Jayapura, Jubi – Penjual koran di pertigaan Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua, merasakan semakin berkurangnya minat pembeli. Ketinus Weya, yang telah puluhan tahun menjual koran Cendrawasih Pos di lokasi tersebut, mengeluhkan situasi ini.
“Anak-anak sekarang mendapatkan semua informasi lewat handphone (HP) Android, jadi setiap hari pendapatan saya sulit dan tidak sesuai harapan,” kata Ketinus Weya (62), asal Tolikara, Kamis (11/7/2024).
Weya mengungkapkan bahwa pendapatan dari menjual koran tidak lagi memadai. Menurutnya, sebelum penggunaan HP Android marak di Papua sekitar tahun 2010, koran masih diminati. Namun, sejak 2013 hingga sekarang, pembeli koran semakin berkurang.
“Zaman sekarang semua informasi lewat HP Android, jadi orang membeli koran tidak seperti dulu, sekarang lebih sepi,” ujarnya.
Weya mengatakan, setiap hari ia menerima 10 koran dari Cendrawasih Pos dan menjualnya dari jam 6-10 WP (Waktu Papua) pagi. Jika berhasil menjual semua koran, ia mendapatkan Rp30 ribu, namun sebagian besar harus dikembalikan ke instansi media bersangkutan.
“Pendapatan sulit. Jika saya menjual lima koran, saya hanya mendapatkan Rp15 ribu dan sebagian harus saya kembalikan. Jika menjual 10 koran, saya dapat Rp30 ribu dan sisanya saya kembalikan,” katanya.
Weya menambahkan bahwa pembeli hanya tertarik pada berita-berita menarik seperti penembakan antara TPNPB-OPM dan pasukan militer Indonesia, kebakaran, penikaman, dan informasi menarik lainnya.
“Itu juga mempengaruhi pendapatan saya. Dalam satu hari bisa menjual 10 koran semua,” katanya.
Pendapatannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun sering kali tidak mencukupi.
Satu di antara pembeli koran, Antoni Wenda, mengaku jarang membeli koran karena semua informasi bisa didapat melalui HP Android.
“Hari ini saya beli koran hanya untuk melihat informasi hasil seleksi jalur mandiri di kampus Uncen, tapi ternyata nama-nama tidak keluar di sini,” katanya.
Tren penurunan pembaca dan pembeli koran tidak hanya terjadi di Papua. Menurut data dari Nielsen, terjadi penurunan pembaca koran di Indonesia sebesar 6,4 persen setiap tahunnya sejak 2015. Selain itu, sebuah laporan dari Reuters Institute menunjukkan bahwa pendapatan iklan koran global mengalami penurunan sebesar 7 persen per tahun sejak 2010. Penurunan ini disebabkan oleh peralihan konsumen ke media digital yang lebih mudah diakses melalui perangkat seluler.
Dengan perubahan ini, Weya berharap agar ada solusi yang bisa meningkatkan kembali minat masyarakat untuk membaca koran cetak karena berpengaruh dengan pendapatannya. (*)




















Discussion about this post