Jayapura, Jubi – Pemilik wisata pantai di kawasan Jembatan Youtefa atau lebih dikenal dengan sebutan Jembatan Merah di Kota Jayapura, Papua membantah informasi yang beredar bahwa pantai di kawasan itu tercemar limbah pabrik.
Pernyataan itu disampaikan salah satu pemilik hal ulayat kawasan wisata pantai di sekitar Jembatan Merah, Rivaldo Merauje kepada Jubi, Sabtu (19/7/2025).
Merauje merasa perlu mengklarifikasi beredarnya video singkat di platform media sosial Instagram beberapa hari lalu yang memperlihatkan air laut di kawasan itu berwarna merah pekat.
Menurut Marauje, air laut itu berubah warna bukan karena limbah pabrik. Melainkan akibat ganggang merah, yang terbawa arus dari laut dan terdampar di kawasan pantai tersebut sejak Juni 2025.
“[Ganggang merah yang terbawa arus dari laut itu] terus menumpuk sampai sekarang. Saking padatnya itu, makanya ada ikan kecil-kecil yang mati akibat terjebak lumut dan terdampar di pantai,” kata Rivaldo Merauje Jubi di pantai sekitar Jembatan Youtefa.
Katanya, dampak dari lumut ganggang merah yang kini menumpuk di kawasan itu adalah menyebabkan gatal pada kulit anak-anak yang mandi di sana.
“Pantai wisata yang kami kelola juga masih tetap ramai pengunjung karena kebanyak yang datang bulan untuk mandi, tapi untuk mancing ikan atau sekedar berfoto-foto. Saat ini kondisi padatnya lumut ganggang itu sudah mulai berkurang,” ujarnya.
Pdt. Yosias Hamadi (63 tahun), pemilik lain wisata pantai di kawasan Jembatan Youtefa mengatakan, fenomena terdamparnya lumut ganggang merah itu terjadi ketika air laut surut dengan jarak yang cukup jauh dari tepi pantai.
“Tapi tidak begitu berdampak buruk, kalau laut benar-benar tercemar, pasti banyak ikan besar yang juga ikut mati dan terdampar, yang nampak kemarin-kemarin hanya ikan kecil yang mati,” kata Yosias Hamadi. (*)























Discussion about this post