• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Features

Jalan Terjal Tahanan Politik Papua Barat (1)

November 2, 2022
in Features
Reading Time: 4 mins read
0
Penulis: - Editor:
tahanan Politik

Filep Karma bertemu dengan kawan Tapol yang telah dibebaskan. foto Dok. Basilius Triharyanto

0
SHARES
12
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Bagi tahanan politik Papua, penjara bukanlah akhir segalanya. Mereka tetap berkomitmen memperjuangkan kemerdekaan. Bahkan setelah mereka dibebaskan dari penjara. Sembari berjuang untuk membenahi hidup mereka setelah melalui masa-masa sulit.

Indonesia mungkin punya peringkat lebih baik dalam indeks demokrasi, dibandingkan negara-negara tetangganya di Asia Tenggara. Tetapi nyatanya, hal tersebut tidak dirasakan demikian bagi para aktivis di Papua. Fakta menunjukan, mereka yang berjuang mendukung Papua merdeka, yang berseberangan dengan pemerintah Jakarta, sering ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.

Papua Barat saat ini jadi bagian wilayah Indonesia melalui sebuah pertempuran dan sejarah kontroversial. Menurut Indonesia, rakyat Papua Barat telah memilih hidup di bawah pemerintah Indonesia melalui referendum. Dikenal dengan “Act of Free Choice” atau Pepera pada 1969. Kurang dari satu persen penduduk Papua telah memberikan suaranya pada referendum tersebut.Sebagian besar orang Papua pada kenyataannya tidak punya pilihan sama sekali.

Para aktivis pro-kemerdekaan Papua menghadapi risiko-risiko serius: penyiksaan kejam setelah penangkapan itu sudah umum. Mereka juga menghadapi tantangan-tantangan lain bila dipenjarakan. Seperti bagaimana tetap optimistis dan menjaga komitmen perjuangan mereka.

Empat mantan tahanan politik Papua – Jefri Wandikbo, Agus Kraar, Filep Karma dan Linus Hiluka — mengungkapkan kepada penulis, penjara itu tidak akan mengakhiri perjuangan. Sebaliknya, penjara itu hanyalah sebuah awal.

Kisah mereka terbagi dalam empat bagian: penangkapan, interogasi, penjara dan kehidupan sesudah penjara.

Penangkapan

BERITATERKAIT

Berulang dan berulang, pemindahan tahanan/narapidana politik ke luar Tanah Papua

Mahasiswa Papua di Makassar desak bebaskan empat tapol

Presiden beri Amnesti, terpidana makar Viktor Makamuke resmi bebas

Penggunaan delik makar tak hanya menyasar ekspresi Papua merdeka

Pada 4 April 2003, gudang senjata Komando Distrik Militer 1702 di Jayawijaya, Wamena, diduga dirusak para aktivis politik yang mengambil senjata. Selama satu bulan, aparat militer menyisir wilayah Jayawijaya, memburu para pelaku. Peristiwa itu dikenal dengan “Kasus Kodim 1702”. Mereka menangkap Linus Hiel Hiluka, yang jadi bagian dari operasi pembobolan gudang senjata.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Linus lahir di Kampung Ibele, Kabupaten Jayawijaya pada 25 Agustus 1974. Orang tuanya bekerja sebagai petani. Sebagai orang muda terdidik, Linus awalnya dikenal sebagai aktivis gereja. Pada 1999, dia berpartisipasi dalam pertemuan yang digelar oleh Forum Reskonsiliasi Rakyat Irian Jaya (FORERI), sebuah organisasi pro-kemerdekaan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh sipil Papua. Pada tahun yang sama, ia menghadiri Musyawarah Besar (Mubes) yang merekomendasikan diadakannya Kongres Rakyat Papua Kedua yang mengeluarkan resolusi “Kemerdekaan Papua sebagai bangsa dan negara sejak 1 Desember 1961”, dan menuntut pertangunggjawaban atas kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Papua Barat.

Kongres itu juga mendukung 31 anggota Presidium Dewan Papua (PDP)—sebuah kelompok yang dibentuk untuk mewakili kampanye kemerdekaan Papua Barat—dan memilih Theys Eluay sebagai ketua.

Satu tahun kemudian pada 2001, Theys, yang dikenal sebagai “Pemimpin Besar Rakyat Papua”, dibunuh oleh Kopassus dan ditemukan tewas. Tujuh dari anggota pasukan khusus Indonesia bahkan telah dihukum, dipenjara antara enam bulan hingga maksimum tiga tahun.

Lepas dari itu, dalam pandangan militer mengenai aktivis pro-kemerdekaan di Papua, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Ryamizard Ryacudu – yang saat ini menjabat Menteri Pertahanan Indonesia—menyebut para tentara itu sebagai “pahlawan”.

Pada 23 Maret 2000, Linus mengibarkan bendera Bintang Kejora di depan halaman rumahnya. Bendera Bintang Kejora merupakan simbol kontroversial di Papua Barat—telah dilarang sejak 1969. Walaupun larangan ini sempat melunak seiring diizinkannya pengibaran bendera Bintang Kejora sebagai identitas budaya (selama bendera Indonesia bisa dikibarkan lebih tinggi dari bendera Bintang Kejora), bendera itu kembali dilarang karena dianggap ‘separatis’.

