Jayapura, Jubi – Pulau Biak, yang terletak di tepi Samudra Pasifik, memiliki posisi strategis yang sangat penting dalam Perang Dunia Kedua, khususnya dalam kampanye Perang Pasifik antara Amerika Serikat dan Jepang. Perang ini dimulai ketika Jepang melancarkan serangan mendadak ke pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii, pada 7 Desember 1941, menewaskan lebih dari 2.300 warga Amerika.
Setelah itu, pada 10 Januari 1942, tentara Kekaisaran Jepang menginvasi Biak, yang saat itu merupakan bagian dari Nederlands Nieuw Guinea. Semua warga Belanda di sana ditahan pada 8 Maret 1942. Jepang kemudian membangun infrastruktur militer di Biak, termasuk tiga lapangan udara: Mokmer (kini Bandara Frans Kaisiepo), Sorido, dan Borokoe (sekarang Manuhua). Sementara itu, Amerika Serikat membangun pangkalan dan lapangan udara di Kepulauan Padaido dan Pulau Numfor.
Jepang juga membangun sistem pertahanan tersembunyi di dalam gua-gua, yang saat itu tidak diketahui oleh pasukan Sekutu. Mereka bertahan di Biak hingga 1944, saat pasukan Amerika Serikat di bawah pimpinan Jenderal Douglas MacArthur melancarkan serangan ke pulau tersebut.
Pendaratan di Biak
Pendaratan pasukan Amerika terjadi pada 27 Mei 1944 di dekat Bosnik. Awalnya, perlawanan Jepang tampak ringan—banyak perwira Amerika menduga bahwa pasukan Jepang telah meninggalkan pulau. Namun kenyataannya, Jepang sengaja menahan tembakan, menyusun kembali posisi, dan menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan balasan.
“Secara strategis, Biak harus direbut. Jepang telah membangun tiga lapangan udara di pulau itu—Mokmer, Sorido, dan Borokoe. Menguasai lapangan udara ini bukan hanya akan mencegah musuh menggunakannya, tetapi juga memungkinkan pesawat pengebom Amerika menyerang Filipina, hanya 800 mil jauhnya,” tulis David Alan Johnson dalam artikelnya The Battle of Biak: A Terrifying Glimpse into the Soul of Mankind (warfarehistorynetwork.com).
Namun, perencana militer Amerika meremehkan kekuatan Jepang di Biak. Mereka memperkirakan hanya ada 4.400 tentara Jepang di pulau itu, padahal jumlah sebenarnya lebih dari 11.400. Mereka juga mengira operasi ini hanya memerlukan waktu seminggu—sebuah perkiraan yang keliru.
Pertempuran Tiga Bulan di Pulau Gua

Sebanyak 12.000 tentara Sekutu mendarat di Biak. Namun, terumbu karang di sekitar pulau membuat kapal pendarat konvensional tidak dapat digunakan. Sebagai gantinya, digunakan kendaraan amfibi LVT dan DUKW yang bisa melintasi karang dan membawa pasukan serta perbekalan ke pantai.
Meskipun pendaratan berjalan lancar, pertempuran darat justru menjadi sangat sengit dan memakan waktu. Jepang memanfaatkan gua-gua batu kapur sebagai pertahanan alami. Mereka membangun terowongan, dapur, klinik, bahkan instalasi listrik di dalam gua, serta memposisikan artileri dan mortir untuk menyerang secara tersembunyi.
Divisi ke-41 Amerika Serikat dibuat frustrasi oleh taktik ini. “Dengan cepat menjadi jelas bahwa merebut Biak akan menjadi usaha yang panjang dan suram,” tulis Johnson.
Gua-gua itu tidak hanya dalam, tetapi juga saling terhubung. Di Parai, ditemukan gua enam kamar lengkap dengan fasilitas medis dan perlengkapan. Jepang kerap melakukan penyergapan diam-diam dari gua-gua tersebut.
Resimen ke-163 tiba pada 1 Juni 1944 untuk memperkuat Resimen ke-41. Lapangan udara Mokmer berhasil direbut pada 7 Juni, tetapi belum bisa digunakan karena terus-menerus ditembaki oleh pasukan Jepang yang bertahan di gua-gua terdekat.
Pengeboman Gua dan Serangan Balasan
Beberapa gua kecil dihancurkan dengan pemboman oleh pesawat tempur Curtiss P-40 Tomahawk. Sementara gua yang lebih besar ditutup secara perlahan oleh infanteri menggunakan granat, bensin, dan penyembur api. Ketika bensin dibakar di dalam gua, ledakan keras sering kali terdengar, menandakan amunisi Jepang ikut meledak.

Letnan Jenderal Robert Eichelberger dalam bukunya Our Jungle Road to Tokyo menulis:
“Ketika kami memasuki gua-gua itu, aroma mayat yang menyengat menyambut kami. Rupanya gasoline dan granat telah melakukan tugasnya dengan baik.”
Serangan balasan Jepang terjadi pada malam 21–22 Juni. Sebanyak 109 tentara Jepang menyerbu posisi Resimen ke-186, meneriakkan “banzai.” Serangan itu berhasil dipatahkan, seluruh penyerang tewas.
Pertempuran untuk membersihkan Gua Barat berlangsung selama 10 hari. Akhir Juni, setelah posisi Jepang berhasil direbut, lapangan udara Mokmer mulai beroperasi dan menjadi basis untuk melanjutkan serangan ke Filipina, sesuai dengan janji Jenderal MacArthur: “I shall return.” (*)




















Discussion about this post