Jayapura, Jubi – Sabtu siang, 1 November 2025 itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIT, saat saya dan seorang teman memulai perjalanan dari Jayapura.
Hanya berdua, kami bertekad menuju Kampung Yewena dan Kampung Doromena di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, sebuah tempat yang namanya kami kenal hanya dari cerita teman, di jalur yang sama menuju Pantai Amai.
Tiba-tiba mendung menggelayut di langit Jayapura, nyaris membuyarkan perjalanan kami. Beruntung, jalan yang kami lalui dari Sentani melewati Kertosari, Dosay, dan Depapre sudah beraspal mulus. Jalur ini memang sudah familiar sebagai akses ke Pantai Amai.
Namun, jalan yang kami lalui menuju ke sana harus melewati tanjakan dan turunan yang curam. Jalanan itu diapit tebing bebatuan hijau dan jurang pada kedua sisinya.
Lepas dari Pantai Amai, kondisi jalan mendadak berubah. Aspal mulus berganti dengan jalanan rusak yang terasa kurang layak. Kami mulai diapit tebing tinggi dan hutan rimbun. Dari kejauhan, terlihat pemandangan indah Teluk Tanah Merah, meski sayangnya rintik hujan mulai turun membasahi kaca mobil.
Kami harus beberapa kali menghentikan kendaraan dan bertanya kepada warga yang melintas, di mana letak konservasi penyu itu. Warga bilang sudah dekat, hanya sekitar 30 menit dari Pantai Amai.
Setelah dua jam lebih di atas mobil, melewati Tablasupa, Yepase, dan Wambena, kami disuguhi pemandangan alam yang asri: aliran kali yang jernih, tebing hijau, dan birunya lautan. Kami akhirnya tiba di Kampung Doromena.
Kami memarkir mobil tepat di halaman rumah Ketua Dewan Adat Yewena-Yosu, Johanes Yonas Mentanaway. Di situ terpampang jelas plang nama Kelompok Markisi Nung, kelompok konservasi penyu yang digerakkan warga setempat, dengan dukungan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (Balai BKSDA) Papua dan Pertamina Patra Niaga.
Halaman rumah yang luas itu menjadi salah satu pusat kegiatan. Di belakangnya, berdiri kolam penampungan tukik yang beratapkan seng dan dinding yang serba berwarna biru.
Kolam itu bukan hanya menampung puluhan tukik, tapi juga induk penyu. Selain di situ, ada juga bak konservasi lain yang terletak di Kampung Yewena, lokasi awal penyu bertelur.
Di halaman ini pula berdiri sebuah patung misionaris dari Maluku, sebagai penanda sejarah masuknya Injil di kampung itu.
Suasana di Doromena sangat khas kampung pesisir. Kampungnya berada persis di pinggir lautan dengan perahu-perahu nelayan dan rompon terlihat di kejauhan.
Kampung yang berhadapan dengan samudra luas ini menyimpan tiga kisah unik yang saling terikat: konservasi, sejarah rohani, dan potensi pariwisata.
Tak ada lagi penyu belimbing
Tak butuh waktu lama, setelah menemui Ketua Dewan Adat Yewena-Yosu Johanes Yonas Mentanaway, kami berbincang dengan beliau tentang awal mula gerakkan konservasi penyu ini muncul.
Mentanaway bercerita, penyu menjadi salah satu hewan laut yang paling sering diburu karena memiliki tekstur daging yang sangat lezat untuk disantap.
Namun seiring berlalunya waktu, masyarakat perlahan mulai menyadari pentingnya menjaga ekosistem alam mereka, termasuk berupaya menghentikan praktik perburuan penyu.

“Kebiasaan turun-temurun itu membuat populasi penyu terancam. Jika dibiarkan, penyu akan hilang. Kalau lama-kelamaan diburu terus-menerus, ditangkap, akan habis, akan punah dari habitatnya,” katanya.
Mentanaway menjelaskan, mereka menerima dukungan dari Balai BKSDA Papua, karena konservasi dibangun di tengah masyarakat, yang menurutnya sangat baik untuk menjadi bahan edukasi bagi generasi muda. Juga upaya untuk menjadi aset ekowisata.
“Ini bisa menjadi bahan pelajaran buat anak-anak sekolah yang mau datang untuk belajar di sini, edukasi untuk mereka,” ujarnya.
Kami juga berbincang dengan Andi Indey, ketua Kelompok Markisi Nung. Ia beruia 32 tahun dan berlatar belakang sarjana ilmu kelautan. Indey menceritakan awal mula perjuangan untuk menyelamatkan penyu di kampungnya.
”Kelompok konservasi ini resmi berdiri tahun 2021. Tapi, kegiatan aslinya sudah dimulai Bapak saya sejak 1995. Awalnya, Bapak coba-coba dengan tiga butir telur penyu,” katanya.
Selama bertahun-tahun, kegiatan dilakukan seadanya dengan memelihara tukik di loyang-loyang besar di rumah. Baru 2021, pembangunan kolam penampungan di Doromena dimulai. Waktu itu wilayah Kampung Doromena masih satu dengan wilayah Kampung Yewena sekarang, lalu dipisahkan.
“Kami punya bak penampungan tukik ada dua. Satu di sini dan satunya lagi di Yewena, tepatnya di pantai yang merupakan tempat penyu mendarat untuk bertelur,” katanya.
Indey mengenang, penyu belimbing yang dulu sering mendarat, kini sudah tidak pernah terlihat lagi, mungkin karena trauma dari perburuan masa lalu. Kini, hanya penyu lekang, penyu sisik, dan penyu tempayang yang masih bertelur.
”Dulu, masyarakat ambil telur atau penyu, langsung lari. Tapi, sejak kelompok kami terbentuk, terutama setelah 2023 dan 2024 ini, sudah ada kesadaran. Sekarang, masyarakat yang dapat telur, mereka mengantar sendiri ke kelompok,” ujarnya.
Perubahan itu didorong oleh edukasi yang mereka berikan ke sekolah-sekolah di Doromena dan kampung sekitarnya. Bahkan Indey juga pernah ikut memberikan penyuluhan untuk konservasi penyu di Pantai Skouw.
“Kami beri edukasi ke anak-anak sekolah. Tujuannya, supaya anak-anak ini yang kemudian melarang orang tua mereka agar menjaga penyu,” katanya.

Saat ini, kelompok Markisi Nung yang ia gerakkan beranggotakan 19 orang, termasuk tetua kampung berusia 80 tahun yang merupakan pemilik hak ulayat di wilayah pantai.
Dukungan mengalir untuk menopang gerakan konservasi yang dilakukan Andi Indey bersama masyarakat Yewena dan Doromena. Tak hanya datang dari BBKSDA Papua, Pertamina Patra Niaga Regional Maluku Papua juga ikut andil dengan memberikan bantuan fasilitas pendukung seperti toilet.
Ribuan ekor tukik
Menurut catatan Kelompok Markisi Nung, pelepasan tukik dari jenis Penyu Lekang adalah yang terbanyak, yakni 458 ekor pada 2021, 638 ekor pada 2022, 835 ekor 2023, 325 ekor 2024, dan 1.412 ekor pada 2025.
Selain itu, ada 544 ekor tukik jenis Penyu Sisik dan 424 ekor tukik jenis Penyu Tempayang yang telah dilepasliarkan selama periode 2021 hingga 2025.
Taufik, pendamping pelestarian penyu dari BBKSDA Papua menjelaskan, inisiatif mandiri masyarakat tersebut bukti nyata praktik konservasi yang sudah tumbuh dari kecintaan terhadap alam.
Menurutnya inisiatif mandiri yang dilakukan masyarakat dalam melestarikan penyu adalah praktik konservasi yang tumbuh dari kecintaan dan kepedulian masyarakat terhadap alam sekitarnya.
“Ini adalah bukti nyata di tengah-tengah masyarakat Papua praktik konservasi itu sebenarnya sudah diterapkan, tapi praktik tersebut butuh dukungan,” ujarnya.
Dukungan juga berupa sarana prasarana seperti pembuatan bak penetasan, bak pembesaran, MCK, pelatihan teknis (monitoring sarang), serta studi banding untuk pengurus.
Dari tujuh jenis penyu di dunia, kata Taufik, enam di antaranya tersebar di Indonesia termasuk Papua.
“Untuk populasi di kampung Yewena, mulai dari tahun 2021, tiap tahun kita penetasan semi alami sampai ke pelepasliaran tukik rata-rata 900 sampai 1.000 ekor tukik tiap tahunnya dari jenis penyu lekang, penyu sisik, dan penyu hijau,” katanya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Iman Djuniawal menyebutkan konservasi adalah tanggung jawab bersama antara kabupaten kota dan provinsi, sejalan dengan dasar ekonomi biru.
“Penyelamatan terhadap biota atau satwa laut yang dilindungi ini perlu dilakukan perlakuan atau tindakan bagaimana yang harus kita lakukan,” katanya.

