• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Pasifik

Bangkai Kapal Perang Dunia II Jadi ‘Bom Waktu’ bagi Negara Federasi Mikronesia

October 20, 2025
in Pasifik
Reading Time: 3 mins read
0
Penulis: Dominggus A. Mampioper - Editor: Alberth Yomo
Perang Dunia II

Ilmuwan kelautan menilai bangkai pesawat Perang Dunia II yang tenggelam di Laguna Chuuk — Jubi/RNZ Pasifik, foto disediakan oleh Ranger Walter

0
SHARES
109
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi — Menyelam di antara bangkai kapal di Laguna Chuuk, Mikronesia, terasa seperti memasuki mesin waktu.

Armada kapal dan pesawat hantu yang dulu merupakan bagian dari pangkalan angkatan laut Jepang kini beristirahat di dasar laut dangkal Chuuk. Demikian dikutip jubi.id dari laman RNZ Pasifik, Minggu (19/10/2025).

Bangunan baja berkarat itu tersebar di antara terumbu karang dan kehidupan laut yang melimpah, menciptakan panorama bawah laut yang memikat bagi wisatawan dari berbagai belahan dunia.

Namun, daya tarik wisata utama Chuuk ini sekaligus menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup warganya — karena minyak beracun mulai bocor dari kapal-kapal tua tersebut.

Warisan Perang yang Mulai Membahayakan

Para ahli telah lama mengkhawatirkan dampak perubahan iklim terhadap kerusakan kapal yang semakin cepat. Suhu air yang meningkat dan gelombang ekstrem mempercepat korosi lambung kapal.

Kekhawatiran itu menjadi nyata bulan lalu ketika minyak dari kapal pengangkut tua menyebar hingga ke garis pantai, menghitamkan hutan bakau dan memicu keadaan darurat.

BERITATERKAIT

Warga Teluk Humboldt dan Youtefa mengungsi ke Kampung Ormu saat perang dunia ke-II

Biak 1944: Neraka di Tanah Pasifik

Delapan dekade setelah PD II, pertempuran melawan UXO masih berlanjut di Solomon

Perang Dunia II mengubah wajah Hollandia yang kini jadi Kota Jayapura

“Masalah ini baru saja dimulai,” ujar seorang pejabat setempat.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Kuburan Kapal Terbesar di Dunia

Ranger Walter, petugas pelestarian sejarah di Negara Bagian Chuuk, hampir setiap hari berenang di antara bangkai kapal.

“Ketika saya mulai menyelam, saya langsung ketagihan. Rasanya seperti dunia lain,” ujarnya.

4JZEF4Y df02b477ff871848ea25e06161b081ab avif 1
Kapal kargo Jepang Amagisan Maru ditenggelamkan pada 1944 oleh pasukan Amerika dalam Operasi Hailstone — Jubi/RNZ Pasifik, foto: Steve Trewavas / Major Projects Foundation

Tugasnya memastikan peninggalan dan artefak di dalam kapal tetap tidak diganggu.

“Kami mencatat setiap artefak agar wisatawan tidak mengambil barang seperti senjata tua. Ada banyak senapan, pistol, bahkan sisa-sisa manusia,” tambahnya.

Lebih dari 4.000 tentara Jepang tewas ketika Laguna Chuuk — yang kala itu dikenal sebagai “Truk” — dibombardir pasukan Amerika Serikat pada akhir Perang Dunia II.

Dalam serangan yang dijuluki “balas dendam untuk Pearl Harbor”, lebih dari 60 kapal ditenggelamkan dan ratusan pesawat dihancurkan.

Sejarawan medan perang Mat McLachlan menjelaskan bahwa Chuuk merupakan pangkalan logistik utama Jepang di Pasifik tengah, sebelum akhirnya terisolasi pada 1944.

“Ketika jalur pasokan terputus, pangkalan itu menjadi beban, bukan aset,” katanya.

Kini, Chuuk memiliki konsentrasi bangkai kapal Perang Dunia II tertinggi di dunia dan menjadi magnet bagi penyelam internasional.

