Sentani, Jubi – Asei Besar dikenal sebagai salah satu perkampungan seniman tradisional di Kabupaten Jayapura. Mayoritas dari sekitar 700 penduduk mereka mahir membuat aneka lukisan bermotif tradisional pada lembaran kulit kayu dari pohon khombouw.
Kepala Kampung Asei Besar Anthoneta Ohee mengatakan ada sembilan kelompok perajin lukisan dari kulit kayu khombouw di kampung mereka. Setiap kelompok rata-rata beranggotakan 20 orang dan sebagian besarnya ialah perempuan.
“Sekitar 80 persen ibu rumah tangga [di Asei Besar] memproduksi lukisan dari kulit kayu khombouw sebagai salah satu sumber mata pencarian keluarga. Namun, ada juga perajin tidak bergabung dalam kelompok,” kata Anthoneta, saat Festival Kulit Kayu di Kampung Asei Besar, Rabu (9/10/2024).
Meskipun didominasi kalangan perempuan, pembuatan lukisan berkanvas kulit kayu khombouw juga melibatkan seluruh anggota keluarga. Mereka bahu-membahu dalam menyelesaikan lukisan.
“Lukisan dikerjakan di rumah perajin masing-masing, dan melibatkan anggota keluarga lain. Jadi, suami memberi tanda pada lukisan [membuat sketsa] dengan cat hitam, sedangkan istri dan anak-anaknya mewarnai lukisan dengan cat merah, ataupun warna lain,” kata Ohee.
Tradisi pembuatan lukisan berkanvas kulit kayu khombouw sudah berlangsung turun-temurun di Asei Besar. Keterampilan itu diwariskan dari generasi ke generasi.
Lukisan dari kulit kayu khombouw juga menjadi salah satu identitas budaya asli Suku Sentani. Kepopulerannya bahkan sudah mendunia.
“Lukisan dari kulit kayu khombouw sudah ada sejak sekitar tahun 1500. Lukisan tertua dari Marga Ohee kini disimpan di salah satu museum di Prancis,” kata Corlius Ohee, perajin lukisan khombouw di Kampung Asei Besar.
Menurutnya, keberadaan lukisan khombouw di Prancis tersebut pertama kali ditelusuri oleh Danielo Constantine Ayamiseba dan Arnold Clemens Ap. Mereka saat itu menjadi kurator di Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih.
Selain dijadikan hiasan dinding, dan beragam aksesori lain, kulit kayu khombouw semula merupakan bahan pakaian. Cerita asal-muasal penggunaan pakaian dari kulit kayu khombouw dengan motif khas tersebut cukup melegenda di Asei Besar.
“Pada zaman dahulu, seluruh masyarakat di sekitar Danau Sentani menggunakan pakaian berbahan kulit kayu khombouw. Namun, saat itu, ada dua anak perempuan bermukim di sekitar Gunung Robongholo [Cycloop] mengenakan rok yang dilukis pada bagian depannya,” kata Corlius.
Dia melanjutkan sepasang gadis cilik itu bernama Ayohoi dan Hedaikhoi. Ayohoi mengenakan rok bermotif igwa, sedangkan Hedaikhoi mengenakan motif helau.
Kebiasaan Ayohoi dan Hedaikhoi dalam berbusana tersebut diteruskan kepada generasi berikutnya. Mereka menjadikan igwa dan helau sebagai motif utama pada lukisan dari kulit kayu khombouw. (*)


























Discussion about this post