Menurutnya dengan adanya kelompok konservasi penyu yang mereka gerakkan itu, kerusakan ekosistem di laut sudah mulai berkurang, bahkan nyaris tak ada lagi, termasuk aktivitas ilegal seperti bom ikan di laut.
“Tradisi turun-temurun untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mencari ikan secukupnya juga masih berlaku sampai sekarang di sini,” kata Iman.
Di balik misi penyelamatan penyu di Kampung Yewena dan Doromena, ternyata ada cerita unik, seperti dituturkan Ketua Dewan Adat Yewena-Yosu Johanes Yonas Mentanaway. Cara mereka membaca tanda alam untuk memprediksi penyu bertelur tidak menggunakan kalender modern.
“Biasanya itu dilihat dari siklus kawin anjing di darat. Kalau anjing sudah kawin, sudah pasti mereka pergi bermalam di pasir. Begitu tanda alam itu muncul, mereka akan siaga. Seminggu itu jaga terus, pasti dapat induk penyu datang bertelur,” ujarnya.
Setelah menemukan telur di pasir pantai itu, masyarakat kemudian membawa dan memindahkan telur-telur itu ke tempat yang aman. Kemudian akan melewati proses penetasan sebelum menjadi tukik yang nantinya akan ditampung di bak penampungan sambil menunggu masa pelepasan.
Patung penginjil dan tatanan hidup baru
Di halaman rumah Ketua Dewan Adat yang luas itu, berdiri sebuah patung misionaris yang katanya berasal dari Maluku, bernama Yohanis Bremer. Patung itu adalah penanda sejarah masuknya Injil di Yewena-Doromena, awal kisah yang mengubah tatanan hidup di kampung itu.
Ketua Dewan Adat Johanes Yonas Mentanaway menceritakan, dahulu masa sulit menyelimuti Kampung Doromena dan sekitarnya, sebelum Injil masuk pada 12 Juli 1914 dibawa Penginjil Yohanis Bremer.
“Dulu kan masih dalam kegelapan. Praktik kekerasan, sihirkah, kayak-kayak begitu,” cerita Johanes.

Selain konflik, warga juga menghadapi tekanan kerja paksa. Bahkan Johanes menyebut beberapa dari marganya dahulu banyak yang dilempar ke luar pulau untuk dijadikan tenaga kerja paksa, ke Sarmi hingga Maluku.
“Marga saya termasuk banyak yang dilempar ke daerah Sarmi untuk kerja rodi. Malah ada yang ke Maluku sana oleh Belanda. Karena di sana untuk bersihkan tanaman cengkeh, pala, sekalian untuk panen, mereka ini dipakai tenaga untuk kepentingan itu,” katanya.
Karena situasi yang sulit, para pemimpin adat akhirnya menjemput Penginjil Bremer. Kedatangan rohaniawan ini membawa ‘peradaban baru’, membantu mengakhiri kekerasan dan menanamkan fondasi tatanan hidup yang lebih baik.
“Oleh sebab itu, keputusan di batu lingkar, ya, adat memutuskan beberapa orang pergi ambil penginjil ini,” ujarnya.
Ia menceritakan, penginjil Bremer bersama beberapa rekannya didatangkan oleh Belanda dari Maluku untuk membangun Kota Hollandia Binnen. Bremer, katanya, berlatar belakang pendidikan teknik yang memahami agama, aktif dan memiliki Yayasan Kristen.
“Waktu itu oleh Pemerintah Belanda, orang ini didatangkan. Di Maluku kira-kira waktu itu pendidikan teknik, sekolah teknik, punya yayasan Kristen. Jadi beliau-beliau ini diajar pendidikan agama juga. Jadi orang-orang ini didatangkan untuk bangun kota Hollandia Binnen,” katarnya.
Perjalanan spiritual Yohanis Bremer kini diabadikan menjadi monumen patung beton yang letak awalnya berada di pesisir pantai di belakang rumah Ketua Adat Johanis Yonas Mentanaway. Patung itu kemudian dipindahkan ke halaman karena abrasi. Yohanis Bremer kabarnya wafat di Makassar, Sulawesi Selatan.
“Jadi beliau hanya mendarat saja, menyebarkan Injil, dan memberikan pendidikan juga. Orang-orang di sini cari-cari tahu, dan kabarnya makamnya ada di Ujung Pandang,” ujarnya.
Andi Indey, Ketua Kelompok Markisi Nung, yang juga anak muda di kampung itu, menjelaskan korelasi Injil dengan alam.

