Jayapura, Jubi – Dikhawatirkan eskalasi konflik militer di wilayah Tanah Papua, Indonesia meningkat, setelah seorang pilot Amerika yang menerbangkan pesawat kecil ke landasan udara terpencil di Provinsi Papua Pegunungan tewas ditembak oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Kamis (2/7/2026).
TPNPB mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan penembakan yang menewaskan pilot pesawat milik Maskapai Associated Mission Aviation atau AMA, Nicholas F. Goselin (29 tahun) itu, dan pembakaran pesawat.
Nicholas F Gosselin ditembak setelah mendaratkan pesawat berbadan kecil di daerah Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, seperti dikutip Jubi dari laman RNZ Pasifik, Sabtu (4/7/2026).
Gosselin baru saja menerbangkan pesawat berbadan kecil tujuh penumpang ke Yahukimo dari Wamena, Kabupaten Jayawijaya, ibu kota Provinsi Papua Pegunungan.
TPNPB telah berulang kali memperingatkan warga asing untuk tidak terbang ke wilayah tersebut, jika mereka bekerja sama dengan militer Indonesia, yang saat ini sedang berselisih dengan TPNPB dalam jangka waktu yang lama.
Eneko Pahabol, seorang pembela hak asasi manusia dari Dewan Gereja Papua yang bekerja di wilayah terpencil ini mengatakan, orang-orang lain yang berada di atas pesawat adalah penduduk desa setempat, dan berhasil melarikan diri tanpa cedera.
Katanya, sudah diketahui secara luas bahwa militer Indonesia bergantung pada maskapai penerbangan kecil untuk terbang ke landasan udara terpencil di pedalaman Papua, tempat pesawat-pesawat yang lebih besar tidak dapat mendarat.
“Kami telah melihat imbauan dari TPNPB untuk tidak mengangkut personel militer. Kami telah mengikuti setiap rilis mereka, tetapi kami melihat bahwa perusahaan dan pilot tidak mengindahkannya, dan ini berlaku untuk semua pilot yang mengangkut personel militer,” kata Eneko Pahabol.
Ini bukan kasus pertama TPNPB membakar pesawat yang terbang ke wilayah dataran tinggi, atau menargetkan pilot.
Pada Februari 2023, TPNPB menculik seorang pilot Selandia Baru, Phillip Mehrtens, setelah ia mendaratkan pesawat kecil milik maskapai penerbangan komersial Susi Air di Kabupaten Nduga. Ia dibebaskan sembilan belas bulan kemudian.
Pihak militer Indonesia dilaporkan telah membantah bahwa pesawat AMA yang diserang pada Kamis(2/7/2026) telah digunakan untuk mengangkut pasukan TNI.
Pahabol mengatakan, warga sipil di desa Balanggama, Sobaham, telah mengungsi ke distrik-distrik tetangga karena takut akan ada operasi militer sebagai tanggapan atas serangan tersebut.
Indonesia telah meningkatkan pengerahan pasukannya ke wilayah Papua hingga mencapai titik di mana jumlah militer per kapita di Papua setidaknya enam kali lebih banyak daripada wilayah lain mana pun di Indonesia.
Hal ini terjadi di tengah meningkatnya insiden kekerasan dalam beberapa bulan terakhir di dataran tinggi Papua yang terkait dengan konflik berkepanjangan antara pasukan keamanan Indonesia dan TPNPB yang telah menyebabkan banyak warga sipil tewas atau terluka, dan ribuan orang mengungsi.
Pahabol mengatakan, atas nama Dewan Gereja Papua, ia mendesak militer Indonesia dan militan Papua Barat untuk mundur dari konflik kekerasan.
“Hentikan operasi militer karena itu tidak menyelesaikan masalah. Saya meminta kedua belah pihak untuk menghentikan konflik dan mengejar dialog yang bermartabat melalui mekanisme internasional,” katanya.
Pahabol juga mendesak agar penggunaan pesawat sipil untuk tujuan militer dihentikan sementara.
Juru bicara TPNPB, Sebby Sambom mengatakan pembunuhan itu adalah pesan kepada Amerika Serikat yang menjadi perantara Perjanjian New York yang membuka jalan bagi bekas Nugini Belanda untuk berada di bawah kendali Indonesia pada tahun 1960-an, tanpa konsultasi yang tulus dengan masyarakat Papua.
“Kami juga menyampaikan kepada Pemerintah Amerika Serikat, melalui kedutaan besarnya di Indonesia dan kepada negara-negara anggota PBB, bahwa penembakan pilot Amerika adalah akibat dari kesalahan Pemerintah Indonesia, Amerika Serikat, dan Belanda,” kata Sambom.
Ia mengatakan pesan itu juga ditujukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa “karena gagal mengatasi akar penyebab konflik di Papua antara militer Indonesia dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, yang telah berlangsung selama 64 tahun”.
Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan kepada RNZ Pacific bahwa mereka mengetahui bahwa pihak berwenang Indonesia sedang menyelidiki laporan kematian tersebut.
Juru bicara tersebut mengatakan bahwa mereka telah menghubungi pihak berwenang dan keluarga pria tersebut, serta memantau perkembangan situasi dengan cermat, tetapi tidak memberikan komentar lebih lanjut.
Setelah seorang pria Amerika, Rick Spier, tewas secara tragis di Papua pada tahun 2002 dalam serangan penembakan yang diselidiki oleh FBI, AS menangguhkan beberapa bantuan militer kepada Indonesia. (*)




Discussion about this post