjadi Rp7.000, sementara pedagang pelataran dikenakan Rp5.000 per hari. Belum lagi pajak tahunan yang mencapai Rp60.000.
“Bayar retribusi lancar, tapi fasilitas tidak diperhatikan. Kami hanya berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki pasar, karena data pedagang juga sudah diambil langsung oleh pemda,” ucap Sudirman.
Sudirman yang pernah kehilangan dua los kiosnya akibat kebakaran hebat yang melanda Pasar Pharaa beberapa waktu lalu, berharap kebakaran tersebut dapat menjadi pengingat bagi pemerintah daerah untuk lebih serius menangani kondisi pasar. Tidak hanya memperbaiki bangunan pasca kebakaran, tetapi juga memperhatikan keluhan pedagang yang selama ini merasa terbebani dengan pungutan tanpa mendapat fasilitas layak.
Mama-Mama Papua: Wajah Asli Pasar Pharaa
Di pasar ini, terlihat ratusan mama Papua duduk berdagang di pelataran dengan beralaskan tanah dan terpal lusuh. Mereka menjual hasil kebun: ubi jalar, sayur gunung, pinang, hingga ikan danau. Salah satunya adalah Yuliana Mehue, alumni Universitas Cenderawasih angkatan 2006 yang kini menggantungkan hidup dari lapak kecilnya.

Suaminya telah tiada, ia sendirian membesarkan tiga anak. Anak sulungnya sudah lulus kuliah, sementara dua lainnya masih duduk di bangku SD dan SMA. “Saya ini sendiri urus semua. Kadang kalau keluarga datang minta uang, saya kasih sepuluh ribu, dua puluh ribu. Padahal modal juga sudah habis,” katanya lirih.
Beban harian Yuliana bisa mencapai Rp100 ribu. Dari ongkos ojek Rp20 ribu sekali jalan, biaya makan minimal Rp10 ribu per kali, hingga retribusi harian Rp7 ribu. Belum lagi listrik tambahan dan toilet berbayar Rp 10 ribu per sekali pakai.
Ia juga mengkritisi dua toilet di pasar yang dipakai pribadi. “Ada dua toilet yang dipakai secara pribadi. Satu oleh istri mantan kepala pasar dan satu toilet lagi digunakan secara pribadi oleh pedagang (berpengaruh,red),” jelasnya.

“Bangunan ini dari dulu tidak ada lampu. Jadi kami tarik kabel dari orang lain, terus bayar. Kalau gelap, kami harus pulang cepat. Paling jam enam atau tujuh sudah bubar, padahal banyak mama datang jam tiga atau empat pagi dari kampung,” jelasnya.
Harapan yang Sederhana
Di tengah kondisi pasar yang penuh keterbatasan, mama-mama Papua hanya menuntut hal-hal sederhana: penerangan, toilet layak, dan keamanan.
“Kalau ada lampu, kami bisa jual sampai malam, tidak takut. Kalau ada toilet yang layak, kami tidak perlu bayar mahal lagi. Itu saja, hal-hal kecil tapi penting untuk kami,” tegas Yuliana.
Penopang Ekonomi, Wajah Identitas
Pasar Pharaa bukan sekadar pusat jual beli. Ia adalah ruang perjumpaan identitas: antara pedagang formal dan informal, antara kios permanen dan lapak seadanya, antara pedagang OAP yang berjuang di gelap dengan pedagang non-OAP yang mendominasi.
Mama-mama Papua tetap menjadi wajah yang paling menonjol. Mereka adalah penopang keluarga, penggerak ekonomi rakyat, sekaligus simbol daya tahan di tengah abainya negara.
Di balik tumpukan sayur dan keranjang noken, mereka bertahan. Bertahan dalam gelap, demi sesuap nasi dan masa depan anak-anak mereka. (*)
Tulisan ini dikontribusi oleh Elwen dan Jeger ( Peserta Magang dari Honai Jurnalistik Kampung).






















Discussion about this post