Sentani, Jubi – Wakil Bupati Jayapura, Haris Richard Yocku, SH menyatakan pembangunan klenteng pertama di Papua merupakan wujud keberagaman dan toleransi.
Sebelumnya Haris Richard Yocku menghadiri peletakan batu pertama pembangunan klenteng Dharma Agung Sakti di Vhiara Cycloop Dharmajaya Sentani kawasan Rumah Budaya, Kabupaten Jayapura, Minggu (19/10/2025).
Klenteng tersebut menjadi yang pertama dibangun di Papua, dan diharapkan menjadi simbol keberagaman serta toleransi antar umat beragama di Bumi Khenambay Umbay.
Ia mengatakan kehadiran klenteng merupakan bukti nyata bahwa Kabupaten Jayapura menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman dan kebersamaan antar umat beragama.
“Negara ini menganut lima agama yang diakui, dan salah satunya adalah Buddha. Klenteng ini merupakan yang pertama di Papua, dan berdiri di wilayah pemerintahan Kabupaten Jayapura. Ini berkat besar bagi kami karena ada rumah ibadah baru yang juga akan mendoakan kota ini,” kata Haris Richard Yocku kepada ditemui Jubi di Kantor Bupati Jayapura, Rabu (22/10/2025).
Menurutnya, pembangunan klenteng tersebut berlangsung pada masa kepemimpinan Bupati Jayapura Dr. Yunus Wonda, SH, MH dan dirinya sebagai wakil bupati.
Katanya, pembangunan itu sejalan dengan visi dan misi pemerintah daerah dalam menjaga kerukunan dan keberagaman di tengah masyarakat.
“Bupati selalu menekankan pentingnya menjaga keberagaman dalam berbangsa dan beragama. Karena itu, kehadiran klenteng ini tidak hanya sebagai tempat spiritual, tetapi juga warisan budaya yang penting,” ucapnya.
Menurutnya, budaya Tionghoa yang melekat dalam pembangunan klenteng bisa menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat lokal, khususnya dalam hal menjaga nilai-nilai budaya dan peradaban.
“Kita orang Papua juga harus belajar bagaimana menjaga tradisi dan budaya mereka selama ribuan tahun. Ini menjadi inspirasi agar kita pun bisa melestarikan budaya kita sendiri,” ujar Yocku.
Ia mengapresiasi komunitas umat Buddha di Kabupaten Jayapura yang dinilai selalu tertib dalam beribadah serta menjaga toleransi antarumat beragama.
“Terima kasih banyak untuk teman-teman umat Buddha yang terus berkoordinasi dengan pemerintah dan menunjukkan teladan dalam menjaga kedamaian,” ucapnya.
Yocku berharap Kabupaten Jayapura dapat terus menjadi zona integritas kedamaian dan keamanan bagi seluruh warganya, tanpa memandang perbedaan keyakinan maupun latar belakang budaya.
“Kita mungkin berbeda-beda, tapi kita satu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mari kita saling menghormati dan menjaga satu sama lain,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama atau Kakanwil Kemenag Provinsi Papua, Klemens Taran mengatakan pembangunan kelenteng ini menjadi tonggak penting bagi umat Buddha di Papua yang selama ini beribadah di vihara.
“Hadirnya kelenteng pertama di Papua bukan hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga simbol kerukunan umat beragama di Tanah Papua,” kata Taran.
Menurut Klemens Taran, untuk itu melalui Pembimas Buddha pihaknya akan terus mendorong agar proyek tersebut mendapat perhatian dari Ditjen Bimas Buddha Kemenag RI.
“Kami akan berupaya agar pembangunan Kelenteng Dharma Agung Sakti ini memperoleh dukungan pada penganggaran 2026, sehingga dapat segera dimanfaatkan umat,” ujarnya. (*)























Discussion about this post