Jayapura, Jubi – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua bersama WWF-Indonesia Program Papua menyusun strategi konservasi untuk menyiapkan pemulihan populasi kura-kura moncong babi yang berstatus terancam punah di wilayah selatan Papua.
Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama BBKSDA Papua, Fikri Al-Mubarok di Jayapura, Jumat, mengatakan penyusunan strategi dan rencana aksi konservasi (SRAK) diperlukan untuk memastikan upaya perlindungan dan pemulihan populasi kura-kura moncong babi berjalan terarah, terukur, dan berkelanjutan.
“Pada Kamis (29/10) kami bersama WWF serta masyarakat adat, akademisi, peneliti, dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya menyusun strategi perlindungan dan pemulihan populasi kura-kura moncong babi yang berlangsung di Kantor BBKSDA Papua, melalui diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD),” katanya.
Menurut Fikri, tanpa strategi konservasi yang jelas dan target pemulihan populasi yang terukur, upaya pelestarian satwa tersebut berisiko berjalan secara parsial, tidak terkoordinasi, serta sulit dievaluasi keberhasilannya.
“Dan, berdasarkan hasil survei dan monitoring kami pada 2023, habitat kura-kura moncong babi tersebar di enam kabupaten di wilayah selatan Papua, yakni Asmat, Merauke, Nduga, Mappi, Mimika, dan Boven Digoel,” ujarnya.
Dia menjelaskan keberadaan satwa tersebut bergantung pada ekosistem perairan tawar, sungai, rawa, dan kawasan sekitarnya. Namun, populasinya menghadapi ancaman perburuan, perdagangan ilegal, pengambilan telur, serta kerusakan habitat akibat perubahan kondisi lingkungan.
“Sehingga berdasarkan peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018, kura-kura moncong babi merupakan satwa yang dilindungi. Secara internasional, spesies tersebut berstatus Endangered (EN) dalam daftar IUCN dan masuk Appendix II CITES,” katanya.
Dia menambahkan melalui penyusunan SRAK pihaknya berharap upaya pemulihan populasi kura-kura moncong babi dapat memiliki arah dan prioritas yang jelas, sekaligus memperkuat perlindungan habitat melalui kolaborasi multi pihak berbasis data ilmiah.
Sementara itu Spesialis Keanekaragaman Hayati dan Iklim WWF-Indonesia Program Papua, Ikhsan Anggoda mengatakan strategi konservasi yang disusun mencakup pemulihan populasi dengan target terukur, pengelolaan secara in-situ dan ex-situ, perlindungan keragaman genetik, serta pemeliharaan konektivitas habitat.
“Kajian konservasi diawali dengan survei di sejumlah titik sepanjang sungai untuk mengetahui kondisi habitat sekaligus memperkirakan jumlah populasi kura-kura moncong babi,” katanya.
Menurut Ikhsan, penelitian tersebut juga direncanakan menggunakan metode Capture-Mark-Recapture (CMR), yakni penandaan dan penangkapan kembali individu untuk memperkirakan jumlah populasi. Selain itu, kajian mencakup identifikasi karakteristik habitat, seperti substrat pasir, lokasi penelusuran, dan vegetasi di sekitar sungai.
“Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah dalam menentukan prioritas, strategi, dan arah upaya konservasi KKMB yang sesuai dengan kondisi populasi dan habitatnya,” ujarnya. (*)


























Discussion about this post