“Kami juga menghubungkan konservasi ini dengan sisi kerohanian. Setiap ada perayaan Injil masuk, kami melakukan pelepasan penyu sebagai simbol ucapan syukur,” kata Andi.
Ia bersyukur, kini dengan adanya kelompok konservasi, kerusakan lingkungan seperti buang bom di laut sudah jarang terjadi, menunjukkan kembali harmonisasi antara iman dan alam.
“Saya baru pertama kali ke sini. Benar-benar indah, di sini semuanya ada, lengkap. Ada pantai, spot foto yang banyak pilihan, kali-kali yang jernih, ada sejarah masuknya penginjil, dan konservasi penyu,” kata salah satu pengunjung, Erianto.
Potensi wisata yang perlu dukungan akses jalan
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua, Iman Djuniawal mengatakan konservasi sebagai peluang wisata yang dapat menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Konservasi satwa menjadi fokus kabupaten-kota, karena angka aspek dari konservasi itu juga peluang wisata yang harus diberikan,” katanya.
Sehingga, lanjutnya, bisa menambah PAD bagi wilayah tersebut. Karena itu, perlu ada program-program khusus yang dikerjakan di wilayah konservasi tersebut yang nantinya akan membawa manfaat bagi masyarakat yang mengelolanya.
“Ini bisa saja diadakan atau dibuat proposal dan diajukan, namun semua bergantung pada keterbatasan dana,” kata Iman.BBKSDA Papua tak hanya memberikan dukungan, tapi juga pendampingan dengan membentuk kelembagaan pengelola yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk mengelola kawasan minat khusus wisata.
“Dukungan BBKSDA di sini juga berupa pembentukan kelembagaan pengelola ataupengurus agar kelompok ini bisa menjadi kelompok jasa wisata minat khusus yang berdaya ekonomi dan ekologi,” kata Taufik.
Menurut Andi Indey konservasi penyu memiliki peran penting menjaga keseimbangan ekosistem laut yang bisa memberikan dampak kepada perekonomian warga dari sumber mata pencaharian.

“Kalau ekosistem baik, masyarakat tidak perlu mencari ikan jauh-jauh, di pinggiran pantai pun mereka sudah bisa menangkap ikan,” kata Indey.
Ia berharap, kawasan konservasi di daerahnya bisa semakin dikenal luas, agar bisa memberikan dampak positif bagi warga setempat. Konservasi sebagai salah satu potensi pariwisata yang dapat menunjang ekonomi kampung.
“Dengan adanya kegiatan pelepasan penyu yang diminati wisatawan dari Jayapura, masyarakat yang berjualan di kampung bisa mendapat manfaat. Sampai saat ini, kami belum menetapkan biaya untuk pelepasan tukik oleh wisatawan, masih bersifat sukarela saja,” ujarnya.
Andi Indey dan masyarakat Kampung Doromena pernah bekerja sama dengan BBKSDA Papua pada 2020 untuk menggalang dana saat pelaksanaan Festival Mangga Golek. Kampug Doromena memang terkenal sebagai penghasil mangga manis dan segar.
Namun, potensi wisata di Kampung Yewena dan Kampung Doromena itu masih tertidur. Ketua Dewan Adat Johanes Mentanaway mengakui masalahnya adalah kurangnya pemahaman dan kepekaan terhadap dampak pariwisata.
“Orang-orang masih memilih melaut, hasilnya jual ke kota, warga belum peka melihat peluang ekonomi dari pariwisata,” katanya.
Ia menyuarakan harapan warga, berharap ada inisiatif kecil yang mendorong ekonomi lokal, maupun pembangunan infrastruktur yang layak agar daerah tersebut mudah dijangkau.
“Kami sudah sarankan, apa saja bisa dijual jika ada pengunjung yang datang, agar perekonomian masyarakat kampung bisa berkembang. Kami lihat konservasi ini potensi besar untuk ekonomi kampung. Dengan adanya kegiatan pelepasan penyu yang diminati wisatawan, masyarakat yang berjualan di kampung bisa mendapatkan manfaat,” ujarnya.
Untuk mewujudkan itu, ia berharap pemerintah bisa memperbaiki jalan dengan aspal. Jika jalan bagus pegunjung akan mudah mengakses kedua kampung,
Selain konservasi penyu yang berpotensi ekowisata, Kampung Doromena juga menyediakan home stay yang berada di halaman depan rumah Ketua Dewan Adat Yewena-Yosu. Tarifnya sesuai pesanan paket makanan, mulai dari Rp100 ribu.
Ada pula rompon-rompon yang berlabuh tak jauh dari pantai, disewakan untuk orang memancing. Di tambah lagi dengan pemandangan yang memukau di setiap perjalanan, serta aliran-aliran kali dengan air yang jernih. Yewena Doromena memang berpotensi menjadi paket lengkap sebagai destinasi wisata yang wajib dituju. (*)



















Discussion about this post