Jayapura, Jubi — Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengatakan pada hari Kamis (2/6/2026) bahwa pihaknya telah menembak mati seorang pilot warga Amerika yang diduga mengangkut pasukan Indonesia ke provinsi yang bergejolak itu.
Juru bicara TPNPB, Sebby Sambom mengatakan pejuangnya menembak mati Nicholas F. Goselin dan membakar sebuah pesawat yang dioperasikan oleh PT AMA, maskapai penerbangan Indonesia, di Kampung Balinggama.
Pesawat itu mengangkut satu pilot dan tujuh penumpang, menurut Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Indonesia. Setelah pilot melaporkan bahwa pesawat telah mendarat, komunikasi dengan petugas di landasan pacu kemudian terputus, demikian pernyataan kementerian tersebut.
Belum ada tanggapan langsung dari Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Komandan TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Brigjen Elkius Kobak, juga melaporkan bahwa penembakan pilot Amerika di Yahukimo dilakukan atas perintahnya, karena pihaknya telah mengeluarkan ultimatum yang melarang seluruh pesawat sipil memasuki wilayah operasional TPNPB Kodap XVI Yahukimo.
“Kami juga menyampaikan kepada Pemerintah Amerika Serikat, melalui kedutaan besarnya di Indonesia, dan kepada negara-negara anggota PBB, bahwa penembakan terhadap pilot Amerika ini merupakan konsekuensi dari kesalahan Pemerintah Indonesia, Amerika Serikat, Belanda, dan PBB yang gagal mengatasi akar masalah konflik di Papua antara militer Indonesia dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, yang telah berlangsung selama 64 tahun,” kata Brigjen Elkius Kobak.
Hal ini, lanjut Brigjen Kobak telah mengakibatkan puluhan ribu warga sipil tewas dan 122.931 warga adat Papua mengungsi di berbagai wilayah tanpa bantuan kemanusiaan melalui Komite Palang Merah Internasional (ICRC).
Pemberontakan yang telah berlangsung puluhan tahun di Papua yang miskin, antara warga adat Papua dan aparat keamanan Indonesia, meningkat tajam dalam setahun terakhir, dengan puluhan pemberontak, aparat keamanan, dan warga sipil tewas. Para pemberontak secara khusus menargetkan pilot asing.
Militer Indonesia membantah bahwa pesawat itu digunakan untuk mengangkut pasukan. Mereka yang berada di dalam pesawat adalah tujuh warga sipil pribumi Papua, termasuk tiga perempuan. Mereka tidak terluka, kata pihak militer.
Sebuah tim evakuasi berupaya mencapai lokasi pada hari Kamis namun kembali karena cuaca buruk, kata juru bicara militer Letnan Kolonel Wirya Artadiguna. Otoritas berencana mencoba lagi pada Jumat pagi, katanya.
Polisi Papua mengatakan mereka masih berupaya memverifikasi kondisi pilot dan tujuh penumpang tersebut. Juru bicara Yusuf Sutejo mengatakan upaya mereka terhambat oleh medan yang sulit. Tidak ada akses jalan dan lokasi itu hanya bisa dijangkau lewat udara.
Sebelumnya Kepolisian Daerah Papua mengatakan sebuah pesawat milik maskapai Asosiation Mision Aviation atau AMA yang melayani rute Wamena, Kabupaten Jayawijaya ke Balingga Balingga, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan dilaporkan hilang kontak, Kamis (2/7/2026).
Kepala Bidang Humas Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Cahyo Sukarnito, mengatakan informasi hilangnya kontak pesawat diperoleh melalui Polres Yahukimo dan Polsek Bandara Sentani.
Katanya, aparat gabungan TNI dan Polri masih berupaya menjangkau lokasi setelah muncul laporan adanya puing pesawat yang terbakar di sekitar lapangan terbang Balingga.
Menurut Cahyo, pesawat jenis Pilatus PC-6 Porter tersebut melayani penerbangan dari Bandara Wamena menuju Lapangan Terbang Balingga. Pesawat dipiloti Kapten Nicholas Francis Goselin dan membawa tujuh penumpang yang merupakan warga setempat.
Sebby Sambom, mengatakan pesawat itu melanggar larangan mereka terhadap penerbangan sipil di wilayah-wilayah yang dianggap kelompok separatis itu sebagai zona operasinya.
Ia menuduh bahwa pesawat-pesawat sipil telah digunakan untuk mengangkut personel dan logistik militer Indonesia ke pedalaman terpencil Papua. Ia mengatakan pilot Amerika itu dibunuh karena pesawat tersebut terus beroperasi meski telah ada peringatan dari kelompoknya. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
“Penembakan terhadap pilot Amerika ini merupakan akibat dari kegagalan pemerintah Indonesia, Amerika Serikat, dan Belanda, serta Perserikatan Bangsa-Bangsa, dalam mengatasi akar masalah konflik di Papua, yang telah berlangsung selama 64 tahun,” kata Sambom dalam pernyataan tertulisnya.
Ia juga mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memfasilitasi perundingan yang melibatkan pemerintah Indonesia, TPNPB, dan perwakilan rakyat Papua, serta memperingatkan bahwa kelompoknya akan menargetkan pesawat sipil lain yang diyakini membantu operasi militer di wilayah tersebut.(*)



















Discussion about this post