Jayapura, Jubi – Amnesty Internasional Indonesia menyatakan penembakan yang menewaskan pilot pesawat milik Maskapai Associated Mission Aviation atau AMA, berkebangsaan Amerika Serikat (AS) Nicholas F. Goselin (29 tahun) mesti diselidiki.
Nicholas F. Goselin tewas ditembak, dan pesawat berbadan kecil yang dipilotinya juga dibakar. Insiden itu terjadi lapangan terbang Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, Kamis (2/7/2026).
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Komando Daerah Operasi atau Kodap XVI Yahukimo, pimpinan Elkius Kobak menyatakan bertanggung jawab terhadap peristiwa itu.
Amnesty Internasional Indonesia pun menyatakan aksi tersebut adalah pelanggaran hak asasi manusia yang tragis dan mendalam.
Ini dikatakan Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid seperti dikutip Jubi dari laman.www.amnesty.id, Sabtu (4/7/2026).
“Ini adalah pelanggaran hak asasi manusia yang tragis dan mendalam. Kami menyampaikan belasungkawa terdalam kami kepada keluarga dan teman-teman Bapak Goselin di masa yang sangat sulit ini,” kata Usman Hamid.
Katanya, pembunuhan yang disengaja terhadap seorang pilot sipil dan pembakaran pesawatnya, merupakan suatu kemerosotan nyata dalam perlindungan warga sipil di wilayah Tanah Papua.
Sebab, pembunuhan yang disengaja terhadap warga sipil merupakan pelanggaran hak untuk hidup dan pelanggaran berat terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan, dan tidak ada pembenaran untuk serangan seperti ini.
“Tidak seorang pun dapat mengklaim bahwa ini sesuai dengan prinsip dan nilai-nilai kemanusiaan. Pembunuhan yang melanggar hukum ini dan serangan terhadap pesawat komersial harus segera diselidiki menyeluruh. Semua pelaku harus dimintai pertanggungjawaban,” ucapnya.
Menurutnya, semua pihak yang terlibat dalam konflik di Tanah Papua, harus mengirimkan pesan yang jelas kepada orang-orang yang mereka pimpin bahwa setiap serangan yang melanggar hukum terhadap masyarakat biasa tidak dapat diterima.
Selain itu, para penyintas dan keluarga korban berhak mengetahui apa yang terjadi, siapa yang bertanggung jawab, dan langkah konkret apa yang akan diambil pemerintah Indonesia untuk menegakkan keadilan.
Hanya investigasi yang independen dan tidak memihak yang dapat menghasilkan persidangan yang kredibel dan adil.
“Semua pihak yang terlibat dalam konflik berkepanjangan di Papua, termasuk militer Indonesia dan kelompok bersenjata, harus mematuhi hukum internasional dan mengakui bahwa hak untuk hidup tidak dapat ditawar,” ujarnya.
Pilot Nicholas F. Goselin ditembak setelah mendaratkan pesawat komersial yang membawa tujuh penumpang sipil di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua.
Setelah penembakan, kelompok penyerang membakar pesawat tersebut. Pilot tersebut tewas, tetapi ketujuh penumpang selamat tanpa cedera.
TPNPB-OPM mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan pilot Amerika dan pembakaran pesawat tersebut.
Mereka menyatakan, penerbangan tersebut melanggar larangan perjalanan udara di wilayah operasional mereka.
Mereka menduga militer Indonesia sering menggunakan pesawat sipil untuk memindahkan pasukan dan pasokan ke zona konflik di Tanah Papua.
Kelompok itu mengatakan mereka menganggap setiap pesawat sipil yang memasuki wilayah tersebut sebagai target yang sah, dan menambahkan bahwa serangan itu adalah “pesan” kepada pemerintah AS dan Indonesia.
Sebelumnya pada 5 Agustus 2024, pilot Selandia Baru Glen Malcolm Conning tewas dibunuh oleh kelompok bersenjata setelah mendaratkan pesawatnya di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.
Setahun sebelumnya, pada 7 Februari 2023, warga Selandia Baru Phillip Mehrtens disandera oleh TPNPB setelah mendaratkan pesawat komersial kecil di wilayah Nduga yang terpencil dan bergunung-gunung di Dataran Tinggi Papua.
Ia ditahan selama lebih dari 19 bulan sebelum dibebaskan pada 21 September 2024.
Kematian warga AS di Papua Tengah terjadi pula pada Agustus 2002, di areal konsesi tambang PT Freeport yang bertugas sebagai guru antara lain Ted Burcon (46) dan Ricky Spears (36).
Nicholas lahir di Connecticut, Amerika Serikat pada 16 November 1996, kini berusia 29 tahun jelang memasuki 30 tahun. Data yang dikutip dari LinkedIn, kuliah di Bridgewater State University dengan program manajemen aviasi.
Nicholas yang akrab disapa Nick mengawali karirnya di dunia aviasi sejak 2013. Ia pertama kali magang untuk Image Aviation Service di Oxford, Connecticut.
Selanjutnya pria asal Amerika Serikat ini bekerja di PenAir pada 2015-2018 bertugas sebagai Ramp Agent dan Operations Agent.
Ia memulai karir sebagai pilot di berbagai maskapai penerbangan, mulai dari Mills Air Service di Massachusetts, Skydive Virgins Island, hingga yang terlama menjadi pilot di Grant Aviation, sebelum tewas setelah menjadi pilot pada PT Associated Mission Aviation (AMA) di Papua. (*)




Discussion about this post