Jayapura, Jubi – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Jayapura periode 2024–2029, Rudi Mebri mengatakan sejak Jepang menduduki Hollandia (sekarang Jayapura) pada April 1942, banyak warga di Teluk Humboldt Kaju Batu, Kayu Pulo dan Kampung Injros serta Tobati di Teluk Youtefa mengungsi ke Kampung Ormu, Distrik Raveni Rara, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua sekarang.
“Setelah Jepang membom Pearl Harbour pada 7 Desember 1941, tantara Jepang langsung menuju ke Kepulauan Solomon,Papua Nugini dan Hollandia di Nederlands Nieuw Guinea, pada 18 April 1942 menduduki tanah Papua,” kata Rudi Mebri kepada Jubi di Kantor DPR Kota Jayapura, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, selama mengungsi warga dari Kampung Tobati, Injros, Kayu Batu dan Kayu Pulo minum air kelapa dan makan keladi bete dan sagu yang baru ditanam sejak 1900 di sana.
“Gasper Sibi, Pdt Silas Chaay dan beberapa warga lainnya hidup dari makan kelapa dan minum air kelapa,” ucapnya.
Katanya, setelah perang dunia kedua selesai pada 1945, mereka kaget karena kebun-kebun, dusun sagu berubah menjadi kota. Tentara sekutu juga telah membangun Army Post Offive(APO) dan dok pelabuhan kapal.
“Mereka tidak punya kebun dan hanya mencari ikan di teluk Youtefa dan Humboltd serta mulai berkebun lagi tetapi lebih naik ke gunung di sekitar Bhayangkara dan wilayah gunung lainnya di Kota Jayapura,” ujarnya.
Sementara itu, antroplog Dominggas Nari asal Kampung Ormu mengakui Kampung Ormu menjadi pilihan saat itu bagi para pengungsi dari Kampung Kayu Batu, Kayu Pulo, Tobati dan Injros, karena terdapat banyak goa, kelapa serta sumber pangan lainnya seperti sagu dan keladi di sana.
Mengutip buku Jayapura Ketika Perang Pasifik menyebutkan, tantara Jepang menduduki wilayah Hollandia pada 19 April 1942. Karena saat itu wilayah tersebut hanya diperintah oleh seorang Controleur Belanda tanpa memiliki kekuatan militer atau angkatan bersenjata.
“Hanya satu detasemen Veld Polisi dan Landschape Polisi saja,” tulis Arnold Mampioper dalam buku Jayapura Ketika Perang Pasifik.
Buku tersebut juga menjelaskan bahwa saat itu para nelayan dari Kampung Kayu Batu dan Kayu Pulo asyik mencari ikan dan bertepatan dengan laut di Teluk Humboldt yang teduh serta banyak ikan karena banyak dusun sagu dan hutan bakau.
Tak heran kalau mendiang Pdt Silas Chaay warga dari Kayu Pulo mengakui bahwa pendaratan tantara Jepang di Hollandia membuat mereka dayung dari Kayu Pulo ke Kampung Ormu.
“Kami mengungsi ke sana bersama keluarga yang lain,” katanya seraya mengingat Kembali usai Perang Dunia Kedua selesai pada 1945, kebun kebun dan dusun sagu hilang diganti dengan Gedung dan bangunan di sekitar Army Post Office (APO) sekarang.
“Susah memang kami harus berkebun Kembali dan semakin jauh dari kampung,” kenang Silas Chaay Waktu itu.(*)




Discussion about this post