Aparat keamanan di Papua terus menggunakan pelarangan ini, sebagai alasan memenjarakan orang-orang yang mengibarkan bendera itu. Dianggap pengkhianat (negara).

Keputusan Linus mengibarkan bendera, merupakan sikap politik yang berani sehingga ia dikenal sebagai aktivis pro-kemerdekaan di distriknya. Sejak saat itu, masyarakat memandang ia menyuarakan perjuangan politik untuk kebebasan.

Tiga tahun sesudah Linus menghadiri Kongres Rakyat Papua Kedua, aparat keamanan menduga kuat,  kasus Kodim 1702 dilakukan oleh kelompok yang berafiliasi dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM), payung organisasi gerakan kemerdekaan di Papua Barat. Aparat keamanan menyisir kampung-kampung di sekitar Wamena dan menangkap sejumlah orang, termasuk Linus.
Mereka dituduh terlibat dalam penyerangan gudang senjata. Karena Linus terlibat dalam Kongres, pihak berwenang mengklaim bahwa dia mengetahui aksi-aksi OPM .

Anggota Komando Strategis Angkatan Darat, atau Kostrad, mendatangi rumahnya pada pagi hari. Linus menjelaskan dalam sebuah wawancara telepon dengan penulis. Para tentara itu tak ragu-ragu menembak.

“Mereka tembak jendela ke dalam, ada tembakan rentetan senjata, barulah saya bangun. Ibu saya dan keluarga semua juga bangun. Saya mau keluar tetapi keluarga tahan saya. Kalau saya lari nanti sasarannya masyarakat. Maka, saya keluar. Itu masih gelap. Pasukan dengan menyorotkan cahaya senter menangkap saya,” kata Linus. Ia ditangkap sekitar pukul 04.30.

“Lalu masyarakat kumpul di halaman, termasuk bapa gembala (pendeta) disuruh tiarap. Aparat masih melakukan penembakan hingga jam enam pagi. Rumah saya digeledah, mencari barang-barang atau senjata-senjata dari gudang Kodim, tetapi mereka hanya menemukan bendera Bintang Kejora, dokumen-dokumen perjuangan, yang lain tidak dapat.”

Sesudah ditemukan bendera Bintang Kejora di rumahnya, Linus diborgol, dijemput oleh badan intelijen negara dan dipindahkan ke pusat komando distrik militer. Dia dinterogasi dan dituduh menyembunyikan peluru dan senjata yang diambil saat penyerangan di gudang senjata. Tetapi Linus bersikeras tidak terlibat— sebuah keyakinan yang dia pertahankan hingga hari ini.

Jefri Wandikbo, seorang aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB), sebuah organisasi non-kekerasan yang mengkampanyekan referendum bagi penentuan nasib sendiri, mengatakan kepada penulis, pasukan keamanan kadang-kadang melakukan penyergapan tiba-tiba saat menangkap para aktivis.

Pada 7 Juni 2008, Jefri berada di taksi bersama ketua KNPB Buchtar Tabuni dan Assa Alua. Saat itu juga mereka sadar sedang diikuti. Polisi sedang menunggu dengan senjata lengkap, ketika mereka tiba di Abepura. Mereka tidak punya pilihan selain menyerah. Mereka dibawa ke Kepolisian Daerah Papua.

“Kami digeledah, barang-barang kami digeledah, semua diperiksa. Tas saya, kamera, buku catatan saya, itu diangkat semua, termasuk beberapa flashdisk,” kata Jefri.

Merunut ke belakang, Jefri yakin mereka telah dijebak. Situasi di Papua Barat saat itu tegang; KNPB telah memimpin sejumlah demonstrasi menuntut referendum di sejumlah daerah. Meningkatnya konflik dan diikuti kekerasan, terjadi penembakan di beberapa tempat—kejadian yang umum di Papua Barat dimana kekerasan diprovokasi oleh aktor-aktor yang tidak dikenal, mengubah demonstrasi damai menjadi situasi kacau.

Puncaknya, penembakan seorang warga negara Jerman di Pantai Base G di Sentani, Jayapura.

Pelaku penembakan itu tak pernah ditemukan, tetapi pihak berwenang menuduh KNPB. Dewan Perwakilan Rakyat Papua menyurati KNPB, mengundang mereka dalam sebuah pertemuan yang membahas penembakan itu. Juga diundang Pangdam Cenderawasih, Kapolda, dan sejumlah LSM. Buchtar Tabuni mewakili KNPB hadir, tetapi Pangdam dan Kapolda tidak muncul. Pertemuan itu ditunda hingga minggu berikutnya.

“Saya dan Assa Alua mendampingi Buchtar Tabuni segera pulang karena rapat dibatalkan. Rupanya itu diciptakan untuk menangkap kami,” kata Jefri.  (bersambung)

Bagian 2                         Bagian 3

Basilius Triharyanto adalah seorang penulis dan editor. Ia telah menulis dan mengedit sejumlah buku terkait hak asasi manusia, sejarah, dan masalah sosial.

