Sentani, Jubi – Sejumlah hotel di Kabupaten Jayapura, Papua mengalami tingkat keterisian atau okupansi yang tidak stabil atau menurun selama Januari 2024.
Fadly Trian Putra, Chief Accounting Hotel Grand Papua Sentani mengatakan okupansi hotel pada periode awal tahun ini menurun. Pada Januari 2024 okupansi hotel dengan 74 kamar itu sekitar 20 persen. Bila dibandingkan pada Desember 2023, okupansinya sebesar 70 persen dan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sekitar 80 persen.
Menurut Fadly, meskipun Januari termasuk low season, okupansi dari hotel berlantai tiga tingkat itu pada Januari tahun lalu lebih tinggi karena masih menjalin kerja sama dengan sejumlah maskapai. “Sedangkan per Januari 2024, sudah tidak ada kerja sama lagi,” katanya saat ditemui Jubi pada Senin (5/1/2024).
Untuk penggunaan balai riung (ballroom) sendiri, juga memiliki dampak. “Pastinya berdampak, biasanya ini paling banyak pemerintahan, mereka memesan paket residensial yang include dengan kamar, jadi pasti berdampak,” ujarnya.

Namun, memasuki minggu tenang, menurut Fadly, kegiatan dari instansi pemerintah berkurang. “Kita kan paling tinggi dari pemerintahan, mungkin sementara waktu kegiatan atau event dari pemerintah di-pending [ditunda],” katanya.
Di samping itu, lanjut Fadly, dari perusahaan (corporate) seperti BUMN juga menggunakan ballroom untuk rapat. “[Namun] mereka condong jarang memesan kamar, biasanya hanya makan dan minum,” katanya.
Senada, Lifranda Lafetania, Sales Executive Grand Allison Sentani mengatakan, okupansi hotel per Januari 2023 menurun dibandingkan Desember 2023. Per Januari 2024, dia menyebutkan okupansi sekitar 20-25 persen. Sedangkan Desember 2023 mencapai sekitar 50 persen.
Menurut Franda, menjelang pemilu dan pergantian di pemeritahan salah satu faktor yang memengaruhi turunnya hunian kamar. “Karena event-event dari pemerintah, mereka masih menentukan anggaran. tapi tidak menurun banget sih, masih ada beberapa yang masuk cuman [hunian] kamar sendiri agak menurun di Januari ini,” ujar Franda sapaan akrabnya.
Selain itu ia menambahkan, sementara ini jumlah kamar yang dijual hanya setengah dari 143 kamar yang tersedia. Hal itu karena sedang dalam perbaikan.
Untuk meningkatkan okupansi hotel, pihaknya menawarkan paket kamar untuk tiga hari dua malam seharga Rp1,1 juta. Dibandingkan harga normal per hari dipatok seharga Rp700 ribu per kamar untuk dua orang termasuk sarapan.
Nursyafika, Lead Accounting Grand Tahara Sentani Hotel & Convention, juga mengatakan okupansi pada Januari 2024 menurun. “Kan dari Desember high season, Januari tidak sampai seperti Desember. Januari ini sekitar 40 persen,” katanya.
Untuk menyiasatinya, Ify sapaan akrabnya mengatakan pihaknya melakukan kerja sama dengan pihak maskapai atau pemerintah.
Ify mengatakan menjelang pemilu, ada pengaruh untuk hunian hotel. “Kadang ada dari Provinsi Papua datang ke sini menginap, mungkin buat kampanye,” katanya saat ditemui Jubi pada Jumat (2/2/2024).

Ada yang menarik, menjelang Imlek, Ify menceritakan karyawan membuat kreasi lampion dengan memanfaatkan botol plastik bekas dari para tamu yang bermalam.
“Ada sekitar 50 buah botol yang sudah dikumpulkan dan digunting. Nantinya untuk bagian tengah diberikan balon merah. Cara membuatnya melihat dari tutorial di youtube,” katanya menjelaskan sambil menunjukkan contoh kreasi yang sudah jadi.
Rencananya, kata Ify, akan mulai digantung pada 7 Februari nanti. Sementara, baru botol yang telah digunting dan tutup botol yang semula berwarna biru dicat merah. Untuk balonnya, nanti akan menyusul, karena kalau dibuat lebih cepat takutnya, cepat mengempis sebelumnya dipajang. (*)





















Discussion about this post