Jayapura, Jubi – Destinasi Wisata Pantai Holtekamp yang terkena dampak abrasi sejauh 6 sampai 7 meter. Abrasi itu terjadi ketika musim angin dan gelombang air laut terjadi setiap tahun pada bulan November hingga Januari dan April.
Hal itu dikatakan Kepala Kampung Holtekamp Abraham Merauje ketika ditemui wartawan Jubi di ruang kerjanya di kantor pemerintah Kampung Holtekamp jalan Hanura Holtekamp, Kecamatan Muara Tami, Kota Jayapura, Rabu (29/5/2024).
Abraham merauje mengatakan Pantai Holtekamp sejak lama terkena dampak abrasi akibat musim angin dan gelombang yang terjadi setiap akhir hingga awal tahun dengan jarak 6 sampai 7 meter. Dia menambahkan posisi abrasi pantai dengan badan jalan saat ini hanya berjarak 50 sampai 70 meter dan diperkirakan 10 atau 15 tahun ke depan akan berdampak serius pada jalan raya Tobati-Holtekamp yang menghubungkan Kota Jayapura dan Kabupaten keerom jika belum ada penangan jangka panjang oleh pemerintah.
“Apabila tidak diambil tindakan cepat untuk pemasangan kubus atau talud beton, tetap abrasi akan sampai ke jalan raya [Tobati-Holtekamp]. Penanganan ini tidak bisa ditangani pemerintah kota saja tapi juga pemerintah provinsi dan pusat. Karena ini terjadi pada umumnya sepanjang pantai mulai dari Jembatan merah Youtefa sampai Holtekamp. Dan jalan ini juga yang jadi penghubung antar kabupaten dan antara Indonesia dan Papua New Guinea,” katanya ketika diwawancara Jubi.

Merauje menyatakan selain dampak umum yang akan terjadi, dampak lain dari abrasi pantai Holtekamp dirasakan langsung oleh masyarakat pemilik area wisata pantai, masyarakat yang menduduki tepian pantai, dan masyarakat yang juga bermata pencaharian sebagai nelayan yang akan kehilangan tempat parkir perahu.
Dia menjelaskan jarak tepian pantai yang terkena abrasi dan pondok-pondok tempat berteduh di wisata pantai swadaya milik masyarakat setempat hanya tersisa 10 sampai 15 meter dari bibir pantai dan dikhawatirkan hilang pada waktu yang tidak terlalu lama.
Pemindahan makam karena abrasi
Abraham Merauje menjelaskan masyarakat bahkan telah memindahkan 80 makam di awal tahun ini, yang terancam akibat abrasi.
“Abrasi ini juga menyebabkan kami awal tahun 2024 ini terpaksa melakukan pemindahan sebanyak 80 makam dari area pemakaman yang ada di Pantai Holtekamp itu, tulang belulang jasad dipindahkan semua ke makam yang baru, dan juga masyarakat nelayan ini, tempat [mereka] biasa taruh perahu pun hilang dan perahu kita sebagian sudah tidak bisa taruh di pantai. jadi kami minta instansi terkait dengan Kementerian PUPR mengambil kebijakan program jangka panjang untuk mengamankan pantai dengan kubus pemecah ombak [talud beton],” tuturnya.
Ketua RT03/RW01 Kampung Holtekamp, Ferinando Samallo juga berharap pemerintah segera membangun talud beton di sepanjang destinasi Pantai Holtekamp, dengan tetap mempertimbangkan akses keluar masuk perahu masyarakat nelayan di tepi pantai.
“Setidaknya ada tiga celah untuk akses perahu masyarakat nelayan keluar dan masuk karena jika ditutup semua, maka kami pulang dari laut ada resiko terbentur dengan talud karena hantaman ombak itu,” kata Ferry ketika ditemui wartawan Jubi di Pantai Holtekamp.
Ferry mengimbau agar masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di tepi pantai Holtekamp tetap waspada. “Warga pesisir pantai ini kalau boleh waspada karena saya tahu warga yang tinggal di pinggir pantai pasti sudah mengetahui bahwa setiap bulan apa ombak ini biasa naik. Kalau boleh yang membangun kios atau rumah jangan di pinggir pantai tapi lebih ke darat lagi karena saat musim angin gelombang yang naik cukup tinggi,” tutur Ferry. (*)






















Discussion about this post