Menurut Peter Aten, Kepala Divisi Perdagangan dan Industri Chuuk, “Delapan puluh persen wisatawan kami datang ke sini karena bangkai-bangkai kapal itu.”

Bom Waktu yang Terus Berdetak

Masalah pencemaran mulai terdeteksi pada awal 2000-an, ketika nelayan menemukan jejak minyak di permukaan laguna.
Tak lama setelah itu, badai besar membuat minyak terdampar ke daratan, hingga Presiden Manny Mori kala itu menyebut bangkai kapal sebagai “bom waktu”.

Bantuan datang melalui Layanan Aksi Ranjau Jepang, yang sejak 2017 telah mengekstraksi sekitar 60.000 liter minyak dari laguna.

Namun, ancaman sesungguhnya jauh lebih besar — diperkirakan masih ada 22 juta liter minyak tersimpan di kapal-kapal itu.

“Pemanasan global mempercepat korosi bangkai kapal. Mereka kini memburuk jauh lebih cepat dari yang diperkirakan,” ujar Aten.

Upaya Internasional dan Tantangan Hukum

Awal tahun ini, pemerintah Australia mendanai penelitian terhadap 20 bangkai kapal berisiko tinggi, dipimpin arkeolog maritim Matt Carter.

Dengan pemodelan 3D, tim menilai kondisi kapal yang tenggelam dalam posisi berbeda — ada yang tegak, miring, bahkan terbelah dua — yang semuanya memengaruhi kecepatan kerusakan.

Hasil studi itu merekomendasikan 15 kapal perlu segera dibersihkan dalam 5–10 tahun untuk mencegah tumpahan besar.
Namun pada September, hanya beberapa bulan setelah studi diserahkan, kapal Rio de Janeiro Maru bocor, menumpahkan lapisan minyak setebal 10 sentimeter ke garis pantai desa.

“Untungnya, masyarakat masih menggunakan air hujan, jadi air tanah tidak tercemar. Tapi beberapa warga mengalami pusing karena bau minyak,” jelas Aten.

Presiden Wesley Simina menetapkan keadaan darurat dan mengangkat isu ini di Majelis Umum PBB, menegaskan bahwa skala masalah ini jauh melampaui kapasitas Mikronesia untuk menanganinya sendiri.

Namun, bantuan internasional tidak mudah diperoleh. Menurut pakar hukum internasional Donald Rothwell dari Universitas Nasional Australia, tidak ada kewajiban hukum bagi negara asal kapal untuk bertanggung jawab.

“Karena Mikronesia belum merdeka pada masa perang, status tanggung jawab hukum atas kapal-kapal ini berada di area abu-abu,” katanya.

Perjanjian damai pascaperang pun tak mencakup masalah lingkungan akibat bangkai kapal.
“Kesadaran baru mulai tumbuh bahwa negara-negara kepulauan kecil menjadi korban utama, tapi proses menuju solusi global akan memakan waktu,” ujar Rothwell.

Harapan Melalui Warisan Dunia

Untuk menarik perhatian dunia, pemerintah Chuuk berupaya mendaftarkan bangkai-bangkai kapal itu ke dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO.

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi mereka dalam mencari dukungan internasional.

“Kami punya 63 bangkai kapal di laguna. Akan jadi bencana jika semuanya mulai bocor,” tutup Aten. (*)

Continue Reading
Tags: Bangkai KapalNegara Federasi MikronesiaPerang Dunia II
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Teluk Humboldt

Warga Teluk Humboldt dan Youtefa mengungsi ke Kampung Ormu saat perang dunia ke-II

July 3, 2026
Biak

Biak 1944: Neraka di Tanah Pasifik

April 17, 2025
Solomon

Delapan dekade setelah PD II, pertempuran melawan UXO masih berlanjut di Solomon

March 19, 2025

Perang Dunia II mengubah wajah Hollandia yang kini jadi Kota Jayapura

March 8, 2025

Kuasa usaha Australia kunjungi Bangka Belitung untuk peringati sejarah perang Dunia II

February 18, 2025

Jalur pendakian kembali dibuka di Kokoda

December 8, 2024

Discussion about this post

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara