Jayapura, Jubi – Sebanyak empat warga sipil di Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah dilaporkan tewas ditembak selama sepekan terakhir, termasuk janin yang ada dalam kandungan. Rangkaian peristiwa itu terjadi pada 29 Juni 2026 hingga 2 Juli 2026.
Sumber Jubi di Intan Jaya, Marten Weya mengatakan keempat korban adalah seorang gembela bernama Elianus Agimbau, pemuda bernama Okto Tigau dan ibu yang hamil tujuh bulan, Melkiana Duwitau.
Melkiana Duwitau tewas bersama janin dalam kandungannya, karena terkena tembakan saat berada di rumahnya di Sugapa, ibu kota Intan Jaya, Kamis (2/7/2026) malam.
“Dalam satu minggu ini, TNI non organik di Kabupaten Indan Jaya [diduga] terus menewaskan empat warga sipil. Salah satunya adalah janin yang masih dalam kandungan ikut meninggal,” kata Marten Weya melalui pesan suara kepada Jubi, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, rentetan peristiwa itu membuat warga Intan Jaya protes. Puncaknya ketika korban Melkiana Duwitau dan janin dalam kandungannya tewas tertembak.
Ribuan masyarakat Intan Jaya bersama pelajar dan mahasiswa menggelar aksi protes, Jumat (3/7/2026). Mereka meminta para pihak terkait mengusut tuntas rangkaian kejadian tersebut.
“Kami rakyat Intan Jaya meminta kasus ini harus diproses dan dituntaskan segera,” ujarnya.
Massa mengarak jenazah Melkiana Duwitau dan janin dalam kandugan yang telah dikeluarkan setelah operasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Intan Jaya ke lapangan sepak bola Sugapa, Jumat siang, sebelum dibawa ke rumah duka di
Kampung Wandonga, Distrik Sugapa.
Marten Weya yang merupakan koordinator lapangan mengatakan, masyarakat, pelajar dan mahasiswa mendesak agar pelaku yang menembak warga Intan Jaya itu diadili, sesuai proses hukum yang berlaku.
Massa juga mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemda) Intan Jaya, segera memfasilitasi tim investigasi independen menyelidiki kasus yang dugaan merupakan pelanggaran HAM itu.
“Pemkab Intan Jaya segera memfasilitasi mahasiswa dan berbagai elemen yang ada di Intan Jaya, untuk dialog langsung dengan Menteri Pertahanan dan Presiden RI, terkait darurat militer di Intan Jaya,” ucapnya.
Katanya jika terus terjadi dugaan pelanggaran HAM dan warga sipil masih ditembak, masyarakat meminta Kabupaten Intan Jaya dikembalikan ke Kabupaten Paniai, yang merupakan kabupaten induk.
Salah satu mahasiswa yang ada di Intan Jaya, Yance Pogau mengatakan setelah tertembak, Melkiana Duwitau dibawa ke RSUD Intan Jaya.
Tim medis melakukan operasi mengeluarkan janin dari dalam kandungan korban, dengan harapan dapat diselamatkan. Akan tetapi, janin itu telah meninggal dalam kandungan ibunya. (*)




















Discussion about this post