*) Naskah ini pertama terbit di media New Naratif pada 2018. Laporan ini dipublikasikan kembali oleh penulis di laman Jubi.id,  untuk mengenang wafatnya Filep Karma, salah satu tokoh dan narasumber dalam laporan jurnalistik ini.

Tags: Mengenang Filep KarmaTahanan Politik
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Makar, Politik, Tahanan, Narapidana

Berulang dan berulang, pemindahan tahanan/narapidana politik ke luar Tanah Papua

October 14, 2025
Mahasiswa Papua

Mahasiswa Papua di Makassar desak bebaskan empat tapol

September 8, 2025

Presiden beri Amnesti, terpidana makar Viktor Makamuke resmi bebas

August 5, 2025

Penggunaan delik makar tak hanya menyasar ekspresi Papua merdeka

August 1, 2024

Prof Melkias Hetharia: Ekspresi Papua merdeka bukan makar

July 29, 2024

Penggunaan delik makar untuk bungkam aktivis malah suburkan gerakan Papua merdeka

July 27, 2024
Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Amnesty International Indonesia calls for end to killings of civilians in Papua
18 September 2026
Amnesty International Indonesia calls for end to killings of civilians in Papua

Jayapura, Jubi – Amnesty International Indonesia has called for an end to the killing of civilians in Papua by armed [...]

Dialogue and understanding Papua’s history key to peace, speakers say
18 September 2026
Dialogue and understanding Papua’s history key to peace, speakers say

Jayapura, Jubi — Pastor Yance Douw of the Jayapura Diocese says dialogue, access to information, solidarity and a better understanding [...]

The West Papua National Liberation Army (TPNPB) Kodap Ndugama claims responsibility for fatal shooting on Wamena-Nduga road
17 September 2026
The West Papua National Liberation Army (TPNPB) Kodap Ndugama claims responsibility for fatal shooting on Wamena-Nduga road

Jayapura, Jubi – The West Papua National Liberation Army (TPNPB) has claimed responsibility for the shooting that killed a driver, [...]

Governor urges South Papua residents to protect Payum coastal mangroves
17 September 2026
Governor urges South Papua residents to protect Payum coastal mangroves

Merauke, Jubi – South Papua Governor Apolo Safanpo has urged residents to protect and preserve mangrove forests along the coast [...]

Jayapura Police: 78 students detained during protest released
16 September 2026
Jayapura Police: 78 students detained during protest released

Sentani, Jubi – Jayapura Police said 78 students were detained while they were preparing to take part in a demonstration [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Meepago

Gubernur Nawipa: Kepala suku di wilayah Meepago adalah mitra pemerintah

September 18, 2026
Sekolah Rakyat

Pemerintah siapkan Rp1 Triliun untuk bangun Sekolah Rakyat di Papua

September 18, 2026
Mengolah sagu

Hutan sagu terancam: Tradisi masyarakat Kampung Yoboi tergerus

September 18, 2026
Vanuatu

Menteri Ati menyampaikan pernyataan Vanuatu di Sidang Umum PBB

September 18, 2026
Pendidikan

Anak-anak PNG diminta prioritaskan Pendidikan

September 18, 2026
Bougainville

Para pemilik tanah adat tambang Panguna di Bougainville adakan pembicaraan

September 18, 2026
Pegunungan Arfak

Mantan Bupati Pegunungan Arfak terpilih sebagai Ketua KONI Papua Barat

September 18, 2026
PNG

Susan Karike Huhume, perancang bendera nasional PNG

September 16, 2026
Bougainville

Para pemilik tanah adat tambang Panguna di Bougainville adakan pembicaraan

September 18, 2026
PM PNG

PM PNG serukan refleksi saat negaranya memasuki 50 tahun berikutnya

September 17, 2026
Hentikan pembununah warga sipil

Amnesty Internasional Indonesia: Hentikan pembunuhan warga sipil di Tanah Papua

September 17, 2026
kelapa sawit

Dua perusahan perkebunan kelapa sawit di Papua Barat diduga timbun limbah

September 16, 2026
wondama

Oknum Polisi di Teluk Wondama tabrak warga hingga tewas, Kapolres: Kami minta maaf

March 17, 2026
Kesehatan

Kementerian Kesehatan Vanuatu kirim pasokan darurat ke Pulau Ambae

March 17, 2026
Meepago

Gubernur Nawipa: Kepala suku di wilayah Meepago adalah mitra pemerintah

0
Sekolah Rakyat

Pemerintah siapkan Rp1 Triliun untuk bangun Sekolah Rakyat di Papua

0
Mengolah sagu

Hutan sagu terancam: Tradisi masyarakat Kampung Yoboi tergerus

0
Vanuatu

Menteri Ati menyampaikan pernyataan Vanuatu di Sidang Umum PBB

0
Pendidikan

Anak-anak PNG diminta prioritaskan Pendidikan

0
Bougainville

Para pemilik tanah adat tambang Panguna di Bougainville adakan pembicaraan

0
Pegunungan Arfak

Mantan Bupati Pegunungan Arfak terpilih sebagai Ketua KONI Papua Barat

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara